SURAT GEMBALA Surat Gembala
Manusia Masa Depan
20 October 2019

Saudaraku,

Kalau kita sungguh-sungguh memilih Yesus sebagai Juruselamat dan mengakui Dia sebagai Tuhan, itu berarti kita harus bersedia untuk menjadi manusia masa depan. Tuhan Yesus berkata, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini. Jadi kalau kamu percaya kepada-Ku, kamu ikut Aku, kamu harus membangun Kerajaan yang akan datang, bukan kerajaan di bumi ini.” Namun sebenarnya tidak banyak orang yang sungguh-sungguh konsisten memilih Tuhan, konsisten untuk menjadi manusia masa depan yang meletakkan seluruh fokus hidupnya untuk Kerajaan Tuhan Yesus yang akan datang. Sedikit sekali orang yang sungguh-sungguh konsisten di sini. Banyak orang seperti mau menawar, padahal jelas sekali Injil Matius 6:24 mengatakan, “kamu tidak dapat mengabdi kepada dua tuan,” harus salah satu. Dan banyak orang tidak mau menerima, tidak mau mengerti. Ia merasa tidak menyangkal Yesus, ia merasa mengikut Yesus, merasa melayani Tuhan Yesus, merasa ada di pihak Tuhan. Benar, di pihak Tuhan. Tetapi apakah Saudara masih menyisakan untuk pihak lain, bahkan untuk dirimu sendiri?

Lukas 4:26-33, “Sebab kalau kamu mengikut Aku, kamu harus membenci apa pun bahkan nyawamu sendiri.” Ini kalimat paradoks yang maksud sebenarnya adalah demi pengabdianmu kepada-Ku, demi kecintaanmu kepada-Ku, maka yang lain engkau abaikan. Tetapi kalau seseorang sungguh-sungguh mengabdi kepada Tuhan, maka ia baru mengerti apa artinya mengasihi orang-orang yang harus dia kasihi secara patut, proporsional. Jadi kata “membenci” di sini bukan berarti secara harafiah kita mengusahakan kecelakaan orang lain, tapi kesediaan kita mengabaikan apa pun dan siapa pun demi pengabdian kita kepada Tuhan.

Saudaraku,

Kita tidak akan pernah menyesal kalau kita memenuhi apa yang Tuhan Yesus katakan ini, sebab suatu hari nanti kita akan berhadapan dengan Maharaja ini, kalau kita percaya. Dan itu realitas. Kita mungkin bukan siapa-siapa di mata manusia, atau bahkan dipandang buruk, tidak masalah. Sebab pada saat di mana semua manusia harus menghadap takhta pengadilan Kristus (2Kor. 5:9-10) semua kita akan telanjang di hadapan Tuhan. Dan Tuhan pasti tahu, apakah kita mengabdi kepada Tuhan sesuai dengan standar-Nya (segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan kekuatan) atau tidak. Kita yang harus merajut hal ini. Kita tidak boleh berprinsip “mengalir saja”. Kita yang harus mendesain keadaan ini. Dan ini tatanan, sebab Tuhan memberi kehendak bebas dari pikiran dan perasaan yang kita miliki, kita dapat memiliki kehendak, kita menciptakan kehendak. Kehendak ini mengarahkan hidup kita ke Kerajaan Terang atau kerajaan kegelapan.

Ironi, banyak orang tidak berani atau kurang berani menaruh percayanya kepada Tuhan Yesus. Masalahnya kita yakin tidak kalau Yesus itu Raja yang akan datang membangun Kerajaan Kekal? Pasti tidak bahwa Dia akan datang di awan-awan permai menjemput kita, orang percaya? Dalam 2 Korintus 5:9-10 dikatakan setiap orang akan memperoleh apa yang patut diterimanya, baik atau jahat. Kira-kira Saudara menerima berapa banyak? Berapa banyak yang kita akan terima, apakah bisa dihitung sekarang, diperkirakan? Kita tidak tahu nominal atau angkanya, tetapi kira-kira kita pasti bisa menduga kalau kita belum sepenuhnya, dapatnya juga belum sepenuhnya karena yang kita tabur itu kita tuai. Tapi kalau sepenuhnya, kita yakin bahwa kita akan beruntung.

Saudaraku,

Saya bisa mengerti gejala jiwa dimana saya tidak mau menerima firman yang mengatakan “kamu tidak bisa mengabdi kepada dua tuan”. Sebenarnya tidak mau menerima, karena kita masih menyisakan kesenangan atau hal-hal tertentu yang kita mau nikmati. Di hati kecil, kita berkata “aku tidak akan mengkhianati Engkau, Tuhan. Aku mau sungguh-sungguh. Tetapi kalau 100%, jangan dulu.” Sebenarnya begitu. Tapi karena anugerah Tuhan tadi, kita dipaksa. “Tuhan, kalau masih ada yang kusisakan dalam hidupku, ambillah.” Padahal waktu diambil, sakit. Tetapi karena kita belajar Firman dengan cara berpikir yang diubah ya sudah, kita bersedia. Dan ini pun proses.

Ini standar Alkitab, saya tidak mengada-ada. Adapun nanti penerapannya, implikasinya, masing-masing kita berbeda sesuai dengan umur rohani kita dan juga sesuai dengan seberapa Saudara berani investasi, karena Tuhan tidak memaksa. Kalau saya mengajak Saudara untuk nekat. Dalam perjalanan hidup kita, ketika kita menaruh hidup kita kepada Tuhan Yesus, kita harus belajar bagaimana menaruh hidup untuk Yesus itu. Tuhan akan tolong dan bimbing kita. Yang saya pahami tentunya adalah manusia batiniah kita diubah dulu. Dan itu harus berangkat dari kesediaan kita menyalibkan diri dan daging kita.

Oleh sebab itu cara berpikir kita harus diubah, walaupun sebenarnya ini simultan (bersama-sama), seiring dengan pertumbuhan kedewasaan kita, seiring itu pula Tuhan menuntut waktu, tenaga, pikiran, dan apa pun yang kita miliki berjalan seiring. Itu tergantung kita punya tekad seberapa kuat untuk sungguh-sungguh memenuhi yang Tuhan katakan “kamu tidak bisa mengabdi kepada dua tuan”. Jadi kalau saya mengatakan: “Tuhan Yesus, aku memilih Engkau,” sebenarnya secara tidak langsung saya bicara kepada diri saya sendiri: “Ingat! kamu sudah memilih Tuhan. Jangan puaskan daging ini, jangan punya ambisi apa pun, kamu tidak boleh mengingini apa pun yang Tuhan tidak ingin kau ingini.” Itulah mati sebelum mati. Tetapi kalau kita percaya bahwa ini pilihan kita, kita melakukannya dengan sukacita, yang walaupun kita juga harus berperang dengan diri kita sendiri. Makanya kita harus terus memperbaharui penyerahan kita, memperbaharui komitmen kita.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono