SURAT GEMBALA Surat Gembala
Kondisi Ekstrem
28 July 2019

Saudaraku,

Dengan kondisi ekstrem seseorang dibawa Tuhan kepada suatu level atau keadaan kerohanian di mana ia bisa menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaannya. Hal ini harus terjadi berhubung dunia sekitar kita ini fasik, yang telah membentuk hidup kita sedemikian rupa. Apalagi pada zaman Perjanjian Lama, di mana kebahagiaan seseorang itu bertumpu kepada kebutuhan jasmani. Hal itu menggiring orang untuk memiliki filosofi duniawi. Pemazmur dibawa kepada kondisi ekstrem, yaitu ketika dia melihat orang jahat subur, senang selamanya, tidak pernah mengalami kesulitan/kesukaran hidup. Sementara dia yang menjaga jalan hidupnya malah kena tulah dan hukum setiap pagi, hatinya merasa pahit, buah pinggangnya menusuk-nusuk rasanya. Ini suatu kondisi ekstrem.

Tetapi kondisi ekstrem inilah yang membuat ia bisa melekat kepada Tuhan. Dalam kesaksiannya dia berkata “Dengan nasehat-Mu Engkau menuntun aku dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.” Tentu ini bukan kemuliaan secara duniawi seperti yang dilihat pada orang-orang fasik. Jadi, kalau ada orang yang diberkati Tuhan kondisi hidupnya baik, tapi justru dia tidak mengingini Tuhan, ia menjadi fasik. Tuhan akan pukul dia, dibawa kepada kondisi yang ekstrem. Itu menyakitkan, tapi ini baru nyaris celaka. Yang benar-benar celaka adalah ketika seseorang dalam kondisi nyaman, ekonomi baik, tubuh sehat, tidak mengalami kesulitan sama sekali, semua lancar sampai ia mati tanpa mengalami pembentukan Tuhan.

Saudaraku,

Sejatinya, tidak harus dalam kondisi ekstrem baru kita bisa berkata: “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau, selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Tapi, terus terang, jarang sekali orang bisa ekstrem terhadap Tuhan tanpa kondisi ekstrem. Mestinya dalam kondisi yang makmur, subur, nyaman, kita sudah sungguh-sungguh memindahkan hati ke surga. Dan kalau kita benar-benar mau, Tuhan pasti akan menuntun kita.

Namun orang yang dibawa kepada kondisi ekstrem -supaya bisa memindahkan hati ke surga- juga tidak dialami semua orang. Itu hanya dialami oleh orang yang mengasihi Tuhan. Nyatanya banyak orang Kristen yang hari ini tidak bermasalah, kelihatannya mereka itu diberkati Tuhan, menjadi orang istimewanya Tuhan, tetapi mereka tidak memiliki satu kerinduan untuk mencari Tuhan, mengenal kebenaran-Nya, bertumbuh dalam Tuhan. Habis hidupnya untuk segala kesenangan. Kalau beli barang anggarannya tidak terbatas, tapi kalau membantu orang sangat terbatas. Sekali kau jatuh akan hancur, kata Alkitab. Jadi bagi Saudara yang sekarang dalam kondisi ekstrem, bersyukurlah. Temukan maksud Tuhan di balik keadaan ini. Jangan menggeliat hanya karena mau keluar dari kondisi ekstrem, tapi menggeliatlah agar kita dapat keluar dari karakter yang buruk, dari hati yang duniawi, dari pikiran yang tertuju kepada perkara-perkara dunia. Walau kita belum bisa mengerti mengapa, tapi seperti Mazmur 73 mengatakan, “Aku dungu dan tidak mengerti seperti hewan.” Inilah orang-orang yang dikasihani Tuhan, orang yang mendapat kasih karunia.

Saudaraku,

Idealnya adalah kita tidak perlu dipukul, kita sudah memindahkan hati di surga, supaya kita bisa efektif untuk Tuhan. Maka apa pun yang kita miliki hari ini gunakan untuk kepentingan Tuhan, jangan untuk menikmati hidup di bumi. Kita bekerja, cari uang untuk mengawal pekerjaan Tuhan. Sejujurnya, sudah sulit menemukan orang yang seperti ini. Ada, tapi sedikit sekali. Sebab untuk sampai level di mana orang berkata: “Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi,” ini memang level yang luar biasa tingginya, kita akan diproses luar biasa. Tapi orang seperti ini kalau suatu hari nanti ketemu Tuhan, betapa bahagia. Tuhan berkata, “Ini hamba-Ku. Dia melayani Aku.”

Makanya karakter kita harus diubah, itu semua diproses. Baru kita menjadi efektif buat Tuhan. Jadi kalimat baik kau makan atau minum, lakukan semua untuk kemuliaan Tuhan, itu berarti kita tidak berhak menikah kalau Tuhan tidak suruh kau menikah; kita tidak berhak punya anak kalau Tuhan tidak kehendaki kita punya anak; kita tidak berhak berbuat apa pun kalau bukan untuk kepentingan Tuhan. Coba kita renungkan, kalau kita bisa membuat hati Tuhan semesta alam -Allah Bapa yang Mahamisteri, yang mempunyai segala kuasa kemuliaan dan Kerajaan- bisa disukakan oleh seorang anak manusia seperti kita, itu prestasi mahatinggi dari semua prestasi kehidupan.

Kapan kita bisa menyenangkan hati Tuhan? Pertama, waktu kita punya kesempatan berbuat dosa, menyenangkan dagingmu dan jiwamu, tapi tidak kita lakukan. Jadi, ketika kita punya kesempatan berbuat dosa, justru itu kesempatan membahagiakan Tuhan. Kedua, ketika kita melepaskan apa yang kita cintai untuk kepentingan Tuhan. Ketika Tuhan menuntut kita untuk mempersembahkan sesuatu, hal itu karena Tuhan memandang kita sudah layak untuk diajak sepenanggungan dengan Tuhan. Makanya orang tidak bisa menjadi orang kepercayaan Tuhan dalam sekejap

Saudaraku,

Pasti kita akan dibawa ke situasi itu, sebab Tuhan ingin kita menyenangkan Dia. Tuhan beri kesempatan. Kesempatan untuk menyenangkan diri sendiri atau menyenangkan Dia. Di dalam segala hal, Tuhan akan menggarap kita. Sebab tidak mungkin orang yang karakternya berantakan diajak menderita bersama Tuhan. Nanti latihannya itu hari-hari hidup kita. Di situ waktu menjadi begitu berharga dalam hidup kita. Dalam kegalauan hidupmu bagaimanapun, temukan kesempatan untuk menyenangkan Tuhan dan beri diri sepenuhnya untuk Tuhan. Dia punya segala kuasa kemuliaan dan Kerajaan, Dia akan mengatasi semua masalah dengan mudah. Tapi bukan itu yang menjadi kebahagiaan kita. Yang membuat kita tetap mencari Tuhan dan bahagia adalah bagaimana menempatkan diri kita secara benar di hadapan Tuhan.

Jangan lirik kuasa-Nya, tapi lirik hati-Nya; bagaimana kita bisa membahagiakan-Nya. Tuhan akan tuntun kita. Sebenarnya Kekristenan yang benar dimulai dari hal-hal sederhana setiap hari yang Tuhan izinkan kita alami, yang di dalamnya Tuhan disukakan. Sehingga apa yang kita lakukan dengan hidup sesuai kehendak Tuhan adalah karena kita mau efektif bagi Tuhan. Ini sebenarnya langkah berlindung kepada Tuhan, bukan hanya untuk masalah jasmani, tapi sampai kekekalan.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono