SURAT GEMBALA Surat Gembala
Memiliki Beban Terhadap Jiwa-Jiwa (2)
15 January 2021

Saudaraku,

Manusia adalah makhluk yang sangat berharga. Kita harus memiliki impartasi Ilahi, doa pribadi dan persekutuan dengan Tuhan. Perjumpaan-perjumpaan ini akan menularkan kepada kita perasaan Tuhan Yesus, bagaimana Dia menangisi jiwa-jiwa, bagaimana Dia memerhatikan setiap individu dan setiap individu itu berharga di mata-Nya. Mengapa kita berharga? Pertama, karena manusia memiliki keberadaan sebagai makhluk kekal. Kita tidak boleh punya fokus hidup yang lain. Untuk itu, kita harus menyelamatkan diri kita sendiri dengan benar dulu. Jangan memberi nilai diri pada materi, gelar, kedudukan, bukan di situ. Dan untuk itu, kita yang memberi nilai terhadap keadaan kita sendiri.

Jangan membuat bandrol harga pada seseorang dari statusnya, apakah dia pejabat tinggi atau orang kaya, atau bagaimana pakaiannya, melainkan nilai jiwanya. Memang ada orang-orang yang harus kita belaskasihani, tapi jangan memberi kesan bahwa dia orang rendahan yang harus dibelaskasihani. Itu diskriminasi, dan tanpa disadari membuat intimidasi, merendahkan orang. Seharusnya, kita bersikap biasa saja. Sikap kita akan menunjukkan kedewasaan kita. Kalau kita mengerti bagaimana mengasihi diri sendiri dengan benar—kita adalah makhluk kekal, jiwa kita berharga di mata Allah—kita dapat memperlakukan sesama dengan benar.

Tetapi, siapa pun dia, dia punya nilai jiwa yang kekal. Kalau kita lihat jiwa-jiwa yang kekal, hati kita miris dan sedih. Mari kita meneladani Tuhan kita, Yesus Kristus, yang mencintai individu per individu. Satu orang itu berharga. Maka dikatakan dalam perumpamaan domba yang hilang, meninggalkan yang 99 demi menemukan satu yang hilang. Jadi kalau kita melihat seseorang yang menjadi objek pelayanan kita, kita harus menilai dia seperti Tuhan menilai. Dalam Yohanes 4, kita membaca bagaimana Yesus di tengah-tengah keadaan-Nya yang lelah, Dia tidak memedulikan keadaan fisik-Nya dan lapar perut-Nya. Dia menantikan perempuan Samaria di perigi Yakub dekat kkota Sikhar, karena Ia menilai jiwa ini berharga.

Kedua, karena manusia adalah kawan sekerja Allah. Ketika Allah menciptakan langit dan bumi, manusia menjadi kawan sekerja Allah dalam karya penciptaan, artinya manusia dimandatkan untuk mengelola alam semesta. Maka bumi diciptakan dalam keadaan yang harus digarap. Dan agar manusia bisa mengelola ciptaan Allah ini, manusia diberi pikiran dan perasaan; manusia segambar dengan Allah, dan tentu dirancang untuk serupa; kita harus bermoral baik. Allah tidak memakai monyet atau hewan lain untuk karya penciptaan. Bahkan Allah tidak memercayakannya kepada malaikat, melainkan kepada manusia, yaitu Adam.

Tetapi manusia jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Sekarang, Allah memilih umat yang dikembalikan ke rancangan Allah semula; umat yang merupakan anak-anak Allah, menjadi kawan sekerja-Nya dalam keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus di kayu salib. Di kekekalan nanti, manusia kembali akan mengelola ciptaan Allah. Oleh sebab itu, harus dipahami bahwa orang percaya akan memerintah bersama dengan Kristus di Kerajaan Surga nanti. Dan manusia yang akan memerintah bersama Kristus harus orang-orang yang rela menderita bersama dengan Kristus. Untuk rela menderita, harus memiliki kualifikasi moral yang baik (Rm. 8:17). Jadi pelayanan kita itu fokusnya individu.

Ketiga, menghayati tragisnya hidup. Kalau Tuhan memberikan kepada kita proyek-proyek, kita bisa melihat penderitaan orang, itu bisa lebih merangsang atau menstimulasi kita untuk memiliki beban terhadap jiwa-jiwa tersebut. Dengan pengalaman bersentuhan dengan orang-orang yang memiliki penderitaan-penderitaan itu, kita bisa menghayati tragisnya hidup. Dunia ini tidak nyaman. Makanya kita tidak mungkin bisa bahagia sempurna. Kalaupun kita punya rumah, mobil, keluarga kita baik-baik, tapi kalau melihat orang menderita, kita juga tidak bisa senang. Jadi kita tidak bisa bahagia juga.

Kalau dulu, kita masih berpikir bagaimana mau punya rumah lebih besar, atau mau punya apa. Tapi sekarang, kita lihat orang jauh lebih menderita dari kita. Kita sudah tidak berpikir seperti itu lagi. Kita mau berkemas-kemas saja. Jadi, kita memiliki penghayatan terhadap nilai jiwa-jiwa.

Saudaraku,

Kalau kita memiliki beban yang benar, kita akan rela mengorbankan apa pun. Jadi ketika fokus kita adalah jiwa manusia, kita memiliki beban yang sungguh, kita tidak usah diminta pun kita sudah dengan sendirinya rela mengorbankan apa pun yang kita miliki. Tidak usah tarik-tarik orang dengan paksa untuk melayani Tuhan. Maka, kita sendiri dulu yang merasakan kasih Allah itu. Kasih Allah yang tidak didasarkan pada suksesnya anak-anak kita dalam studi, yang tidak didasarkan pada ekonomi kita yang baik, materi yang cukup sehingga bisa jalan-jalan ke luar negeri atau beli barang. Bukan di situ. Tetapi kasih Allah yang didasarkan pada keselamatan jiwa, bagaimana Allah menghargai jiwa kita, merubah diri kita untuk menjadi manusia Allah supaya kita bisa layak melayani Tuhan di bumi ini, dan nanti mendampingi Tuhan Yesus Kristus di Kerajaan Surga.

Orang yang menjadi sales biasanya berusaha untuk punya sebanyak mungkin konsumen, sampai kadang memohon-mohon. Kenapa kita tidak tekun bagaimana bisa membawa orang ke Kerajaan Surga untuk Tuhan? Kenapa kita tidak sungguh-sungguh menarik orang ke Kerajaan Surga? Kalau demi keuntungan sedikit orang sampai minta belas kasihannya kepada kita, kenapa kita tidak sungguh-sungguh untuk membawa orang ke dalam Kerajaan Surga? Seperti Nuh, yang menarik-narik orang masuk bahteranya. Ayo, kita memiliki pikiran dan perasaan Tuhan.

Seperti yang dikatakan dalam Yohanes 6, ketika Yesus melihat orang banyak yang sudah berhari-hari mengikuti-Nya, dimana mereka kekurangan makanan, Yesus menaruh belas kasihan dan Dia berkata kepada murid-murid-Nya, “kamu harus memberi mereka makan.” Mereka berkata, “Tuhan, uang dua ratus dinar tidak cukup untuk orang sebanyak ini.” Kata Tuhan, “kamu harus beri mereka makan.” Itu adalah hal mutlak harus dilakukan. Beban-beban seperti ini kalau bisa ada dalam hati Saudara, luar biasa. Banyak orang membutuhkan pertolongan kita. Miliki beban yang sungguh-sungguh, dengan mengerti nilai jiwa manusia, mendapatkan impartasi penularan spirit dari Tuhan Yesus, dan lihat betapa tragisnya hidup ini. Ketika kita menghadapi orang yang hidupnya menderita, yang gagal dalam kehidupan ini, kita bisa mengatakan: “Ayo, kita pulang bersama ke surga, di mana tidak ada lagi penderitaan.”

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono