SURAT GEMBALA Surat Gembala
Menapaki Jalan Tuhan
19 January 2020

Saudaraku,
Tuhan tidak pernah bertindak tanpa alasan atau tanpa rencana. Allah bertindak dengan rencana atau rangcangan yang sempurna bagi setiap kita. Itulah sebabnya Tuhan berkata, “Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu.” Menapaki jalan Tuhan sama artinya dengan mengikuti jalan Tuhan. Tuhan mempersiapkan jalan yang harus kita lalui. Kalau kita mengerti dan mengikuti jalan yang Tuhan telah persiapkan tersebut, kita akan menjadi pribadi yang sesuai dengan kehendak Allah; pribadi yang menyukakan hati Allah.

Untuk menjadikan kita manusia seperti yang Dia kehendaki, Tuhan tidak membuat tindakan atau melakukan tindakan yang spektakuler. Tuhan harus menggunakan jalan-jalan yang Ia persiapkan. Mengapa Tuhan membuat rancangan itu? Kalau kita melihat sejarah perjalanan umat Perjanjian Lama, yaitu bangsa Israel, Allah bisa membawa bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan hanya dalam beberapa minggu. Namun, Tuhan membuat mereka berjalan berkeliling selama empat puluh tahun. Di dalam Firman-Nya, Tuhan mengatakan kalau Tuhan membawa mereka cepat-cepat sampai ke Kanaan, mereka akan kecewa. Mereka akan menghadapi bangsa Kanaan yang kuat dan mereka belum bisa menjadi bangsa yang mandiri, yang bisa membangun kerajaan dan mengatur masyarakatnya dengan baik. Jadi, empat puluh tahun di padang gurun itu adalah jalan Tuhan untuk bangsa Israel, mempersiapkan bangsa Israel untuk bisa mewarisi Kanaan.

Ini sama dengan bagaimana Tuhan mewujudkan rencana-Nya dalam kehidupan Yusuf. Ia harus melewati pergumulan-pergumulan untuk menjadikan Yusuf seorang penyelamat, yang menyelamatkan seluruh keluarganya (keluarga Yakub) dan juga masyarakat Mesir. Ini juga sama dengan bagaimana Daud, seorang gembala domba menjadi raja Israel yang kokoh, kuat, teguh, yang bisa mengurusi bangsa tersebut. Tuhan harus membawa Daud melintasi sekolah padang gurun. Penderitaan yang Daud alami merupakan jalan-jalan Tuhan baginya. Lihat bagaimana Tuhan memperhadapkan Daud dengan Goliat, sehingga ketika dia berhasil menggulingkan Goliat, itu merupakan awal karier Daud. Jika tidak ada Daud, bangsa itu sudah dilumat habis oleh bangsa Filistin karena memiliki seorang pendekar kuat yang bernama Goliat. Saul sendiri tidak mampu menghadapi Goliat. Daud yang menyelamatkan bangsanya. Daud juga harus tinggal di istana, melihat bagaimana kehidupan seorang bangsawan supaya suatu hari, kalau dia menjadi raja, dia tahu bagaimana menempatkan diri sebagai bangsawan. Daud banyak mengalami penderitaan. Itu semua adalah jalan-jalan Tuhan yang kemudian mengantar Daud menjadi raja Israel, simbol dari Mesias.

Saudaraku,
Setiap kita ini memiliki jalan Tuhan. Jalan Tuhan itu akan membawa kita kepada kehidupan yang penuh harapan. Namun, kehidupan yang penuh harapan itu bukanlah di bumi ini. Jelas, kalau bangsa Israel orientasinya adalah kehidupan di bumi. Namun kalau anak-anak Allah, harapan kita adalah di belakang langit biru. Tuhan memiliki jalan atas setiap individu yang akan mengantarnya sampai ke Kanaan surgawi. Namun, banyak orang tidak memedulikan sama sekali bahwa ada rancangan-rancangan yang ada pada Allah mengenai kita. Itulah sebabnya musuh terbesar yang tersembunyi adalah kewajaran hidup. Kita mau hidup wajar seperti manusia lain. Kita menjalani hidup tanpa mempertimbangkan bahwa sesungguhnya ada rancangan Allah yang harus kita ikuti; ada jalan Tuhan yang harus kita tapaki.

Dalam hal ini, kita tidak boleh mengalir saja. Mengapa? Ada jalan Tuhan yang harus kita lalui. Kita harus perkarakan ini dengan serius. Setiap keputusan yang kita ambil harus kita perkarakan: apakah itu jalan Tuhan yang harus kita tapaki atau bukan. Di dalam kebijaksanaan Allah yang hebat, Ia bisa membelokkan jalan salah yang telanjur kita tapaki. Jika kita benar-benar mau menjadi anak kesukaan Allah yang layak dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus, kita harus menapaki jalan Tuhan.

Roma 8:28-29 menunjukkan bahwa Allah membutuhkan sarana untuk mengubah kita, seperti Allah membutuhkan sarana untuk mengubah Yusuf, dari seorang anak yang manja menjadi seorang yang kuat. Yusuf tidak bisa diubah secara mistik, tetapi secara natural. Itulah jalan Tuhan yang harus kita tapaki. Tidak ada satu pun kejadian dalam hidup kita yang tidak ada maksud dan rencana Allah di dalamnya. Karena semua kejadian berbicara dan itu mempercepat kita mengalami perubahan, hargailah tindakan-tindakan Allah dalam jalan yang sedang kita tapaki.

Saudaraku,
Semua penderitaan yang Saudara alami: kekecewaan, kepahitan, kemiskinan, terbuang, dan pengkhianatan, itu menjadi nutrisi yang tidak bisa dibeli, tidak bisa ditukar. Itu adalah berkat, anugerah yang akan mendewasakan kita. Di situ, ada anugerah. Allah berkenan menggarap kita lewat semua masalah. Jangan merasa bahwa keadaan Anda memang demikian dan menyerah. Jadilah serupa dengan Tuhan Yesus, agar ketika kita menutup mata dan kita menoleh ke belakang, kita seperti bangun dari mimpi buruk dan melihat kemuliaan yang sekarang menjadi nyata, yaitu jika kita menapaki jalan Tuhan. Namun kalau seseorang tidak menapaki jalan Tuhan, ketika ia mati dan melihat kekekalan dan dirinya tidak layak untuk dimuliakan, dia seperti bangun dari mimpi indah dan menghadapi mimpi buruk yang menjadi kenyataan.

Sejujurnya, terkadang keadaan sulit membuat kita mencurigai Tuhan, walaupun kita tidak mengatakannya. Dalam kondisi tertentu, kita mempertanyakan Tuhan, hati kita merasa pahit. Kita tidak secara langsung terang-terangan mengatakan kekecewaan kita, tetapi di kedalaman hati kita, ada kekecewaan. Kita semua pasti mengalaminya. Padahal kita sudah melewati tahap demi tahap dan kita sudah melihat tangan Tuhan yang terulur menyertai kita. Setelah saya melewati banyak hal, akhirnya yang saya temukan adalah: Pertama, kita harus hidup tidak bercacat, tidak bercela. Yang kedua, kita harus hanya mengingini langit baru bumi baru. Yang ketiga, apa pun yang saya miliki, saya persembahkan untuk kepentingan-Nya. Tidak ada lagi yang saya pertahankan. Saya mengerti, sulit untuk menerima keadaan menyakitkan sebagai berkat. Namun, setelah kita melewati ini, kita akan bisa mengatakan bahwa jejak Tuhan itu sungguh sempurna.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono