SURAT GEMBALA Surat Gembala
Komponen Diri Yang Siap Dibentuk
26 January 2020

Saudaraku,

Satu hal yang Saudara harus tahu, perasaan kita sangatlah situasional. Di situasi tertentu, kita bisa mengasihi Tuhan. Namun, di situasi yang lain, kita bisa tidak menghormati Tuhan. Jadi, kalau Tuhan mengizinkan ada situasi-situasi tertentu, kita sebenarnya sedang dibentuk Tuhan lewat situasi itu. Yang mana, tanpa situasi tersebut, tidak akan ada proses perubahan. Kita bisa berkata, “Ubah hatiku,” tetapi Tuhan akan berkata, “Aku tidak bisa mengubah hatimu tanpa persoalan ini karena kamu pun telah diubah dunia melalui kejadian-kejadian.” Itulah sebabnya Allah bekerja dalam segala hal untuk mengubah kita. Kita hanya kadang-kadang lupa bahwa itu berkat. Ada berkat di balik pergumulan, persoalan, kesukaran, dan pencobaan. Tidak ada kejadian yang terjadi secara kebetulan.

Di dalam diri kita ini, Allah menempatkan komponen yang sangat berharga, yang bisa dibentuk menjadi harta abadi milik Tuhan. Kalau sampai dikatakan “berharga di mata Allah,” itu karena Allah menikmati dan memilikinya. Kita ini milik Tuhan. Firman Tuhan mengatakan, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat. 22:37). Namun, ayat berikutnya berbunyi, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:39). Kalau kamu tidak bisa mengasihi dirimu sendiri, kamu tidak bisa mengasihi orang lain karena standarmu mengasihi orang lain adalah mengasihi dirimu sendiri. Kalau kamu benar dalam mengasihi dirimu sendiri, kamu pun akan benar dalam mengasihi orang lain.

Kita harus menyadari bahwa ada bahan yang bisa dibuat menjadi luar biasa di mata Allah, yang dikatakan “sangat berharga di mata Allah.” Jadi, adalah suatu kehormatan bagi saya untuk bisa melayani Saudara supaya menjadi sangat berharga. Hanya masalahnya, banyak Saudara yang belum terbuka pikirannya. Saudara ke gereja itu seperti pasien masuk rumah sakit, lalu keluar tanpa perawatan. Saudara tidak berambisi untuk menjadi sangat berharga di mata Allah, sehingga kejadian-kejadian yang Tuhan izinkan untuk kita alami itu tidak kita hargai. Kita harus menghayati bahwa semua ini mahal harganya. Suatu hari nanti, ketika kita di Kerajaan Allah, kita baru bisa menghayati kebesaran Allah, kedahsyatan-Nya, dan kita bisa terkagum bagaimana Allah yang besar dan dahsyat bisa mengurus kita satu per satu, padahal kita bukan siapa-siapa. Karena itu, hargailah dirimu, tetapi jangan menghargainya secara salah!

Saudaraku,

Kita harus menghargai diri kita karena ada komponen di dalam diri kita yang luar biasa, yang bisa dibentuk oleh Allah, Arsitek Jiwa yang Agung, untuk menjadi sangat berharga di mata-Nya. Suatu hari, ketika kita menutup mata, itu merupakan harta kekal yang kita miliki: manusia batiniah kita. Janganlah kita bisa dibahagiakan oleh dunia ini, sehingga kita disandera oleh dunia. Kita bisa jalan-jalan, melihat pemandangan alam indah, atau makan enak, tetapi tidak disandera oleh semuanya itu. Jelas, semua yang diberikan Tuhan ini bisa kita nikmati, tetapi kita tidak disandera. Masalahnya, kalau sudah sampai tingkat disandera, itu menjadi percintaan dunia. Salah satu cirinya adalah orang merasa tidak lengkap dan tidak bahagia kalau tidak memiliki atau mengalami hal tertentu.

Sebenarnya, dunia tidak bisa menuntut kita. Kitanyalah yang memberi diri diperbudak, dituntut oleh dunia. Karena itu, jangan mau ditawan oleh keadaan. Saudara menikmati dunia sampai terikat, itu berarti Saudara ditawan; dan Saudara sendirilah yang menciptakan keadaan itu. Setelah kita dapat mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi, barulah kita mengasihi orang lain karena Tuhan, bukan karena orang itu. Sebab itu, ada firman yang mengatakan, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” (1Kor. 10:31). Nanti, kita akan melihat hasil akhir dari perjalanan hidup ini. Orang yang mau dibentuk Tuhan, dia ingin membawa dirinya di hadapan Tuhan Yesus dan mengatakan tidak ingin mengecewakan Tuhan. Namun, kalau orang sibuk dengan dunia, ia akan disandera oleh dunia; ditawan oleh dunia; dan hidup dalam percintaan dengan dunia.

Saudaraku,

Jangan lupakan ini! Jangan tidak memedulikan atau memerhatikan ini. Ini merupakan pelajaran yang mahal harganya. Kehidupan Saudara itu mahal. Jika proses ini berlangsung dalam hidup kita, yaitu jika kita mengasihi diri kita dengan benar—yaitu menerima pembentukan Allah—kita pun akan menjadi berkat bagi orang lain dengan cara yang benar. Kita bukan sekadar membuat orang lapar bisa makan, orang tidak berpakaian memiliki pakaian. Kita bukan sekadar melakukan itu, kita memiliki tujuan, yaitu: pembentukan menjadi manusia yang berharga.

Kita mestinya sudah bisa melihat seberapa indahnya hidup kita sekarang di hadapan Bapa. Kita seharusnya bukan hanya bertanya kepada Allah apakah ada kesalahan dalam diri yang kita lakukan, melainkan sudah seberapa indahkah diri kita di mata-Nya. Itu bedanya kekristenan dengan banyak agama. Proses pembentukan dikembalikan ke rancangan semula, proses perubahan menjadi seperti Yesus, itulah kekristenan.

Jadi, tidak heran di dalam Firman dikatakan bahwa kita bisa mengenakan pikiran dan perasaan Kristus. “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Yesus yang hidup di dalam aku” (bnd. Gal. 2:20). Seberapa jauhkah itu? Orang yang serius dengan persoalan ini akan dituntun Tuhan sehingga kejadian yang terjadi dalam hidup bisa dipahaminya. Oleh sebab itu, kita harus selalu berurusan dengan Allah. Kita harus selalu membuka diri, menggelar pengadilan Kristus dalam hidup ini setiap hari. Tuhan pasti memberi tahu kita. Tidak ada yang mengenal kita secara lengkap dan utuh selain diri kita sendiri, yaitu kita yang serius mau memiliki manusia batiniah yang benar. Kita harus menjaga hati kitakarena manusia batiniah kita, hanya kitalah yang sering kali tahu. Semakin Anda mengenal diri Anda, semakin Anda tajam dalam melihat orang lain, tetapi tanpa menghakimi. Kalau Anda tidak mulai teliti, Anda tidak akan pernah menghiasi manusia batiniah Anda.

Teriring salam dan doa,
Erastus Sabdono