SURAT GEMBALA Surat Gembala
Keyamanan
25 August 2019

Saudaraku,

Ada satu hal yang sering saya pergumulkan di dalam hati: bahagia yang bagaimana yang dicari orang? Bagaimana kita bisa merasakan kebahagiaan dalam teduh kasih-Nya? Bagaimana mengimplimentasikan kalimat ini dalam hidup kita? Dunia kita ini tidak semakin nyaman. Dan Iblis mencoba supaya kita mengupayakan kesejahteraan; untuk melupakan Tuhan. Sejatinya, kita mengupayakan kesejahteraan untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia akan datang.

Banyak orang berusaha menyejahterakan hidup. Melestarikan alam dengan segala upaya untuk bisa dinikmati semaksimal mungkin, tapi mereka tidak mempersiapkan diri menghadapi dunia akan datang. Padahal kedatangan Tuhan Yesus itu membawa pergolakan-pergolakan. Sebab sebelum zaman baru, dunia akan mengalami pergolakan. Harus ada pergolakan.

Sebenarnya Iblis tidak bermaksud untuk masuk neraka. Dia pun mau punya surga. Dia mau punya pemerintahan. Dia mau punya takhta. Dimana dia menjadi rajanya, tapi dia tidak berhak begitu. Sebab yang berhak hanya Yesus, Anak Tunggal Bapa. Dialah Tuhan. Maka orang yang ditebus oleh Tuhan Yesus, sudah tidak punya hidup lagi. Sudah dibeli. Dan kalau orang menolak menghidupi hidup Yesus dalam hidupnya, berarti dia menolak penebusan itu.

Saudaraku,

Jadi kalau Iblis menjanjikan kenyamanan, itu bohong. Kenapa? Karena dunia akan dihancurkan. Kalau Saudara mengharapkan kebahagiaan dunia ini, Saudara tertipu. Seandainya Saudara memiliki segala fasilitas dunia, tidak pernah sakit, kaya, berkuasa, dan segala kesempurnaan kebahagiaan hidup yang bisa Saudara peroleh dari dunia ini, tapi tetap semua akan berakhir. Dan makin Saudara punya banyak, makin tragis waktu Saudara harus melepaskannya. Tapi kita memiliki kehidupan bersama Tuhan di Kerajaan-Nya. Dan memang untuk itu kita hidup. Jangan mencari kenyamanan dalam hidup di bumi ini. Yang Tuhan kehendaki adalah kita sepikiran seperasaan dengan Dia; sepenanggunan dengan Dia. Dalam Roma 8:17 dikatakan bahwa hanya orang yang menderita bersama Tuhan yang dimuliakan.

Jika hari saudara masih menantikan mukjizat kuasa membuat nyaman hidup. Berubahlah, mari bertanggung jawablah dengan kesehatanmu. Bertanggung jawablah dengan usaha dan memaksimalkan potensi dalam dirimu. Yang semua itu kita lakukan dengan motivasi untuk Tuhan. Sehingga kalau dunia ini berakhir, entah dunia menilai kita sukses atau gagal, tapi yang penting adalah kita dikenal Tuhan memiliki hati yang mengasihi Dia. Lihat bagaimana penipuan yang sering terjadi di gereja, orang mengatakan “Aku mengasihi Engkau Tuhan,” tapi tidak berbuat apa-apa. Kalau Saudara mengasihi Tuhan, Saudara tidak mengasihi dunia ini. Sebab persahabatan dengan dunia, permusuhan dengan Allah.

Dalam hal ini kita menemukan bahwa berlimpahnya materi bukanlah jaminan bahwa seseorang diberkati Tuhan. Iblis bisa melimpahi manusia dengan berkat jasmani. Justru waktu orang nyaman hidup, siapa pun dia, ada kecenderungan ia tidak memerlukan siapa-siapa bahkan tidak memerlukan Tuhan. Jadi ketika orang dalam kenyamanan dalam waktu yang panjang -sampai cita rasa duniawinya itu menenggelamkan dia, sehingga tidak lagi memiliki cita rasa rohani- maka ia tidak bisa diajak berpikir rohani. Otomatis ia iidak memiliki potensi menyenangkan Tuhan.

Saudaraku,

Yang menyenangkan hati Tuhan itu adalah kehidupan kita setiap hari. Kenyamanan hidup yang panjang, tanpa diimbangi dengan kebenaran firman yang merubah sikap batiniah seseorang, maka ia tidak akan pernah bisa mengendus mencium keharuman kerohanian itu. Sampai tidak bisa bertobat dalam arti yang sesungguhnya. Tapi kalau orang sudah bertobat terus, cita rasanya langit baru bumi baru, kerinduannya langit baru bumi baru, kebahagiaannya di dalam Tuhan, maka ia tidak bisa terbeli oleh dunia.

Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata “Jagalah dirimu supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora, kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh keatas dirimu seperti suatu jerat.” Jerat ini mirip dengan ikatan candu. Seperti 5 gadis yang bodoh yang mencoba untuk mencari minyak supaya pelitanya menyala, tapi terlambat. Maka persiapannya harus jauh-jauh hari.

Sebenarnya semua yang namanya selera itu seperti candu. Apakah itu makan, pujian, sanjungan, seks. Ini harus kita kenali, kita kalahkan. Dan ini tidak mudah. Tapi kalau kita berjuang terus sampai kita tidak bisa terikat lagi, Saudara. Sebaliknya, kita terikat Tuhan. Orang yang masih mengharapkan kenyamanan -apa pun bentuknya- tidak mungkin dapat melayani sesama dengan baik. Dia pasti melayani diri sendiri. Tapi ketika Tuhan menjadi kebahagiaan kita satu-satunya, baru kita bisa melayani sesama. Dan ketika kita mengenal kebenaran, segala sesuatu yang kita lakukan itu untuk kesenangan Tuhan.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono