SURAT GEMBALA Surat Gembala
Memiliki Hidup-Nya
30 June 2019

Saudaraku,
Tuhan Yesus datang ke dunia tidak bermaksud memberi satu agama baru atau sekadar mengajarkan tatanan etika atau hukum-hukum yang membuat hidup manusia lebih tertib. Ia datang memberi hidup-Nya, artinya Dia mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Itu benar. Tetapi kita harus menemukan isi dari keselamatan yang Dia berikan kepada kita. Ia datang memberi hidup-Nya, supaya hidup-Nya kita miliki. Tidak sedikit orang Kristen yang merasa sudah percaya kepada Tuhan Yesus dan mengikut Yesus karena beragama Kristen. Lalu merasa sudah lahir baru karena memiliki perilaku yang lebih baik. Dan mereka merasa pasti selamat.

Kalau Kekristenan kita hanya berhenti sampai di situ, kita belum memahami keselamatan yang Tuhan sediakan. Kita tidak cukup hanya meyakini bahwa Dia telah mati di kayu salib menebus dosa-dosa kita. Ia datang memberi hidup-Nya agar hidup-Nya kita miliki, artinya agar hidup-Nya kita peragakan. Jika tidak demikian, maksud keselamatan itu belum utuh. Ia datang memberi hidup-Nya agar kita memiliki hidup seperti hidup yang Dia miliki. Sebab kalau hanya menjadi orang baik, agama-agama di dunia mengajarkan kebaikan. Kalau hanya mau menjadi orang saleh dalam standar orang beragama, agama-agama di dunia menawarkan kesalehan, menawarkan pertobatan dari perilaku buruk, menjadi seorang yang berperilaku baik.

Saudaraku,
Maksud Allah menciptakan manusia adalah agar manusia menjadi anak-anak Allah. Itu bukan hanya sekadar status atau sebutan belaka, tetapi kita memiliki gambar dan rupa Allah. Lebih dari semua kebaikan yang Allah sediakan bagi manusia, inilah kebaikan di atas segala kebaikan. Kalau Bapa berkenan memberikan bagian diri-Nya bagi makhluk ciptaan yang disebut manusia itu, sehingga manusia dapat mengambil bagian di dalam kekudusan Bapa (Ibr. 12:10; 2 Ptr. 1:3-4), manusia dapat mengambil atau mengenakan kodrat Ilahi.

Ini luar biasa, tidak ada agama di dunia yang mengajarkan hal ini, bahwa manusia itu anak Allah. Dan memang manusia diciptakan dengan cara yang luar biasa, karena ketika Allah menciptakan manusia, Allah menghembuskan nafas ke dalam hidung manusia. Tetapi manusia jatuh dalam dosa. Manusia kehilangan kemuliaan Allah. Dan sejak itu, manusia tidak mungkin bisa mencapai standar kesucian Allah. Berterima kasih kepada Bapa di surga yang mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus, yang datang untuk menyelamatkan kita. Dia datang memberi hidup-Nya, sebab Dia Anak Allah. Dia yang bisa menampilkan kodrat Ilahi di dalam diri-Nya. Ia datang untuk mengembalikan manusia untuk bisa memiliki kemuliaan Allah tersebut.

Saudaraku,
Kelakuan baik seseorang tidak cukup dibangun dari pengetahuan apa yang baik dan jahat. Maka Tuhan berkata kepada Adam dan Hawa, jangan makan buah itu. ini pasti buah yang terkait dengan konsumsi jiwa atau pikiran. Ada banyak buah yang bisa dimakan, tetapi buah di tengah taman ini, ini bicara soal konsumsi jiwa atau konsumsi pikiran. Jangan kamu makan buah ini, sebab kamu tidak boleh membangun moralmu, kebaikanmu di atas pengetahuan apa yang baik dan jahat. Tetapi ternyata Adam dan Hawa memilih standar apa yang baik dan jahat.

Sebenarnya Allah bukan tidak ingin manusia memiliki pengetahuan apa yang baik dan jahat. Tuhan menghendaki manusia memiliki pengetahuan tentang apa yang baik dan jahat dari perspektif dari sudut pandang Tuhan. Itulah sebabnya kelakuan baik seseorang tidak cukup dibangun di atas dasar pengetahuan apa yang baik dan jahat, tetapi kelakuan baik yang mestinya dimiliki oleh manusia berstandar pikiran, perasaan Allah. Sehingga manusia tidak perlu dibayang-bayangi oleh hukum. Tidak perlu diatur oleh syariat dan peraturan-peraturan moral. Tapi manusia memiliki pikiran, perasaan Allah, sehingga segala sesuatu yang dia lakukan, dia pikirkan, dia ucapkan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Itu standar yang seharusnya dimiliki manusia.

Kekristenan hendak mengembalikan manusia kepada keadaan ini. Itulah sebabnya core business pelayanan bukan sekadar orang sakit menjadi sembuh, bukan sekadar orang miskin jadi kaya, tapi harus lebih dari sekadar memiliki persoalan lalu dibebaskan dari persoalan itu. itu membuat meleset maksud pelayanan yang Allah ingin kita gelar. Gereja tidak boleh menjadi tempat jual jasa; siapa yang sakit? siapa yang punya persoalan? Tapi gereja menjadi tempat di mana orang-orang berdosa dikembalikan ke rancangan Allah semula. Tidak melakukan itu berarti berkhianat kepada Tuhan; meleset.

Saudaraku,
Jadi kalau Alkitab berkata carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya artinya jadilah anggota keluarga Kerajaan Surga yang standarnya adalah Tuhan Yesus Kristus. Tuhan memberi hidup-Nya, supaya kita memiliki hidup-Nya. Dan puncak keberhasilan dari seseorang yang mengikut Yesus adlaah ketika dia berkata, “hidupku bukannya aku lagi, tapi Kristus yang hidup di dalam aku”. Waktu hidup kita sejatinya hanya untuk belajar bagaimana kita mengenakan hidup sebagai anak Allah. Yesuslah modelnya. Mestinya yang lain menjadi tidak menarik lagi. Kalau ada sesuatu yang menarik lebih dari ketertarikan kita mengikut Yesus, kita tidak bisa diubah.

Ketika Tuhan berkata di dalam Matius 7:21-23 Aku tidak kenal kamu, kepada siapa Dia berkata? Orang yang tidak melakukan kehendak Bapa. Siapa model anak manusia yang melakukan kehendak Bapa? Yesus, dimana prinsip hidup-Nya adalah: “Makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya”. Jadi kalau Saudara tidak melakukan kehendak Bapa, Saudara bukan anak Allah. Saudara boleh mengaku anak Allah, gereja boleh mensahkan dan melegalkan sebagai anak Allah, tapi hanya orang yang melakukan kehendak Bapa yang disebut anak-anak Allah. Saya khawatir Saudara yang selama ini sibuk dengan berbagai cita-cita, keinginan, ambisi, obsesi tapi Saudara tidak pernah melihat hidupmu dan bercermin pada Yesus, apakah kita menemukan wajah-Nya di dalam wajah kita? Ini berkat, yaitu ketika kita dibentuk oleh Tuhan karena kita rela meninggalkan dunia, tidak tertarik dengan dunia.

Teriring salam dan doa,
Erastus Sabdono