SURAT GEMBALA Surat Gembala
Martabat Manusia 1
05 May 2019

Saudaraku,
Sejak kita dari kecil telah mengasup filosofi dan cara berpikir orang tua, keluarga, dan masyarakat di sekitar kita; yang karenanya kita menjadi seseorang yang diwarnai dan dibangun oleh cara berpikir yang kita serap tersebut. Hal inilah yang membuat kita sebenarnya bisa dikatakan sebagai anak dunia. Meskipun banyak orang Kristen mengaku sebagai anak Allah. Padahal anak Allah itu bukan sekadar status, tetapi keberadaan. Kalau keberadaan seseorang belum memancarkan pribadi Bapa, mestinya dia tidak patut mengaku anak Allah. Manusia boleh mengakui, gereja boleh melegalisir, tetapi kalau di mata Tuhan kita tidak bermartabat anak Allah, kita tidak akan diakui. Martabat anak Allah itu ditandai satu hal, yaitu melakukan kehendak Bapa. Melakukan kehendak Bapa ini sebenarnya kristalisasi, ekspresi, perwujudan dari iman atau percaya kita.

Percaya artinya menyerahkan diri kepada obyek yang dipercayai. Kalau kita mengaku percaya kepada Tuhan, kita harus mengerti kehendak-Nya dan melakukannya. Melakukan kehendak Tuhan pasti intinya hanya satu: apa yang Bapa kehendaki untuk kita lakukan, kita lakukan. Masalahnya, tahukah kita apa yang Bapa kehendaki? Tentu bukan hanya menjadi orang baik menurut hukum, tetapi Roh Kudus yang ditaruh di dalam diri kita menuntun kita kepada seluruh kebenaran, dan kita harus hidup seturut dengan kehendak Bapa, yang pasti disuarakan Roh Kudus di dalam diri kita tersebut.

Saudaraku,
Martabat seseorang biasanya ditentukan oleh tingkat sosial ekonomi. Makin kaya, makin bermartabat. Hari ini, siapa orang yang tidak menghargai orang kaya? Orang kaya itu dinilai bermartabat tinggi. Martabat orang juga diukur dari pangkat. Siapa yang tidak menghormati seorang yang berpangkat tinggi? Siapa yang tidak menghormati orang yang memiliki kekuasaan? Kalau dalam dunia akademis, gelar. Makin tinggi gelarnya, makin bermartabat. Sementara yang lain mengejar popularitas. Dan orang terus menggeliat untuk menemukan apa yang dapat membuat dirinya bermartabat. Yang sama dengan berderajat tinggi di mata manusia. Jadi kemartabatan hidup yang dipahami oleh manusia pada umumnya itu sesat. Tetapi itulah yang telah mencengkeram jiwa banyak manusia. Maka Paulus mengingatkan kita untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus (phroneo). Sehingga cara berpikir kita diubahkan, sudut pandang kita, perspektif kita memandang hidup ini diubahkan. Ini sulit, karena kita akan melawan arus dunia dengan ukuran yang sesat itu.

Ini tidak berarti kita tidak boleh kaya, berpangkat, berpendidikan tinggi, berkuasa, atau popular. Tetapi perlu dipertanyakan, apakah kita berjuang meraih semua itu untuk kepentingan Tuhan atau kepentingan diri sendiri? Firman Tuhan mengatakan, baik kamu makan atau minum, atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua itu untuk kemuliaan Allah. Sebab kamu telah dibeli dan harganya lunas dibayar, bahwa kamu bukan milik kamu sendiri. Jadi kalau kita menerima penebusan oleh darah Yesus Kristus yang membuat kita menjadi milik-Nya, mestinya kita tidak memiliki hak. Maka apa pun yang kita miliki, yang karenanya kita membangun martabat, harus kita lepaskan.

Saudaraku,
Memang tidak mudah untuk mengubah cara berpikir yang sudah salah selama puluhan tahun. Tetapi Tuhan menuntun kita. Bicara mengenai ketiadamustahilan bukan hanya bicara mengenai kuasa Tuhan yang supranatural, bukan hanya bicara sesuatu yang spektakuler secara jasmani atau lahiriah. Bicara mengenai kuasa Tuhan, juga bicara mengenai kemampuan yang Allah berikan supaya kita keluar dari cara berpikir yang salah itu.

Di dalam 2 Petrus 1:3-4, Firman Tuhan mengatakan: karena kuasa Ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh  oleh pengenalan kita akan Dia,  yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat Ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. Kita harus mengenakan kodrat Ilahi, sebagaimana yang telah dikenakan oleh Tuhan kita, Yesus Kristus, yang mengosongkan diri, meletakkan semua martabat-Nya. Dialah contoh dari sosok seorang yang bermartabat Ilahi. Jadi kalau kita berbicara mengenai martabat, mari kita tidak mengarahkan kepada hal yang menyangkut ekonomi, gelar, pangkat, kekuasaan, popularitas, dan lain sebagainya. Sebab hanya orang-orang yang bermartabat tinggi menurut ukuran Tuhan, yang akan diperkenan masuk ke dalam keluarga Kerajaan Surga. Tetapi orang-orang yang tidak bermartabat sebagai anak Allah -yang ditandai dengan tidak melakukan kehendak Bapa- Yang Mulia Yesus akan berkata, “Enyahlah daripada-Ku, hai kamu pembuat kejahatan”.

Teriring salam dan doa,
Erastus Sabdono