SURAT GEMBALA Surat Gembala
Kita Harus Memilih
27 October 2019

Saudaraku,

Kalau sudah sampai taraf kita mengalami ‘mati sebelum mati’, kita akan membela pekerjaan Tuhan tanpa batas; seperti kalau kita membela anak kita yang terancam, kita bisa berbuat apa saja. Ketika kita menyadari bahwa kita ini milik Tuhan, telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar, kita memilih itu. Dan harus saya katakan, hidup cara ini adalah hidup yang tidak wajar. Apalagi di dunia kita yang makin egois. Tapi kalau kita punya komitmen bulat, kita memiliki tekad sungguh-sungguh bersedia, Tuhan pasti tuntun kita.

Galatia 5:24 mengatakan “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.” Bukan ‘sebagian,’ tapi ‘segala’. Benar-benar, kadang-kadang kita harus merasa seperti mayat hidup. Lihat barang bagus, jangan ingini kalau memang tidak ada kegunaannya. Jadi yang kita persoalkan bukan apakah ini mewah atau tidak, ini mendatangkan prestise atau tidak, tapi ini ada kegunaannya tidak bagi pelayanan Tuhan. Jadi tidak heran kalau kita kadang merasa kesepian. Jangan tenggelam dengan masalah-masalah hidupmu., menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Sebab tanpa demikian, kita tidak bisa memenuhi yang dikatakan dalam Galatia 5:24 itu. Memang jadi aneh di dunia seperti ini, dengan prinsip hidup seperti ini, tidak wajar. Tapi ini pilihan. Sekarang, seberapa Anda berani?

Bapak Abraham telah memberikan kita contoh, ia keluar dari Ur-Kasdim. Ia tutup buku kehidupan wajarnya. Dia memasuki lembaran baru yang tidak bisa dimengerti orang. Murid-murid Yesus tidak bisa dimengerti oleh orang-orang sezamannya. Paulus dikatakan seperti orang gila.

Saudaraku,

Hari ini, kalau mau wajar-wajar sebagai orang Kristen, tidak apa-apa. Di mata dunia tidak masalah, tapi di mata Tuhan itu masalah. Menjadi tugas kita sekarang adalah berusaha menghidupkan Injil yang murni yang Tuhan Yesus ajarkan itu. Dan kita harus menjadi contoh hidup terlebih dahulu. Ini tugas yang berat. Tapi jika ini terwujud, tidak perlu promosi, Saudara akan menjadi kesaksian, kita adalah brosurnya. Tapi bukan kemudian aneh, nyentrik, atau dijauhi orang. Mungkin kita tidak jadi gereja yang booming, tapi tidak akan pernah surut karena Tuhan pasti menyisakan orang-orang yang serius dengan Dia. Abraham itu bapak orang percaya, apa yang kita teladani? Seluruh hidupnya yang memberikan inspirasi iman dan pola iman kita. Saudara harus mewujudnyatakan ini, mengimplikasikan hidup masing-masing kita. Persembahkan kesuksesanmu untuk Tuhan, karena kamu sudah dibeli. Jadi kalau mau berbuat ini itu, lakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Tuhan. Ini standarnya.

Tunggu saja waktunya, kalau Saudara tidak mau berubah, jadi apa. Kalau kita berani menaruh segenap hidup kita, Tuhan tidak kelihatan dan kadang-kadang Tuhan juga diam, seakan-akan Dia tidak ada, kadang-kadang Dia seperti tidak membela. Kita bisa dikuatkan dengan pengalaman para martir Tuhan yang membela Yesus dengan mengorbankan harta, keluarga, namun seakan-akan Tuhan tidak hadir, tapi mereka setia. Abraham selama 25 tahun menunggu anaknya lahir. Sudah lahir, dia disuruh untuk menyembelihnya. Bayangkan, tapi dia menaruh percaya.

Tidak lama, sebagian besar kita juga tinggal beberapa tahun. Kita tidak pernah tahu. Seperti menurut ramalan bahwa Jakarta ini tanahnya juga sudah begitu rentan, bisa tenggelam. Dunia ini tidak nyaman. Anomali bukan hanya pada cuaca, berpolitik, dalam dunia hukum, dalam kehidupan berbangsa bernegara. Apa yang kita harapkan lagi? Belum lagi epidemi penyakit. Saya bukan mengancam, tapi memberikan fakta. Inilah hidup. Jangan harap dunia membahagiakanmu. Tuhan yang membahagiakan kita. Tuhan mau kita memilih. Percayalah bahwa kita tidak akan pernah menyesal memilih Tuhan.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono