SURAT GEMBALA Surat Gembala
MEMAKSA DIRI MENCINTAI DIA
05 July 2020

Saudaraku,

Untuk percaya kepada Allah yang tidak kelihatan, membutuhkan keberanian dan kenekatan. Bagaimana percaya kita menjadi benar? Bagaimana percaya kita menjadi sempurna? Kita bukan hanya meyakini Dia ada dan kita memaksakan diri memercayai Dia, melainkan juga memaksakan diri untuk mencintai Dia. Seiring dengan itu, kita juga memaksakan diri untuk menghormati Dia; Dia yang tidak kelihatan, kita percayai, tapi juga kita cintai, dan juga kita hormati.

Dan sebagai wujud dari cinta dan penghormatan kita kepada-Nya, kita paksakan diri kita untuk hidup suci, untuk melakukan apa yang tidak mendukakan hati-Nya, yang kita mulai dari hal-hal yang kita pandang salah. Masalah hari ini, orang hanya berusaha percaya tentang keberadaan-Nya, tapi tidak memaksa diri untuk mencintai dan menghormati Dia.

Untuk dapat mengalami Dia, kita harus memaksa diri hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Memaksa diri kita untuk menaruh seluruh hidup kita bagi Dia, yang karenanya kadang-kadang kita merasa “sakit.” Tapi itulah cara kita untuk mengalami Dia. Ironis, kita hanya sampai pada wilayah “yakin” tentang keberadaan-Nya, tapi tidak membakar hati kita dengan hati yang mencintai Dia, menghormati Dia. Di situ akan tampak apakah kita serius berurusan dengan Dia atau tidak.

Betapa mudahnya bicara tentang Tuhan, tentang “apa itu percaya,” apa itu lahir baru, apa itu bertobat, dan berbagai rumusan dan definisi, tetapi ternyata semua itu tidak mengubah. Segudang karya ilmiah teologi ditulis, segudang buku yang kita baca tidak membuat kita takut akan Allah secara benar. Tapi, ketika kita memaksa mencintai Dia, memaksa untuk menghormati Dia—dan kita buktikan dengan melakukan apa yang berkenan, kita memaksakan diri mempersembahkan hidup kita untuk Dia, memaksakan diri melayani Dia dengan tugas-tugas pelayanan yang kita kerjakan dengan sebaik-baiknya—baru kita bisa mengerti apa artinya mengalami Tuhan.

Namun ini tidak mudah. Daging kita tidak suka. Siapa yang mau dirugikan, berkorban sendiri sementara yang lain tidak berkorban? Belum lagi, kita sudah berkorban namun masih disalahkan. Siapa yang mau? Tapi kita memaksa diri untuk taat. Jadi, percaya berarti mengasihi Dia, menghormati Dia, melayani Dia, menyerahkan segenap hidup kita tanpa batas kepada-Nya.

 

Teriring salam dan doa,

 

Erastus Sabdono