SURAT GEMBALA Surat Gembala
Menahan Badai
11 August 2019

Saudaraku,

Oleh kasih Tuhan, Tuhan memberikan berkat, yaitu keadaan yang tidak nyaman. Orang Kristen yang benar tidak pernah berjalan tanpa badai. Dalam 2 Korintus 12:7-10 Paulus menyaksikan -tanpa malu-malu- bahwa ada sesuatu dalam hidupnya yang membuat dia tidak nyaman, yaitu duri dalam daging. Ia sudah minta berkali-kali kepada Tuhan untuk mencabutnya, tapi Tuhan menjawab: Anugerah-Ku cukup bagimu. Tuhan tidak mengambil duri dalam daging itu. Itu yang saya sebut badai.

Mengapa Tuhan tidak mengirim angin? Sebab kalau Tuhan memberi angin, orang tertidur. Tapi kalau Tuhan mengirim badai, orang berjaga-jaga. Sejatinya, ini berkat Tuhan, yaitu keadaan yang tidak nyaman. Itu bisa berupa keadaan ekonomi yang pas-pas-an, pasangan hidup yang tidak membahagiakan, mertua yang cerewet, saudara yang memfitnah dan lain sebagainya. Semua itu Tuhan izinkan.

Saudaraku,

Satu hal yang orang tidak sadari, bahwa setiap orang punya virus mental. Misalnya temperamen, tidak jujur, sombong. Dan ini dibangun dari pengalaman hidup. Dan ini tidak mudah sembuh. Dan manusia pintar menutupinya. Tapi yang paling menjadi badai hidup adalah kodrat dosa. Tapi setelah kita mendengar kebenaran, melihat kesucian Bapa, lalu kita membandingkannya dengan ketelanjangan hidup kita, Tuhan beri kita kecerdasan rohani sehingga kita bisa melihat cacatnya kita.

Tuhan yg benar adalah Tuhan yg tidak membahagiakan kita dengan dunia ini. Sebab kalau kita dibahagiakan oleh dunia ini -apakah itu melalui pangkat, harta, kedudukan- kita terikat olehnya. Allah memandang ke depan. Hidup di dunia cuma 70 tahun, dengan kondisi yang tidak menentu.

Dalam Lukas 12, Tuhan mengatakan bahwa hidup manusia tidak tergantung dari keadaan. Tuhan memandang ke depan bahwa kita adalah makhluk kekal. Oleh karena itu kita harus mengerti bagaimana mempersiapkan diri menghadapi dunia yang akan datang. Maka Tuhan memberi duri dalam daging, badai. Ini tatanan. Sebab ternyata badai-badai hidup itu justru mempersiapkan kita untuk kekekalan. Badai itu tidak akan melukai kita. Memang badai itu tidak akan surut -bahkan bisa bertambah kencang- tapi kita pun bertambah kuat. Kalau dulu kita mudah tersinggung, sekarang kita bisa teduh menghadapinya

Saudaraku,

Jadi kalau keadaan tidak berubah, kita yang harus berubah. Tuhan pun berkata: Setiap hari ada kesusahannya sendiri. Tapi cari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya. Sementara kita bertahan, kita membunuh kodrat dosa dalam diri kita. Kita tidak bisa menjadi rendah hati kalau kita tidak punya kesempatan untuk sombong. Nah bagaimana kita menghadapi itu? Kita bertahan, untuk menang.

Jadi kalau hari ini kita memiliki cara pandang yang benar, kita bersyukur. Sebab kita mengerti bahwa berkat itu bukan hanya ketika kita naik gaji, pasangan membahagiakan, mertua yang sangat pengertian, tapi berkat itu adalah kesukaran dan badai hidup yang menghampiri kita.

Pasti ada bagian dalam hidup kita yang membuat kita tidak nyaman. Tapi itulah berkat. Ibarat olahragawan, kalau kita tidak mau latihan dan memilih tidur, maka ia tidak pernah jadi juara, tidak pernah berprestasi. Bapa ingin kita berprestasi. Tapi ternyata itu tidak bisa dicapai tanpa perjuangan, tanpa badai.

Saudaraku,

Ketika kita melihat keadaan kita, ketika kita dalam badai, kita merasa Tuhan seakan-akan tidak ada, Ia seperti bersembunyi. Lalu bagaimana sikap kita? Paulus menasihati kita: ucapkanlah syukur dalam segala keadaan. Walau sejujurnya, ada persungutan dalam hati kita. Ada jeritan dalam jiwa kita: mengapa Tuhan izinkan semua terjadi?

Tapi di sini kita bisa mengukur, seberapa kita memercayai Dia. Tidak ada cacat cela dalam diri-Nya. Tuhan tida bisa dipersalahkan dalam hal apa pun juga. Justru dalam keadaan seperti ini kita belajar mengenal Tuhan dan menaruh percaya kepada-Nya secara total, tanpa syarat. Sampai kita bisa mengatakan sebagaimana Pemazmur menuliskannya dalam Mazmur 73:25-26 Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. Luar biasa Tuhan kita. Apa pun keadaan kita hari ini, mari kita belajar percaya kepada Bapa dan Tuhan Yesus. Ia tidak akan melukai kita.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono