SURAT GEMBALA Surat Gembala
Menciptakan Keinginan – 1
07 July 2019

Saudaraku,
Dulu kita berpikir bahwa Tuhan menggerakkan hati seseorang untuk berbuat sesuatu, maka sering kita berkata: “Tuhan, gerakkan hatinya untuk bertobat,” “untuk memberi,” “untuk ke gereja,” dan lain sebagainya. Dan itu sudah menjadi pengertian yang melekat di dalam benak banyak orang. Tanpa sadar itu menjadi premis dasar. Mari kita berpikir ulang, apakah itu benar?

Memang di dalam Alkitab kita menemukan beberapa kisah yang mengesankan bahwa Tuhan bisa menggerakkan seseorang melakukan suatu tindakan. Tapi kita tidak boleh bodoh. Kita harus memeriksa ayat demi ayat, kisah demi kisah yang berkenaan dengan hal ini supaya ajaran kita jangan meleset dan menyesatkan banyak orang. Kesalahan banyak orang adalah mereka tidak melihat latar belakang kisah itu. Mengapa Tuhan bertindak seakan-akan mengatur seseorang secara sepihak dan mengendalikan kehendaknya. Allah tidak mungkin menggerakkan seseorang melakukan suatu tindakan tanpa ada alasan. Sebab Tuhan memiliki tatanan di dalam diri-Nya; selain kesucian, kekudusan, kecerdasan, hikmat, juga keadilan-Nya. Kalau kita memperhatikan kisah-kisah tersebut, paling tidak pasti manusia yang memulainya terlebih dahulu dan Allah akan meneruskan atau mengokohkannya.

Saudaraku,
Tuhan pasti tidak mengambil alih kehendak seseorang, tapi Tuhan bisa mengarahkan orang itu untuk mengambil keputusan. Sementara manusia itu bertanggung jawab untuk menciptakan keinginan di dalam dirinya sendiri. Jadi, kalau selama ini saya berkhotbah “matikan keinginanmu”, itu bukan berarti tidak boleh punya keinginan, tapi hal itu berarti jangan memiliki keinginan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Oleh sebab itu, kita tidak bisa meminta Tuhan menaruh suatu hasrat dalam diri kita kecuali kita sendiri yang membangun hasrat itu. Dan Tuhan pasti mendengar, mengabulkan doa kita, kalau permintaan kita berkenan. Misalnya ketika kita mohon agar bisa sempurna. Tuhan menyetujuinya, tapi Tuhan tidak bisa menghapus keinginan dosa di dalam diri kita. Kita akan diberi situasi di mana Tuhan proses kita untuk membunuh keinginan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Maka di sini Allah bekerja dalam segala hal.

Manusia diciptakan dengan komponen untuk bisa menciptakan keinginan. Di dalam jiwa kita ada komponen yang diberikan untuk menciptakan kehendak atau keinginan. Kita bisa menciptakan hal-hal yang bisa merusak hidup atau membangunnya. Dan yang mengagumkan kita sekarang adalah, bagaimana Tuhan begitu berani menciptakan entitas seperti ini. Maka tidak heran kalau Lusifer bisa memberontak, Jadi ketika manusia jatuh dalam dosa, Tuhan punya aturan dalam diri-Nya dan Tuhan tidak bisa menyangkali sifat hakikat di dalam diri-Nya.

Jadi, dalam kondisi normal atau bahkan tidak normal, manusia bisa menjadi seperti yang diinginkan. Tentu dalam batas-batas tertentu. Dan tidak ada interfensi Tuhan yang memaksa orang itu untuk berbuat sesuatu, namun pasti orang tersebut memiliki tanggung jawab yang karenanya bisa dihakimi.

Saudaraku,
Ini kabar baik. Tuhan tidak mungkin menghalangi Saudara kalau mau jadi baik, Tuhan juga tidak mungkin mencegah kalau Saudara mau menjadi orang unggulan Tuhan. Masalahnya, keinginan kita kan bisa ditarik ini kemana saja. Setan atau kuasa dunia mengisi pikiran dengan banyak keinginan sampai tidak ada ruangan yang memadai guna mencari Tuhan. Seharusnya, keinginan kita ditarik sepanjang-panjangnya hanya untuk satu keinginan, yaitu menemukan Tuhan. Itu baru benar. Jangan ditarik sepanjang-panjangnya untuk banyak hal. Tuhan tidak berkenan.

Semua harus berjalan secara natural, secara normal, di mana manusia dilibatkan untuk boleh memilih apa mau jadi sempurna, cukup baik, atau jahat. Maka perhatikan apa yang Tuhan Yesus katakan dalam Lukas 14:33 “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” Jangan jadikan Tuhan menjadi salah satu keinginan kita; Tuhan harus jadi satu-satunya keinginan kita. Jadi, kalau ada kegiatan-kegiatan ini dan itu, ada keinginan ini dan itu, semua karena merupakan dukungan untuk pekerjaan Tuhan. Makanya, kalau sekarang kita punya kesempatan yang begitu luas untuk mengabdi dan melayani Tuhan, jangan sia-siakan. Kita tidak boleh tidak menciptakan keinginan, sebab kita harus menciptakan keinginan. Namun kita yang harus mengaturnya.

Saudaraku,

Untuk dapat mengarahkan keinginan kita ke arah yang benar, maka ada tiga hal yang harus kita perhatikan. Yaitu:
Pertama, berusahalah menemukan Tuhan. Karena kita belum menemukan Tuhan sebagaimana mestinya. Tuhan itu bukan dongeng. Tuhan itu real. Bukan omong kosong. Kalau Saudara masuk sebuah ruangan, lalu ada setannya, Saudara merasa sesuatu, ya kan? Kalau setan kehadirannya bisa dirasa, mestinya Tuhan bisa dirasa. Mestinya bisa. Tapi masalahnya, Saudara pantas tidak untuk merasakan kehadiran-Nya? Sebab hanya orang yang haus dan lapar akan kebenaran yang akan dipuaskan.

Kedua, capailah kesempurnaan setinggi mungkin. Sesempurna sempurnanya dalam segala hal.
Ketiga, lakukan semua demi keselamatanmu dan orang-orang yang kau kasihi. Siapa orang yang kamu kasihi? Dimulai dari dirimu sendiri. Sebab, kita tidak bisa mengasihi orang lain kalau belum mengasihi diri sendiri. Lalu keluarga, tetangga, kerabat, sampai kita bisa menangisi orang lain yang tidak sedarah sedaging dengan kita. Itu bagaimana bisa? Harus diciptakan. Ini yang mendorong Saudara untuk berani meninggalkan dosa dan bisa duduk diam berjam-jam di kaki Tuhan.

Teriring salam dan doa,
Erastus Sabdono