SURAT GEMBALA Surat Gembala
Membuat Allah Tersenyum
09 October 2020

Saudaraku,

Kalau kita ada sebagaimana kita ada hari ini, kita hidup dalam pemeliharaan-Nya yang sempurna, hidup dalam bimbingan Allah yang sempurna. Bahkan, kalau kita saat ini bisa membaca Firman seperti ini, itu karena Allah merancang sesuatu yang indah, dan melampaui yang kita pikirkan; keindahan yang melampaui apa yang kita bayangkan.

Dalam hidup, kita diperhadapkan kepada momentum atau saat yang sangat berarti bagi diri kita, namun ternyata bagi orang lain juga, yaitu keluarga, sahabat kita, bagi orang banyak, bahkan bagi keturunan kita di waktu yang akan datang. Keputusan kita untuk memindahkan hati dari bumi ini ke surga sungguh hal yang luar biasa. Kalau kita berani, hidup kita tidak sama. Perubahan terjadi ketika kita memindahkan hati dari dimensi kefanaan atau dimensi temporal hari ini ke dimensi kekekalan. Saat-saat yang penting yang Tuhan berikan, itu menentukan keadaan hari esok kita di kekekalan, dan itu memengaruhi bukan saja kita, namun orang di sekitar kita juga, keturunan kita.

Semua orang tidak mau masuk neraka. Namun, seberapa serius kita menghargai waktu atau kesempatan yang ada? Jangan sampai kita kehilangan kesempatan. Di dalam Efesus 5:14-17 firman Tuhan mengatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” Ini sebuah peringatan. Sebab rupanya tidak sedikit orang Kristen yang “tidur.” Kata “tidur” di sini dalam teks aslinya adalah to fall asleep; tertidur, ketiduran; katheudōn (καθεύδων), maksudnya “tidak bermaksud tidur tapi jatuh tidur.”

Tertidur pasti mengantuk, tapi masih punya kemampuan bangun. Kalau dia tidak mau bangun, tidak bisa bangun. Makanya firman mengatakan, “bangkitlah kamu.” Masalahnya, kita sering malas-malasan. Enak kalau kita tidak perlu bangun, masih melanjutkan tidur. Tapi ketika kita melihat jam lalu terpikir pekerjaan yang harus diselesaikan, rasa kantuk kita bisa lenyap dan kita bangun. Tinggal bagaimana tekad kita. Sekarang, pesan Tuhan ini seperti membangkitkan kita untuk bangun. Tapi kalau Saudara tidak mau bangun, masih mau mencintai dunia, mau menikmati nafsu dagingmu, kalau masih mau memuaskan jiwamu, Saudara tidak bisa bangun. Hati-hati! Saya juga membangunkan diri saya sendiri terus.

Kita tidak bisa membuat Allah Bapa kita senyum, kalau kita tidak memiliki standar hidup seperti Yesus. Kalau hanya baik, Bapa belum bisa senyum. Kalau bisa membuat Allah Bapa tersenyum setiap hari, malaikat pun ikut senang. Kita tidak menjadi warga yang asing di Kerajaan Allah. Kalau nanti kita mati, kita pasti dijemput malaikat kudus. Waktu kita masuk surga, penduduk surga akan melihat kita dan berkata, “ini orang yang sering membuat Bapa di surga tersenyum.” Mahal harganya. Harganya adalah seluruh kehidupan kita.

Saudaraku,

Ini kesempatan yang berharga. Kita mau menyenangkan hati Bapa di surga dalam segala hal yang kita lakukan. Walaupun Tuhan itu senyap, seakan-akan tidak ada, kita meyakini dan memang demikian, Dia hidup. Apa pun masalah kita hari ini, jangan menganggap itu sebagai bencana, prahara, malapetaka, dan kesialan. Itu nutrisi jiwa yang tak ternilai, yang menggiring kita kepada kekekalan.

Iblis dengan segala kelicikannya—juga dalam senyap—membuat banyak orang percaya jatuh tertidur, sehingga menabur dalam daging, bukan menabur dalam roh. Hal-hal yang tidak perlu dipersoalkan, dipersoalkan; hal-hal yang tidak perlu mengganggu perasaan kita, menjadi mengganggu. Mestinya tidak ada yang mengganggu perasaan kita, kecuali ketika kita melukai hati Allah. Tidak ada yang kita ingini, kecuali sesuatu itu adalah sesuatu yang menyenangkan hati-Nya. Kalau Bapa bertanya kepada kita, “apa yang kau minta dari pada-Ku?” Kita minta satu hal saja: “buat aku bisa menyenangkan Engkau, Bapa. Buat hidupku menyenangkan Engkau setiap saat. Buat aku bisa menyenangkan Engkau setiap saat.”

Jadi, kalau Alkitab berbicara mengenai hukum tabur tuai, sesungguhnya tekanannya bukan pada berkat jasmani, melainkan bagaimana mempersiapkan diri untuk menuai kemuliaan bersama Kristus, sebab yang menabur dalam daging akan menuai kebinasaan; yang menuai dalam roh, menuai kemuliaan. Menabur dalam roh artinya hidup di dalam penurutan terhadap kehendak Allah, terhadap keinginan Roh Kudus yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Bukan uang dulu yang harus kita persembahkan, melainkan hati yang mencintai Dia, dan cinta kita kepada Tuhan diwujudkan dengan hati, perkataan, tindakan yang bersih.

Kesempatan demi kesempatan Tuhan berikan untuk meraih berkat kekal-Nya. Kalau seseorang mau memperoleh kesempatan seperti ini, Tuhan memberi tak terbatas, tapi tergantung apakah kita memanfaatkannya atau tidak. Jangan sampai kita kemudian menjadi bebal dan tidak pernah mengerti kesempatan yang telah Tuhan berikan itu. Sekarang, kesempatan itu masih ada!

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono