SURAT GEMBALA Surat Gembala
Keteladanan Yusuf
15 December 2019

Saudaraku,

Yusuf, tunangan Maria, merupakan bagian dari pemeran utama atau paling tidak pembantu pemeran utama dalam kisah Natal. Kita tidak bisa membayangkan betapa tergoncangnya jiwa Yusuf tatkala ia mendapati Maria hamil. Saya kira, sebagai seorang pria yang menempatkan diri sebagai Yusuf, kita akan sangat marah. Kita akan murka, sebab Maria sudah berstatus sebagai tunangannya. Sebagai anak muda, ia punya mimpi untuk membangun rumah tangga dengan wanita yang dia sangat cintai. Tetapi begitu ia mengetahui Maria hamil, Yusuf terguncang. Tidak mungkin tidak. Dalam Matius 1:18-20 dikatakan bahwa ia tidak tahan melihat realitas itu, ia mau meninggalkan Maria.

Ada satu karakter Yusuf yang luar biasa. Yusuf memang orang baik, orang yang lurus dan tulus hatinya. Kalau Yusuf adalah orang yang bengkok, maka ia akan dengan sengaja membalas dendam atas “pengkhianatan” Maria. Kalau perlu ia akan membuka aib Maria supaya orang lain tahu. Yusuf bisa saja menduga kalau kehamilan Maria itu adalah karena perselingkuhan. Tetapi luar biasa, Yusuf tidak mau mencemarkan nama Maria. Ia diam-diam mau pergi. Sehingga kalau nanti didapati Maria hamil, orang akan menyalahkan Yusuf.

Ini berarti Yusuf rela memikul kesalahan Maria. Jadi beban sakitnya dua kali lipat; pertama, ia merasa dikhianati dan yang kedua, ia akan mendapatkan nama buruk di mata masyarakat. Ini luar biasa! Dia tidak membalas dendam kepada Maria. Ia rela memikul kesalahan Maria. Tetapi Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk memberi tahu kepada Yusuf bahwa kehamilan Maria dari Roh Kudus, tepat ketika Yusuf berencana untuk meninggalkan Maria. Akhirnya, Yusuf mengambil Maria sebagai istrinya. Tetapi tidak bersetubuh sampai Maria melahirkan Yesus.

Saudaraku,

Kisah Natal menjadi lengkap ketika bukan hanya kisah Maria yang ditampilkan, tetapi juga Yusuf. Bukan hanya kitab orang Kristen yang mengakui hal ini, tetapi juga dari agama lain. Ini adalah suatu fakta bahwa Yesus itu dari Roh Allah. Sekarang kita akan mempersoalkan mengapa saat itu Tuhan memakai Yusuf, sebagai pelindung Maria dan bukan pria lain. Dari sudut Allah, Yusuf mendapat kasih karunia. Tetapi dari sudut Yusuf, ia adalah seorang yang pantas mendapat kasih karunia tersebut.

Kalau Maria bisa berkata, “sesungguhnya aku adalah hamba Tuhan. Jadilah padaku sesuai dengan perkataan-Mu”, itu adalah ketaatan total. Ia sudah menghayati hidup sebagai hamba Tuhan, ia punya kapasitas untuk menjadi ibu Mesias. Demikian juga dengan Yusuf. Bisa dibayangkan apa jadinya jika Yusuf berteriak-teriak menyatakan kehamilan Maria yang bukan olehnya. Maka keselamatan Maria ada di tangan Yusuf. Maria akan dihukum oleh masyarakat. Inilah kapasitas yang pantas sebagai ayahanda dari Mesias. Yusuf pun harus menahan diri untuk tidak bersetubuh dengan Maria, ini berarti kebahagiaan Yusuf tersita. Inilah pelayanan yang benar.

Pelayanan yang benar adalah pelayanan yang dilakukan oleh orang2 yang rela kehilangan kesenangannya. Kita harus berani hidup tidak wajar. Tidak wajar di sini bukan berarti aneh, sehingga orang resistan terhadap kita. Hidup tidak wajar adalah hidup yang tidak mengenakan filosofi manusia pada umumnya. Filosofi tersebut adalah studi, karir, menikah, punya anak, menikahkan anak, ikut membesarkan cucu dan seterusnya. Intinya, mencoba membangun Firdaus di bumi. Dan orang merasa berhak memiliki hidup seperti itu. Dan kalau perlu, Tuhan yang dituntut untuk memberkati hidupnya agar ia dapat menggulirkan cara hidup yang “wajar” tersebut.

Yusuf tidak memiliki taman impian lagi, rubuhlah sudah harapannya menikmati bulan madu dan kebahagiaan bersama Maria yang dicintainya. Kehilangan masa depan. Ini tidak wajar. Tetapi inilah yang wajar di mata Tuhan.

Saudaraku,

Orang yang berani hidup tidak wajar, yang berani mempertaruhkan hidupnya tanpa batas adalah orang yang dipercayai Tuhan untuk menjadi kawan sekerja-Nya. Hidup kita sangat singkat di dunia ini, apa yang kita mau cari? Kita bersyukur kalau kita mengenal Allah yang benar, menjadi anak-anak Allah. Dan terlebih lagi kita bersyukur kalau Tuhan menjadikan kita sebagai kawan sekerja-Nya.

Tetapi kita tidak akan menjadi kawan sekerja-Nya kalau kita tidak memiliki hati yang rela untuk hidup bagi kepentingan Tuhan semata-mata dan rela hidup tidak memiliki kewajaran seperti orang lain hidup. Mari kita belajar terus untuk mempertaruhkan hidup bagi Tuhan tanpa batas, walau kita belum sempurna. Untuk diri sendiri, kita batasi.

Mari kita bercermin kepada Maria dan Yusuf. Maria rela kehilangan harga diri, rela kehilangan masa depan, rela kehilangan Yusuf, rela kehilangan nyawa, bersedia dipermalukan di depan umum, demi kepentingan Tuhan Yesus. Demikian juga dengan Yusuf, ia rela kehilangan kesenangan, rela kehilangan impian, rela menahan diri.

Banyak orang yang sibuk untuk mencapai cita-citanya, obsesinya. Mereka tidak memedulikan pekerjaan Tuhan dan rencana-Nya. Padahal setiap kita pasti memiliki tempat yang istimewa di hadapan-Nya dan Tuhan sudah memberikan talenta dan kemampuan tertentu yang Tuhan mau pakai secara maksimal. Yang menjadi masalah adalah apakah kita memiliki kerelaan seperti Maria dan Yusuf yang menaruh segenap hidupnya bagi Tuhan?

Banyak orang pintar, banyak orang kaya, banyak orang multitalented, tapi kalau tidak memiliki kesediaan tersebut, bagaimana Allah bisa menjadikan ia kawan sekerja-Nya? Kita sering mendengar orang berkata, “Pakailah aku Tuhan, jadikan aku alat-Mu.” Tuhan bukan tidak bersemangat memakai kita. Tuhan lebih bergairah memakai kita sebagai alat-Nya daripada kita sendiri. Ia bersemangat menjadikan kita orang yang efektif bagi pekerjaan-Nya, lebih dari kita.

Tuhan pasti mau pakai. Masalahnya apakah kita pantas dipakai oleh Tuhan? Apakah kita memiliki kapasitas menjadi hamba Tuhan yang dipercayai Tuhan dan yang bisa dipakai Tuhan melakukan pekerjaan yang dahsyat? Itu masalahnya. Dicari orang-orang seperti Yusuf di abad modern ini, yaitu orang-orang yang rela kehilangan nyawa (kesenangan, kebahagiaan, kegirangan hidup) demi mengemban pekerjaan Tuhan.

Terbuka kesempatan untuk menjadi kawan sekerja Allah. Saat ini, kita bisa mengambil keputusan untuk taat kepada Tuhan Yesus dan melakukan apa pun yang Dia ingini demi kepentingan pekerjaan Tuhan. Oleh sebab itu kita harus terus menggarap karakter kita agar memiliki kapasitas seperti Yusuf dan Maria. Kalau mereka bisa menjadi alat dalam tangan Tuhan untuk melahirkan Juruselamat yang menjadi pokok keselamatan bagi semua orang, maka kita di abad modern ini dapat menjadi alat dalam tangan Tuhan menjangkau jiwa-jiwa untuk diselamatkan.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono