SURAT GEMBALA Surat Gembala
Ketegasan Allah (2)
26 May 2019

Saudaraku,

Dalam Roma 11:21-24 Paulus tegas berkata, “Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, ia juga tidak akan menyayangkan kamu.” Dalam pernyataan Paulus ini menunjukkan kesejajaran orang percaya dengan bangsa Israel, sebagaimana Allah menolak sebagian bangsa Israel -sehingga mereka tidak akan pernah mengalami dan memiliki keselamatan- demikian juga sebagian orang Kristen, dalam hal ini Tuhan tidak segan-segan membuang atau memotong orang percaya sebagai anak-anak Allah dan ahli waris Kerajaan Surga. Di dalam Matius 7:21-23, Tuhan Yesus juga jelas mengatakan bahwa orang yang tidak melakukan kehendak Bapa, akan ditolak. Jelas ukurannya bukan percaya atau tidak, tapi melakukan kehendak Bapa atau tidak.

Percaya itu harus diwujudkan atau dibuktikan dalam perbuatan. Itulah sebabnya Yakobus berkata, “Iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh.” Jadi orang percaya pasti melakukan kehendak Bapa. Kehendak Bapa bukan sekadar melakukan hukum, tetapi segala sesuatu yang kita lakukan harus selalu sesuai dengan pikiran perasaan Allah. Untuk itu dibutuhkan cara berpikir rohani. Maka kalau orang belum berubah cara berpikirnya untuk bisa sepikiran dengan Kristus atau memiliki pikiran perasaan Kristus, dia belum percaya. Biarpun dia mengaku percaya, tetapi dia tidak memiliki pikiran perasaan Kristus, tidak melakukan kehendak Bapa, berarti cara berpikirnya belum diubah. Masalahnya, sudah terlalu lama banyak orang Kristen memiliki konsep-konsep yang salah, yang dangkal, yang miskin, dan itu dianggapnya sudah merupakan landasan yang cukup untuk menjadi orang Kristen.

Saudaraku,

Kalimat “Allah tidak menyayangkan” terkesan kejam, tetapi inilah realitanya. Kalau Allah mengasihi seseorang, menyayangi seseorang karena orang itu memberikan respon yang benar kepada-Nya, maka sungguh tidak ternilai apa yang diberikan-Nya. Jadi kita harus memperhatikan kemurahan-Nya, namun juga memperhatikan ketegasan-Nya. Banyak orang Kristen hanya melihat satu kutub -yaitu kemurahan, kebaikan-Nya, kasih sayang-Nya- tapi ia tidak melihat aspek yang lain. Ketika seorang hamba Tuhan hanya mempromosikan kebaikan dan kemurahan Tuhan, tapi tidak melihat aspek lain dari Allah, maka jemaat memahami seakan-akan Allah tidak memiliki ketegasan dan hal ini mengakibatkan banyak orang Kristen hidup sembarangan atau ceroboh.

Biasanya pemberitaan yang tidak seimbang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, seakan-akan Allah memberikan keselamatan dengan mudah kepada manusia. Dalam hal ini orang tidak melihat ketegasan Tuhan, mereka memiliki pemahaman yang salah mengenai keselamatan; yaitu asalkan dengan pikiran, atau nalar sudah setuju bahwa Yesus Juruselamat, maka mereka sudah selamat. Mereka memahami keselamatan hanya sekadar terhindar dari neraka. Dengan keadaan moral mereka yang sudah baik, mereka merasa yakin sudah diperkenankan masuk surga, padahal orang percaya dirancang untuk dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus menjadi anggota keluarga Kerajaan.

Kedua, Allah yang murah membuat kehidupan ini mudah. Jadi mereka berurusan dengan Tuhan karena mau mendapatkan perlindungan, penjagaan.

Ketiga, ajaran yang mengatakan bahwa Allah menentukan sebagian orang untuk selamat -dalam pengertian masuk surga- juga sementara ada sebagian orang yang tidak ditentukan untuk selamat. Ini doktrin yang paling merusak bangunan iman Kristen yang benar. Kalau Allah menentukan orang-orang tertentu untuk selamat dan yang lain tidak ditentukan, pasti tidak ada firman yang mengatakan: Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu. Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah juga kekerasan-Nya. Justru firman ini mengajak orang percaya untuk bertindak benar terhadap Allah sebab Allah bisa menerima dan juga membuang, tergantung respon individu. Kalimat ini juga menunjukkan bahwa Allah memiliki hakikat yang harus dikenal dengan benar. Jangan bicara mengenai keadilan Allah, jika keadaan itu sewenang-wenang dan mencelakai orang, karena tidak mungkin Allah punya keadilan yang mencelakai orang.

Saudaraku,

Dalam Yohanes 15:4-6, Tuhan berkata, “Akulah pokok anggur, kamu carang-carangnya. Kamu harus berbuah. Kalau tidak berbuah, kau dikerat.” Ini merupakan satu panggilan, satu tanggung jawab yang tidak bisa dihindari, di mana kita harus berbuah. Masalahnya adalah, “Apakah kita sudah menghasilkan buah yang menyenangkan Tuhan?” Hal ini harus kita perkarakan itu dalam hidup kita masing-masing. Tingkat kepuasan Tuhan untuk hidup kita masing-masing harus diperkarakan, step by step, supaya sampai pada titik akhir kita bertemu Tuhan, sudah terpenuhi. Maka kegelisahan kita hari ini, sudah kita rasakan waktu kita sadar kita belum mencapai titik kepuasan yang baik di mata Tuhan .

Orang harus mengalami sendiri, seberapa tingkat kepuasan Tuhan terhadap masing-masing individu. Memang masing-masing kita punya umur rohani dan keadaan yang berbeda, maka dalam hal ini berlaku Firman yang mengatakan: “Yang diberi banyak dituntut banyak, yang diberi sedikit dituntut sedikit”. Maka, jangan membiasakan atau meyakini, merasakan apa yang kau yakini, jangan membiasakan merasakan apa yang kamu yakini, tapi rasakan apa yang kamu alami dalam perjumpaan dengan Tuhan.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono