SURAT GEMBALA Surat Gembala
Manusia Surgawi
29 January 2021

Saudaraku,

Untuk menjadi manusia surgawi, ada beberapa prinsip yang harus kita perhatikan. Pertama, hidup manusia itu tragis. Saya tidak bermaksud membuat Saudara-Saudara menjadi pesimis, tidak bersemangat menghadapi hari esok. Justru Saudara akan menjadi optimis, tapi optimis kita bukan kehidupan di bumi. Hidup ini tragis karena manusia pasti mengalami kematian. Saya tidak bisa menasihati orang-orang yang tidak bisa menghayati tragisnya hidup, dan tidak sedikit orang percaya dinasihati masih tidak mau mengerti. Sebab dia berharap dunia ini menjadi Firdaus. Dia akan menuntut keadaan atau siapa pun untuk bisa menciptakan Firdaus dalam hidup. Padahal apa pun yang dicapai manusia, akhirnya akan lenyap begitu saja. Kita semua melangkah untuk menuju satu ujung kehidupan, dan kita tidak tahu kapan berakhirnya.

Yang kedua, karakter manusia yang sudah rusak. Karakter kita sendiri rusak, karakter orang lain rusak. Dengan rusaknya karakter manusia ini, tidak mungkin bisa menikmati kebahagiaan secara maksimal. Mau kaya bagaimana pun, mau berkedudukan tinggi bagaimana pun, mau cantik bagaimana pun tidak mungkin kita bisa menikmati kebahagiaan secara maksimal. Maka seiring karakter kita yang diubahkan Tuhan, kita akan menikmati damai sejahtera Allah yang membelenggu hidup kita sehingga kita tidak terikat dengan dunia, dan itu merupakan persiapan kita untuk memasuki kehidupan yang sempurna. Jadi, karakter itu penting. Tidak ada orang yang karakternya buruk bisa bahagia. Makin buruk atau jahatnya karakter, makin ia tidak menikmati damai sejahtera. Kalaupun seakan-akan memiliki damai sejahtera, itu semu.

Yang ketiga, segala sesuatu akan berakhir. Kalau kita ingat ini, kita tidak akan menjadi serakah, tidak menjadi rakus. Kita baru bisa mengenakan yang dikatakan firman Tuhan, “asal ada makanan, pakaian, cukup.” Sampai kita bisa berkata: “Yesus cukup bagiku.” Jika kita memiliki prinsip ini, maka dalam menghadapi segala keadaan kita menjadi sangat kuat. Jadi kalau Saudara menyadari bahwa Tuhan menghendaki kita mengumpulkan harta di surga, artinya hati kita memang tidak boleh terikat dengan dunia. Kita menjadi manusia yang mau menghiasi diri kita untuk persiapan menjadi mempelai Tuhan. Namun kalau orang fokusnya sudah dunia hari ini, pasti ia membuat bagaimana hidupnya berbunga seindah-indahnya.

Oleh sebab itu, harus dimengerti dan diterima bahwa hidup manusia bukan hanya di bumi. Jangan berpikir seakan-akan tidak ada dunia lain atau kehidupan lain, seakan-akan kehidupan hanya di bumi ini. Ini membuat kita tidak pernah menjadi manusia surgawi. Saya belajar bertahun-tahun sampai bisa menembus batas. Bahwa hidup yang sesungguhnya itu nanti. Sekarang ini perjuangan, di sini kelelahan, keletihan, mengubah karakter. Itu memang sulit sekali. Mempersembahkan hidup, mengabdi bagi Tuhan itu berat sekali. Tetapi, hidup ini tidak lama. Untuk menyongsong kehidupan yang akan datang, aku harus berjuang.

Sejatinya, hidup yang sesungguhnya bukan di sini. Jadi jangan merasa gagal lagi. Apa pun yang kita hadapi hari ini, kita jalani saja. Hidup yang sesungguhnya itu nanti, di dunia yang akan datang yang sering kita katakan langit baru bumi baru. Prinsip hidup seperti ini akan membuat kita kuat sekali, menjadi orang yang tahan banting. Pokoknya kalau menghadapi masalah, kita berkata: “dunia ini bukan rumahku,” itu cukup membuat kita menjadi kuat. Menjadi sanggup menghadapi segala keadaan yang kita akan alami. Mari kita menanti dunia yang akan datang itu.

Jangan terjebak lagi dengan pengharapan palsu dari dunia. Jadi kita tidak harap lagi dunia ini membahagiakan kita karena dunia sudah menjadi hunian yang rusak. Dunia ini produk gagal. Bapa kita mau menyediakan tempat di sana, di surga. Di dunia ini, kita menghadapi perang, sakit-penyakit, penindasan, kemiskinan, berbagai bencana, krisis, kematian orang yang kita cintai, pengkhianatan, ketidaksetiaan. Pada mulanya, Allah tidak merancang dunia seperti ini, tapi dunia ini sudah rusak karena manusia sudah jatuh dalam dosa.

Sebagai orang percaya, kita harus memiliki ikatan surgawi, bukan ikatan duniawi. Ikatan surgawi adalah kerinduan kita untuk benar-benar bertemu dengan Tuhan. Kerinduan untuk masuk surga, untuk masuk langit baru bumi baru. Kalau Saudara bisa menyeberangkan hati ke situ, masalah besar apa pun jadi tidak berarti. Pengharapan ini menguduskan. Dengan pengharapan ini, kita tidak ingin berbuat dosa. Jadi Saudara pegang prinsip ini. Saudara pasti jadi rohani, tidak pelit, tidak sewenang-wenang kepada orang, tidak menjadi sombong, kalau menghadapi penderitaan bisa lebih tahan dan kokoh, kalaupun jadi kaya dan diberkati tidak menjadi sewenang-wenang terhadap orang lain. Seberangkan hati Saudara ke langit baru bumi baru. Jangan menunggu “nanti.” Harus memiliki tekad. Tekad kita harus benar-benar bulat dan utuh, hati kita penuh.

Jalani hidup ini, nanti pada ujungnya kita akan memasuki kekekalan. Dimulai hari ini. Yang sudah terjadi, lupakan. Jangan membelenggu hidupmu. Yang sedang berlangsung, juga jangan membelenggu hidupmu. Persiapkan dirimu untuk sampai pada titik akhir perjalanan hidup di bumi ini, dan kita akan mulai memasuki masa transisi yaitu menuju kekekalan. Hidup baru kita mulai sekarang, tidak akan berakhir, tetapi berkelanjutan terus sampai kekekalan. Bagi kita, kematian bukan akhir perjalanan hidup melainkan sebuah jembatan menuju kehidupan yang lebih baik, transisi kepada kekekalan.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono