SURAT GEMBALA Surat Gembala
Memercayai Allah Yang Benar (1)
09 February 2020

Saudaraku,

Kita harus hidup di hadapan Tuhan dan memercayai Allah yang benar. Dan menerima sepenuhnya bahwa Allah yang benar ini layak untuk dipercayai. Walaupun sering Allah tidak menunjukkan bukti-bukti kehadiran-Nya secara fisik maupun nonfisik. Memercayai Allah bukan karena kita sedang ada dalam satu masalah dan mengharapkan pertolongan-Nya. Memercayai Allah bukan hanya karena kita sedang dalam ancaman dan memercayai perlindungan-Nya. Memercayai Allah berarti kita berani melakukan apa yang benar dan berkenan di hadapan-Nya, sekalipun Allah tidak menunjukkan bukti-bukti keberadaan-Nya.

Di tengah-tengah keadaan manusia yang nihilistis—dimana orang tidak percaya Allah itu ada dan memandang Allah tidak perlu ada karena semua bisa berjalan dengan baik—kita harus berani memandang Allah yang tidak kelihatan dan memercayai Dia.

Orang yang menerima perlindungan Tuhan haruslah orang yang layak untuk dilindungi; dan orang yang layak untuk dilindungi adalah orang yang hidupnya bersih. Kalau hidupmu tidak benar, kamu tidak layak dilindungi Tuhan. Jadi, memercayai kehadiran Allah dan perlindungan serta penjagaan-Nya tidak bisa dipisahkan dari kesediaan kita untuk melakukan kehendak-Nya.

Dalam memercayai Allah, harus percaya yang tidak bersyarat. Tentu bukan karena kita melihat atau mengalami tanda-tanda sebelum atau sesudahnya; bukan karena mengerti. Kadang-kadang banyak peristiwa yang Tuhan izinkan yang tidak kita mengerti, namun kita harus tetap percaya kepada-Nya.

Jadi, kalau berkata “Yesus baik” itu bukan karena sekadar Dia bisa membantu kita melewati masalah, bisa menerima pemenuhan kebutuhan jasmani. Semua harus diarahkan pada rencana agung-Nya untuk mendewasakan kita. Kita percaya walaupun kita tidak mengerti, bukannya kita percaya karena kita mengerti. Sesuai Firman Tuhan, kalau kita tekun memercayai Allah, maka kita akan mengalami Tuhan dan memiliki kesaksian dalam batin kita bahwa Dia hidup dan nyata.

Kita sering diizinkan Tuhan berada dalam keadaan sulit, terpuruk, tertindas. Nama baik kita dihancurkan dan seakan-akan kita tidak pernah bisa bangkit lagi. Dan Tuhan seakan-akan tidak peduli. Lalu kita mau menjadi “juruselamat” bagi diri kita sendiri, tanpa minta petunjuk Tuhan kita menggeliat untuk menyelamatkan diri sendiri. Di situ kita akan kehilangan kehadiran-Nya. Kalaupun kita menggeliat, merespons keadaan itu dengan tindakan tertentu, kita harus minta pimpinan Tuhan. Namun tidak jarang Tuhan menyuruh kita untuk diam.

Kalau jujur, ada orang-orang yang kecewa dan marah kepada Tuhan. Kekecewaan dan kemarahannya itu ditunjukkan dengan tidak ke gereja lagi, lalu hidup di dalam dosa. Ada yang kekecewaannya ditunjukkan dengan pindah agama. Orang-orang seperti ini berpikir bahwa Tuhan adalah penyebab dari segala malapetaka dan bencana dalam hidupnya. Padahal, segala sesuatu yang terjadi mempersiapkan kita untuk kekekalan. Makin pedih, makin pahit yang kita alami di bumi, kita akan menjadi produk yang makin baik dan unggul.
Maka, kalau fokus hidup kita di kekekalan dan kita percaya bahwa perjalanan hidup kita hari ini adalah persiapan untuk kekekalan, makin berat masalah yang dihadapi makin menjadi produk unggulan, maka apa pun keadaan keadaan kita, kita bisa tetap berkata, “aku percaya kepada-Mu.”

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono