SURAT GEMBALA Surat Gembala
Keteladanan Orang Majus
01 December 2019

Saudaraku,

Cerita-cerita sekitar Natal tentu sudah sangat sering kita dengar, apalagi pada bulan Desember ini. Mungkin sudah tidak ada yang menarik lagi. Tetapi mari kita memperhatikan suatu kenyataan dari sebuah kejadian sekitar Natal yang harus kita pandang menarik dan mencoba memperoleh pelajaran rohani. Hal itu adalah konsistensi orang Majus dalam mengakui Anak di kandang domba adalah Mesias. Ini adalah sebuah pewahyuan yang luar biasa. Pewahyuan yang kelihatannya lazim tetapi tidak, sebab pewahyuan semacam ini membawa dampak besar dalam hidup seseorang. Perhatikan bagaimana orang Majus meninggalkan kampung halaman, menempuh bahaya, membayar ongkos perjalanan, bertekun mencari, merendahkan diri di hadapan Mesias, memberikan persembahan dan membela Anak itu.

Kita merayakan Natal begitu semangat hari-hari ini. Mungkin kita merayakan lebih dari sekali. Kenyataan yang kita saksikan adalah bahwa banyak orang Kristen yang tidak berbeda dengan anak-anak dunia dalam menyambut hari raya ini. Merayakan Natal tanpa pewahyuan yang menggerak seluruh kehidupan orang itu di sepanjang harinya bersikap benar di hadapan Tuhan adalah sebuah perayaan kosong, sia-sia dan kemunafikan di mata Allah. Walaupun setiap kali kita merayakan Natal kita mencoba untuk menemukan dan merenungkan makna Natal, tetapi ternyata tanpa pewahyuan ini semua hanya teori dan liturgi kosong. Pengakuan dan pengertian tentang Mesias hanya hangat pada hari Natal, selepas Natal ada banyak hal yang menggerakkan orang percaya berpaling dari Yesus.

Mari kita bandingkan dengan Petrus yang berani mengatakan, “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.” Bisa dimengerti bagaimana suasana emosi para murid pada waktu itu, yaitu ketika Tuhan menghadapi saat-saat krisis. Tuhan sudah menyampaikan kalau Ia akan menghadapi puncak dari karya keselamatan-Nya. Para murid dengan perasaan sentimentil, perasaan satu korps dgn Tuhan Yesus, mengatakan bahwa mereka siap menghadapi keadaan apa pun dan bagaimana pun, khususnya Petrus yang berjanji akan tetap setia. Tapi semua kita tahu faktanya Petrus menyangkal sampai 3 kali.

Saudaraku,

Ketika seseorang tidak konsisten, Tuhan dalam kesabaran-Nya, masih memberi kesempatan. Tetapi hal itu tidak boleh dilakukan berulang-ulang dan sengaja, Tuhan akan mengambil kesempatan itu. Memang semua kita tidak ada yang berniat untuk berkhianat kepada Tuhan. Pada waktu kita di gereja atau dalam suasana tertentu, emosi kita bisa tergiring pada satu puncak atau keadaan dimana kita memiliki komitmen atau punya tekad untuk melayani Tuhan, segenap hidup untuk Tuhan. Masalahnya, apakah kita benar-benar konsisten untuk memenuhi komitmen kita?

Kita menghayati Tuhan itu ada dan kita menghormati Tuhan, dengan memberi nilai tinggi Tuhan dan pernyataan kita lewat syair lagu menyatakan penghormatan kita. “Menyenangkan-Mu, senangkan-Mu, hanya itu kerinduanku.” Sejatinya, seberapa konsisten-nya kita memenuhi pernyataan tsb? Kita katakan “hanya itu kerinduanku,” berarti tidak ada kerinduan lain. Benarkah? Menyenangkan Tuhan adalah menjalani hidup sesuai kehendak Tuhan, dengan hidup suci, itu satu-satunya.

Apakah kita konsisten memenuhinya dalam langkah hidup kita setelah kita pulang dari gereja? Saya bisa mengerti karena suasana beragama itu telah merusak kekristenan. Di dalam pemikiran banyak orang, Tuhan itu bisa dipuaskan dengan liturgi atau seremonial. Dan di dalam liturgi tersebut, orang bisa menyanjung Tuhan, memuliakan Tuhan dengan buah bibirnya. Tetapi fakta yang kita jumpai dalam hidup banyak orang dan kita, ternyata banyak orang tidak konsisten.

Saudaraku,

Sekarang, setelah ikut Tuhan Yesus dan diajar yang namanya hidup baru seperti apa, masihkah kita berani berkomitmen? Yang punya tekad harus berjuang sampai tekadnya permanen. Harus berjuang sampai konsisten. Dan ini bukan Tuhan yang mengendalikan atau mengatur kita; kita yang harus mengendalikan atau mengatur diri kita sendiri. Tuhan menyediakan sarana, Firman dan Roh Kudus. Tetapi Tuhan tidak intervensi mengambil alih seluruh hidup kita. Kita yang harus menguatkan dan mengarahkan diri kita sendiri. Kita yang harus menjaga tekad itu, seperti api atau perbaraan, dijaga supaya jangan padam. Maka, berjuanglah supaya Saudara tidak dipegang oleh dunia dan supaya Saudara tidak berpegangan pada dunia.

Ketika Tuhan memberikan Saudara momentum-momentum, supaya kita konsisten, Tuhan dalam kebesaran pribadi-Nya menerima keberadaan kita, kelemahan dan kegagalan kita dalam menyenangkan-Nya, Tuhan beri kita kesempatan. Tapi kalau kesempatan kedua, ketiga, keempat tidak kita gunakan, kita bisa tidak punya kesempatan lagi. Jangan remehkan Tuhan!

Dibutuhkan suatu kepribadian yang kuat untuk percaya dan kerendahan yang dalam untuk menundukkan diri. Perhatikan bagaimana orang Majus dengan kuat memercayai apa yang mereka anggap harus dipercayai. Mereka juga memiliki hati yang sedemikian lentur, lunak, lembut, hati yang rendah. Hati yang memungkinkan mereka memiliki Kerajaan Allah (Mat. 5:3). Seharusnya kita juga memiliki hati yang sedemikian percaya kepada apa yang Alkitab ajarkan tanpa digoyahkan oleh keadaan dunia ini dan juga memiliki kerendahan hati untuk takluk hidup di dalamnya. Kita ini bagai orang Majus yang sedang dalam perjalanan menuju Bethlehem; namun sekarang kita berjalan menuju sebuah keabadian. Masalahnya adalah keabadian bersama Kristus atau keabadian sebagai musuh Kristus? Sikap kita setiap hari terhadap-Nyalah yang akan menentukan keadaan kita nanti. Adakah pewahyuan itu kita miliki dan kita hidup di dalamnya? Apakah kita berdiri sebagai Herodes atau orang Majus? Periksa bagaimana perlakuan kita terhadap Raja di atas segala raja itu.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono