SURAT GEMBALA Surat Gembala
Memilih Taat
30 August 2020

Saudaraku,

Tidak ada orang yang lebih beruntung daripada orang yang hidup tidak bercacat tidak bercela. Sejujurnya, telah banyak dosa dan kesalahan yang kita lakukan di masa lalu. Kita menjadi anak-anak Allah yang tidak menyenangkan hati-Nya. Sekarang, kita mulai mau benar-benar hidup tidak bercacat tidak bercela, berapa pun harganya. Lebih baik kita kehilangan segala sesuatu daripada kita melukai hati Bapa di surga. Lebih baik kita kehilangan apa pun, asal jangan melukai hati Allah. Biarlah kerinduan ini menyala di hati kita. Yang kadang-kadang pudar, bahkan padam, di waktu kita sedang asyik dengan kesenangan-kesenangan dunia. Tetapi kita mau memilih taat.

Di dalam daging kita ini, mengalir rekaman nafsu, di jiwa kita mengalir hasrat keinginan, dan banyak orang kecanduan untuk memuaskan keinginan diri sendiri. Tetapi kita yang mengasihi Tuhan, kita memilih untuk taat. Saya bergumul sungguh-sungguh untuk bagaimana mematikan daging ini, tetapi mengapa tidak mati-mati? Sampai kemudian, saya mulai mengerti yang ditulis dalam Roma 7:21-26, pergumulan Paulus melawan dirinya sendiri. Jadi, kodrat dosa ini tidak bisa mati dalam sesaat. Kita yang harus membunuhnya lewat proses perjalanan waktu. Kita harus memilih taat atau tidak taat, di setiap kasus yang kita hadapi.

Ada banyak kesempatan untuk kita berbuat salah, memuaskan keinginan daging. Dan setiap kali kesempatan itu datang, pada waktu itu kita dihadapkan dengan pilihan: membunuh kodrat dosa kita agar kodrat ilahi dihidupkan, atau kita tetap menyerah pada kodrat dosa yang mengalir dalam daging kita. Saat seperti itulah, saat di mana kita belajar untuk menyangkal diri. Dan itu tidak mudah. Mari kita membayangkan, bagaimana orang-orang Kristen terdahulu teraniaya, tetapi tidak menyangkali imannya kepada Tuhan. Oleh sebab itu, Saudara jangan berpikir bahwa mengikut Yesus itu gampang. Justru malah mencari masalah, karena kita tidak bisa hidup wajar. Kita mengikut Yesus yang rela meninggalkan segala kemuliaan, keagungan, dan dalam segala hal Ia disamakan dengan manusia. Sekarang bagaimana kita rela kehilangan segala hak-hak kita?

Kekristenan yang sesungguhnya itu simple, tetapi luar biasa sulitnya. Memang pada saat kita mulai mengikut Yesus, kita belum mengalami atau merasakan hal itu. Tetapi makin ikut Tuhan Yesus, nanti kita akan melihat irisan kesucian yang begitu tajam yang harus kita miliki. Tidak boleh lagi ada percintaan dunia di dalam diri kita, dan kita mulai sadar betapa mudahnya kita ini meleset. Betapa mudahnya kita berbuat dosa. Berbuat dosa tidak perlu berzina, mencuri, atau membunuh. Kesombongan, keakuan, mau dianggap penting, mau dianggap hebat, mau dianggap pintar, mau dianggap terhormat, mau dianggap berjasa, itu pun hal-hal yang tidak patut kita lakukan.

Maka saya mengajak Saudara semua, temui Tuhan, kenali Tuhan, alami Tuhan. Kalau Dia hidup, kita harus mengalami-Nya. Sampai kita memiliki hati yang bergelora untuk bisa menyenangkan Dia, dalam segala hal. Sebab, Allah memiliki perasaan. Ia melihat hidup kita setiap saat, dan kita harus menghidupkan Dia di dalam hidup kita.

 

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono