SURAT GEMBALA Surat Gembala
Keseriusan Hidup
10 November 2019

Saudaraku,

Bagaimana seseorang dianggap serius dalam hidup ini? Masing-masing orang memiliki sudut pandang yang berbeda mengenai hal ini. Ada orang yang memandang bahwa orang yang serius dalam hidup adalah mereka yang bekerja keras untuk dapat meraih apa yang dicita-citakannya atau dapat meraih apa yang orang lain dapat raih. Tetapi sebagai orang percaya, keseriusan hidup kita diukur dari seberapa kita bisa mengalami Tuhan. Kalau dilihat dari sudut pandang orang-orang yang tidak ber-Tuhan (bukan berarti tidak beragama, bisa saja ia beragama tetapi tidak ber-Tuhan dengan benar), keseriusan dari sudut pandang ini dianggap bukanlah keseriusan.

Tetapi kita mau memilih area ini; kita mau serius dengan Tuhan dan keseriusan kita ditandai dengan seberapa kita sungguh-sungguh mencari Tuhan, mengerti kehendak-Nya, melakukan kehendak-Nya, dan mengalami Tuhan. Kalau meminjam kalimat Alkitab, “berjalan dengan Tuhan”, seperti Henokh yang bergaul dengan Tuhan.

Setiap Saudara memiliki porsi untuk mengalami Tuhan. Dan apa yang disediakan Allah pasti melimpah. Sayang sekali kalau kita hanya memperolehnya sedikit. Jadi kalau seseorang serius dengan Tuhan, ia tidak mempersoalkan (walaupun tentu secara psikologi memengaruhi) apakah menikah atau tidak, kaya atau miskin, berkedudukan tinggi atau tidak; hal itu tidak terlalu mengganggu hidupnya, karena bukan itu tujuan hidupnya. Tentu saja kita harus berprestasi dalam studi, karir, karena prestasi kita di dalam memaksimalkan potensi dan memenuhi tanggung jawab hidup itu adalah bagian dari pertanggungjawaban kita kepada Tuhan yang memberikan hidup. Tetapi kita melakukan semua itu hanya sebagai dukungan, support untuk bisa menemukan Tuhan dan mengalami-Nya.

Saudaraku,

Memang Tuhan itu seperti tidak ada dan bahkan seperti mati, bagi orang yang tidak menghargai Dia. Banyak orang sekarang ini yang tenggelam dengan pesta dan kesenangan dunia. Tapi untuk kekekalan, seberapa serius kita mempersiapkannya? 70 tahun umur hidup kita itu sebenarnya tidak seimbang dengan kekekalan. Misalnya, demi dua jam sebuah pesta, kita habiskan waktu selama satu tahun untuk mempersiapkannya. Namun untuk kekekalan, hanya 70 tahun saja kita tidak serius dengan Tuhan.

Ketika kita ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus, kita hanya boleh memiliki satu agenda, yaitu bertumbuh dalam kesempurnaan menjadi anak-anak Allah yang berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Jadi kita itu bisa mencapai keberkenanan di hadapan Tuhan. Kalau usia kita saat ini 60 tahun misalnya, apakah kita sudah mencapai suatu grade yang Tuhan kehendaki seharusnya sudah kita capai? Kalau tidak atau belum, berarti kita harus mengejarnya dengan serius. Seperti yang Paulus katakan, “Aku bukan berlari tanpa tujuan”, berarti bukan hanya kecepatan larinya saja, tapi juga arah yang jelas. Dengan usia 60 tahun ini, apakah kedewasaan rohani kita sudah memuaskan hati Allah, Bapa kita?

Orang yang tidak serius dengan Tuhan biasanya membicarakan kebutuhan hanya sebatas kebutuhan jasmani. Jadi kalau Tuhan Yesus menebus kita hari ini, agenda-Nya hanya satu: bagaimana kita menjadi orang yang berkenan kepada Tuhan. Dan orang yang serius dengan Tuhan memperkarakan ini. Pasti semua kita punya persoalan. Tetapi tidak boleh ada persoalan yang lebih besar dari hal berkenan di hadapan Tuhan. Mungkin ada yang belum menikah; jangan persoalkan. Belum punya anak, jangan gusar. Mungkin ada banyak masalah yang Saudara hadapi, maka: Yang pertama, terimalah kenyataan persoalan itu sangat besar kemungkinan karena kesalahan kita. Jadi terimalah tuaian ini karena engkau telah menabur. Yang kedua, walaupun tuaian itu menyakitkan, Allah bisa menjadikannya sarana untuk mendewasakan Saudara. Yang ketiga, pasti akan selesai pada waktunya ketika kita membawa diri kita kepada Tuhan untuk dibentuk.

Saudaraku,

Ketika seseorang serius dengan Tuhan dalam waktu durasi hidup yang singkat ini, maka yang terjadi adalah cita rasa jiwa, interest batinmu berubah. Jadi Saudara tidak mengingini barang-barang dunia bukan karena tidak bisa membeli, tapi karena seleranya sudah bukan di situ; walaupun untuk berubah butuh waktu. Cita rasa kita sudah berubah.

Dari perjuangan Saudara menemukan, mengalami Tuhan, jiwamu menjadi rohani, selera jiwa menjadi rohani. Cirinya: sudah tidak bisa lagi bangga dengan barang-barang karena cita rasa jiwanya sudah berubah; sudah tidak lagi tersinggung waktu dilukai, tidak menganggap diri hebat, pasti tidak gila hormat, dlsb. Jadi sebelum kita mati, jiwa kita harus berubah, kita harus sudah sampai pada pernyataan ini dan kita semua sedang belajar, sampai kita semua bisa berkata, “yang kuingini Engkau saja”.

Sebab orang kaya yang sesungguhnya adalah orang yang menemukan Tuhan, karena tidak ada kekayaan ataupun keagungan apa pun melebihi Dia. Jadi kalau kita ke gereja, kita sedang berusaha memperkaya diri; bukan dengan berkat jasmani. Dan kalau nanti kita pulang ke kekekalan, kita ada dalam keadaan jiwa yang hanya tertuju kepada Tuhan. Hanya Yesus bagian hidupku. Akhirnya, di ujung maut kita hanya mau dengan Tuhan, the only Person I need. Waktu di ujung maut, kita akan menyadari bahwa tidak perlu ada yang menjadi bagian hidup kita kecuali Tuhan.

Makanya sejak kita hidup di dunia sekarang ini, saya mengajak Saudara serius dengan Tuhan. Cari Tuhan, temukan Dia. Miliki jam doa pribadi, 30 menit. Perhatikan semua pengalaman hidup, karena Allah berbicara lewat semua pengalaman itu. Kalau Saudara sudah mengerti kebenaran, bertumbuh dalam kebenaran, kita harus menulari orang lain dengan gairah ini. Selera jiwa kita harus tertuju pada Tuhan, sampai kita memiliki kehausan akan Allah. Jadi ketika kita meninggal dunia, selera jiwa kita hanya tertuju kepada Tuhan dan kehausan kita terpenuhi.

Saudara dan saya dikunci Tuhan dengan keadaan jiwa yang harus melekat dengan Penciptanya. Tidak mungkin Allah menciptakan manusia tanpa menguncinya. Dia mengunci kita. Dunia mau mengunci kita dengan barang dunia. Dan banyak Saudara yang sekarang ini mungkin masih terkunci; kalau tidak punya ini merasa tidak bahagia, merasa belum lengkap, dsb. Orang-orang yang gagal dalam hidup ini adalah ketika dia belum dilepaskan dari kunci dunia. Kita harus terkunci oleh Tuhan, artinya hanya Tuhan kebahagiaanku.

 

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono