SURAT GEMBALA Surat Gembala
Keteladanan Maria
08 December 2019

Saudaraku,

Pada kesempatan ini kita akan melihat satu sosok yang berperan dalam penggenapan rencana Allah sehingga Mesias dihadirkan di dalam dunia. Sosok tersebut adalah Maria. Setiap Natal dirayakan, nama ini tidak pernah tidak disebut. Ibarat sinetron, Maria adalah pemeran utama, selain Tuhan Yesus. Ini menarik untuk diperhatikan. Apa yang menarik dari diri Maria? Maria adalah gadis dari Nazareth. Ia masih perawan. Masih belia.

Mengapa Tuhan memilih Maria sebagai ibunda Tuhan Yesus? Tidak pernah ditunjukkan dalam Alkitab kalau beliau berwajah cantik, memiliki penampilan lahiriah yang menarik, tidak ditunjukkan spesifikasi dari keberadaan Maria ini. Tetapi Tuhan memilih Maria. Maka pasti ada sesuatu yang luar biasa, yang membuat ia dipantaskan untuk dilibatkan dalam pekerjaan Tuhan yang agung, menjadi ibunda Mesias.
Kalau kita melihat perjumpaan antara Maria dan malaikat yang diutus Tuhan—Gabriel, yang memberi tahu bahwa ia akan hamil—Maria mengatakan bahwa ia belum menikah, sehingga bagaimana mungkin ia bisa hamil. Tetapi malaikat mengatakan bahwa ia akan mengadung dari Roh Kudus. Dan tentu saja Maria tidak bisa mengerti bagaimana ia bisa hamil. Malaikat menjelaskan bahwa Roh Kudus akan turun atasnya dan menaungi Maria. Apa jawaban Maria? “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu.”

Saudaraku,

Dari perkataan inilah kita bisa menimbang atau mengukur wanita macam apakah Maria ini. Sebab seseorang tidak bisa baik mendadak atau jahat mendadak. Maka kalau Alkitab mengatakan demikian, ini pasti perkataan yang tidak jauh dari hidup keseharian Maria. Perkataan yang menyatakan bahwa dirinya adalah hamba Tuhan itu memang melekat sebagai bahasa hidup atau irama jiwa Maria setiap hari.
Sebab Maria diperhadapkan pada suatu pilihan yang sangat sulit, hamil tanpa pernikahan, ini sangat berat. Biasanya kalau orang tersudut dalam satu masalah, gelisah dan galau dalam satu tekanan, pikirannya menjadi tidak normal. Tapi kalau dalam keadaan tersebut ia bisa mengatakan, “sesungguhnya aku inilah hamba Tuhan,” tentu hal ini tidak bisa muncul tiba-tiba dalam pikirannya. Ini juga pasti bukan suatu kebetulan. Tapi begitulah bahasa jiwa Maria. Ia seorang yang menghayati dan menyadari bahwa dirinya adalah hamba Tuhan.

Jadi kita bisa mengerti mengapa Maria bisa menerima realitas kehamilannya. Padahal dengan kehamilannya, ia menghadapi resiko yang tinggi, yaitu: kehilangan Yusuf, kehilangan impian pesta pernikahan dan bulan madu, kehilangan masa depan. Dan lagi, ia akan dikategorikan berzina dan dihukum dengan cara dilempari batu sampai mati. Adalah wajar jika dalam keadaan demikian Maria menjadi limbung dan aneh. Tetapi dalam situasi yang demikian kritis, Maria bisa berkata, “sesungguhnya aku inilah hamba Tuhan.”

Saudaraku,

Ini adalah kesadaran yang luar biasa. Ia menyadari bahwa dirinya adalah budak Tuhan, bukan budak siapa-siapa dan bukan juga budak dirinya. “Jadilah padaku menurut perkataanmu” merupakan pilihan yang luar biasa. Tuhan memilih Maria, di satu pihak adalah kasih karunia. Tetapi di pihak lain, Tuhan juga melihat Maria adalah pribadi yang pantas menerima kasih karunia. Ia memiliki kapasitas untuk memikul kasih karunia itu.

Tuhan memilih orang-orang yang dilibatkan dalam rencana agung-Nya. Dari pihak Allah itu adalah kasih karunia. Dari pihak manusia adalah kapasitas setiap individu untuk melakukan pekerjaan Tuhan yang besar. Inilah yang Tuhan juga inginkan dalam hidup kita. Kapasitas diri utama yang harus dimiliki oleh seseorang agar bisa dipakai Allah adalah ketertundukkan mutlak (total submission), ketaatan yang tidak bersyarat.

Dari kalimat “Jadilah padaku menurut perkataanmu” nyata ketertundukan yang mutlak dari Maria. Maria tidak berkata, “baik Tuhan, aku taat, tapi lindungi aku” atau ia berkata, “baik Tuhan, tapi jangan sampai aku kehilangan Yusuf” atau “baik Tuhan, tapi biar semua ini dapat dilalui dengan baik, jangan sampai aku dilempari batu.” Maria tidak berkata begitu, ia hanya berkata, “Jadilah padaku menurut perkataanmu,” titik.

Saudaraku,

Berbeda dengan suasana yang terjadi zaman ini, mereka menuntut Tuhan untuk memenuhi apa yang mereka kehendaki. Menggunakan nama Tuhan Yesus supaya keinginan dan cita-citanya dipenuhi. Ini terbalik, kontra sekali. Ironis. Sejatinya, berurusan dengan Tuhan berarti membuka diri untuk diatur dan dikuasai Tuhan sepenuhnya, bukan sebaliknya.

Demi tugas yang diembannya, Maria tidak menghiraukan nyawanya. Bagaimana dengan kita? Tuhan Yesus akan datang yang kedua kalinya. Ia tidak lagi datang sebagai bayi kecil yang tidak berdaya. Tetapi Ia akan datang disertai malaikat-malaikat-Nya dan para orang kudus. Nah sekarang apa yang harus kita lakukan untuk menyambut-Nya? Masih banyak orang yang harus dilayani, diselamatkan.

Dicari orang-orang seperti Maria, yang bisa memfasilitasi kehendak Allah dan menggenapi rencana-Nya. Banyak jiwa yang harus diselamatkan. Tapi siapa yang akan melayani mereka? Siapa? Saudara dan saya! Yaitu kalau kita memiliki pribadi seperti Maria yang memiliki pengakuan: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu,” orang yang memiliki ketertundukan total, tidak memikirkan bagaimana nasibnya nanti, asalkan rencana Allah digenapi.

Mendengar dan mengatakan kebenaran ini sangat mudah, dan kita juga dengan mudah mengatakan “amin,” tetapi melakukan kebenaran ini adalah sesuatu yang benar-benar sangat sulit, bahkan mustahil. Namun kita percaya bahwa Tuhan akan memampukan kita melakukannya asal dengan tulus kita berkata, “Tuhan, apa pun yang Kau kehendaki, biarlah itu terjadi dalam hidupku, sebab aku ini hamba-Mu.”

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono