SURAT GEMBALA Surat Gembala
Memiliki Beban Terhadap Jiwa-Jiwa
08 January 2021

Saudaraku,

 

Alkitab mengatakan: “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,” artinya standar kita mengasihi orang berangkat dari kita mengasihi diri sendiri. Ini bukan kasih diri sendiri secara egois, melainkan kasih yang Allah berikan kepada kita. Pertanyaannya, mengapa Allah mengasihi kita? Supaya kita bisa mengerti nilai diri kita dan kita bisa mengasihi orang lain dengan benar.

Kita harus tahu bahwa manusia itu makhluk kekal. Nilai manusia itu lebih dari nilai apa pun di bumi ini, maka Tuhan Yesus berkata: “apa gunanya orang beroleh segenap dunia kalau jiwanya binasa?” Kita harus menyadari dan menghayati bahwa manusia itu makhluk kekal. Ketika Allah menciptakan manusia, manusia mendapat hembusan nafas Allah, itulah unsur kekekalan di dalam diri manusia. Itulah sebabnya dalam Yakobus 4:5 firman Tuhan mengatakan: “bukan tanpa alasan kalau Kitab Suci berkata roh yang ditempatkan dalam diri kita diingini dengan cemburu.” Maksudnya bahwa roh di dalam diri manusia itu roh yang berasal dari Allah. Dan itu abadi. Kalau dikatakan “dengan cemburu,” artinya Allah memiliki keberhakan; Allah ingin manusia pulang kepada-Nya, kembali kepada-Nya.

Saudaraku,

Terpisah dari Allah itu mengerikan. Banyak orang dalam keadaan ‘sakit.’ Yang dari kecil sudah mendapat lingkungan yang buruk, menikah mengalami kepahitan masalah keluarga, ekonomi, anak, suami, dan lain-lain lalu mati masuk neraka. Betapa mengerikan keadaan itu. Maka kita melayani sebagai ‘suster-suster-Nya’ Tuhan, merawat jiwa-jiwa supaya dikembalikan ke rancangan Allah semula dan layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Tetapi bagaimana kita bisa merawat orang dengan perjuangan dan pergumulan yang benar kalau kita tidak mengerti bagaimana merawat diri sendiri dengan benar? Mengasihi sesama seperti diri sendiri adalah mengasihi orang lain dengan standar mengasihi diri sendiri.

Bagaimana cara mengasihi diri sendiri dengan benar? Itu dulu yang harus beres. Banyak orang yang merawat tubuhnya begitu teliti dan giat, tapi tidak merawat jiwanya. Merawat baju atau pakaiannya, dandanannya, asesoris yang dibawa seperti tas dan lain-lain, tapi tidak merawat jiwanya. Bahaya. Orang seperti ini bisa terhilang. Dia tidak mengerti bagaimana mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri. Dia tidak tahu dan tidak bisa. Dia harus melihat dulu kebutuhan dirinya itu apa. Kalau orang belum menemukan kebutuhan dirinya dengan benar, bagaimana dia bisa mengerti kebutuhan orang lain dengan benar? Apa yang kamu suka orang lain perbuat kepadamu, buatlah untuk orang lain. Berbuat sesuatu untuk dirinya sendiri saja tidak benar, bagaimana mau berbuat sesuatu untuk orang lain? Bagaimana orang seperti ini dapat melayani sesama?

Saudaraku,

Di dalam Alkitab kita menemukan pernyataan Tuhan Yesus, bagaimana Tuhan Yesus meratapi Yerusalem. Dan dari apa yang dikatakan oleh Alkitab mengenai Yerusalem itu, kita merasakan kasih Tuhan kepada nilai jiwa. “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau” (Luk. 13:34).

Dia tidak meratapi keindahan kota itu yang akan dihancurkan oleh Jenderal Titus pada tahun 70. Bahkan Dia juga tidak meratapi Bait Allah secara fisik yang memang pasti akan hancur. Tetapi, tubuh Yesus itulah yang akan bisa menjadi gambaran Bait Allah, dan orang percaya juga tubuhnya adalah bait Allah.

Yesus menangisi Yerusalem. Apakah kita menangisi jiwa-jiwa yang terhilang itu? Jiwa-jiwa yang bernilai kekal yang adalah anak-anak Allah, yang Allah ingin kalau suatu hari meninggal dunia, rohnya kembali kepada Allah. Jiwa-jiwa atau manusia yang mau menjadi kawan sekerja Allah, di bumi ini bisa menjadi alat dalam tangan Tuhan. Dan jiwa-jiwa yang akan dengan tubuh kebangkitan atau tubuh baru, bersama-sama dengan Tuhan di Rumah Bapa.

Kalau orang tidak melihat nilai jiwa tapi melihat status, kecantikan, dan materi, pasti pelayanannya tidak terfokus dan tidak tepat; pasti meleset. Yang dilayani itu jiwa; bagaimana jiwa diubahkan. Tidak masalah apakah dia kaya atau miskin, tidak jelas statusnya, atau mungkin juga penampilannya tidak menarik, atau latar belakangnya buruk. Kalau seorang pelacur disambut Tuhan, wanita berdosa yang datang kepada Tuhan dengan membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi pun diterima-Nya; pelayanan kita pun harus sekualitas itu.

Maka orientasi pelayanan kita harus pada pemulihan jiwa. Jangan terpusat pada kegiatan. Ingat! jiwa yang dipulihkan. Bagaimana kita bisa memulihkan jiwa? Kita harus mengalami pemulihan dulu. Kalau orang mengerti nilai jiwa, apa yang dia lakukan itu menyentuh. Orang akan merasa sentuhan itu. Pesan yang disampaikan kepada objek yang dilayani adalah “kamu berharga.” Saya mengerti bahwa cara kita menghadapi seorang pejabat atau orang kaya, memang berbeda. Mereka memang orang-orang yang sering ingin diperlakukan khusus. Tidak apa-apa, kita beri perlakuan yang khusus. Bisa juga. Tapi jangan mengesankan bahwa kita menghargai dia karena kekayaan itu. Lalu yang menjadi korban adalah orang yang tidak kaya dan terhormat seperti mereka. Jangan sampai kita korbankan mereka yang lemah.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono