SURAT GEMBALA Surat Gembala
Martabat Manusia (2)
12 May 2019

Saudaraku,

Sampai hari ini banyak orang sibuk untuk mengejar yang namanya martabat. Mereka yang ada di lingkungan akademisi, mau gelar. Mereka yang ada di dunia bisnis, mau uang. Mereka yang ada dalam dunia politik, mau memiliki kekuasaan. Mereka yang ada dalam berbagai bidang hidup, mau pangkat. Bahkan, para hamba Tuhan pun bukan tidak mungkin sibuk dalam pelayanan juga untuk sebuah martabat.

Sejatinya, di dalam diri kita ada dua manusia, yaitu manusia lama dan manusia baru. Dan betapa cerdik dan cerdasnya manusia lama ini untuk mendapatkan sanjungan, pujian, nilai diri di mata manusia. Jadi kalau kita belajar kebenaran Firman Tuhan dengan tekun, kalau kita menyediakan waktu setiap hari bertemu dengan Tuhan, makin hari kita akan melihat ada dua manusia di dalam diri kita. Seperti yang dikatakan oleh Paulus dalam Roma 7:21, aku tahu apa yang baik, tapi yang jahat aku lakukan. Ini bukan baik menurut hukum Taurat. Karena kalau ditinjau dari hukum Taurat, Paulus mengatakan, aku tidak bercacat (Flp. 3:6). Ini bicara mengenai baik dalam ukuran Tuhan.

Sejujurnya, makin tua kita makin cerdas dalam berdiplomasi, dalam menampilkan keramahtamahan yang dibuat-buat, dalam mengaktualisasi diri. Artinya kita mau ditinggikan, dihormati, mau dianggap someone, orang penting. Oleh sebab itu kita tampilkan sesuatu yang kita miliki, something. Apakah itu sebuah kesaksian atau cerita, bahkan tidak punya apa-apa pun pasti punya kebanggaan. “Opa saya dulu bupati di sana”, “Saudara saya kepala bagian kantor itu”, pokoknya apa pun yang bisa kita “jual”, kita “jual”. Maka jangan heran kalau orang mudah tersinggung. Jangan heran kalau orang direndahkan atau di-bully di medsos jadi murka, karena mereka memiliki harga diri yang tidak mau ditindas. Tapi kalau kita mengerti bagaimana cara Tuhan menghancurkan harga diri kita, kita akan mengalami hal-hal itu; direndahkan, difitnah, dan lain sebagainya. Masalahnya, bagaimana reaksi kita sebagai anak Allah? Jawabannya terdapat dalam Matius 5:39, Tuhan mengatakan: Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

Saudaraku,

Memang setiap kita punya kepribadian yang berbeda-beda. Tapi dasarnya adalah karakter Yesus. Maka kita harus memiliki pengalaman pribadi dengan Tuhan, supaya Tuhan bisa mencetak kita menjadi satu pribadi yang agung seperti yang Dia rancang. Tidak ada seorang pun kita yang sama, dan ini kekayaan Kerajaan Allah. Dan Bapa ingin kita menjadi manusia-manusia yang agung, menurut ukuran-Nya. Dan itulah martabat kita. Jadi kalau hari ini secara materi Saudara tidak memiliki banyak atau tidak berpendidikan tinggi, tidak masalah dan jangan merasa kurang bermartabat. Sebaliknya, Saudara yang kaya jangan merasa bermartabat karena fasilitas tersebut. Kita berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah sebagai anak Tuhan yang mau membangun martabat anak Allah. Sekarang masalahnya, seberapa tinggi martabatmu sebagai anak-anak Allah?

Pada saat kita menghadap Tuhan, baru tahu siapa kita masing-masing. Jangan bela diri. Tuhan akan membela pekerjaan-Nya. Maka hidup kita ini harus jadi pekerjaan Tuhan. Pekerjaan Tuhan itu adalah kesucian hidup kita; lewat setiap kata yang kita ucapkan, setiap pikiran, dan setiap gerak hidup kita. Di situlah kita menghormati dan menyembah Bapa. Dan itu adalah sebuah keadaan, bukan sepotong kalimat yang kita ucapkan ketika kita menyanyi atau berdoa.

Saudaraku,

Sikap menghormati Bapa seperti yang ditunjukkan Tuhan Yesus, itulah martabat kita. Kita masih punya waktu membangun martabat. Martabat kita harus dihubungkan dengan moral yang barstandar Tuhan Yesus. Maka, jangan cari martabat di bumi ini, mari kita cari martabat di hadapan Tuhan. Biar orang tidak menilai kita apa-apa, tapi Tuhan yang menilai. Makin tua kita makin dilupakan orang, tidak masalah, yang penting kita diingat Tuhan.

Oleh karena itu, mari kita hidup sesuai kehendak Allah, mari kita membangun martabat Ilahi. Itu namanya mengumpulkan harta di surga. Dan ini harus menjadi satu-satunya kesukaan kita. Begitu kita bangun pagi, kita memiliki kesempatan untuk mengumpulkan harta di surga. Kita mulai dari menit pertama, menit kedua; jam pertama, jam kedua; hari pertama, hari kedua dan seterusnya. Tidak ada cara lain untuk membangun martabat sebagai anak Allah kecuali hidup seperti hidup yang diperagakan oleh Tuhan Yesus. Setiap kita harus memiliki hubungan pribadi, membangun sebuah karakter seperti Yesus dan berkepribadian yang agung, khas, unik yang dimiliki masing-masing individu, yang berbeda dari yang lain. Jangan punya kesenangan yang lain. Saudara lakukan ini, sebelum terlambat!

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono