SURAT GEMBALA Surat Gembala
KESEMPATAN MENEMUKAN TUHAN
09 June 2019

Saudaraku,
Dalam Yakobus 4:14 dikatakan: “Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi hari esok, hidupmu seperti uap. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” Fakta ini telah terjadi kepada semua manusia, dan fakta ini juga bisa terjadi dalam hidup kita kapan saja. Kita tidak akan pernah dapat menghindarkan diri dari realitas ini. Oleh sebab itu kita jangan terjebak oleh pemikiran bahwa:
Pertama, selalu masih ada kesempatan. Kita berharap ada hari yang baik di mana kita bisa berubah, kita bisa bertobat, kita bisa memiliki kehidupan baru, lebih rohani, lebih suci dan seterusnya. Itu tidak akan pernah terwujud, tidak akan pernah terealisir. Kita harus berpikir bahwa hari esok tidak ada kesempatan lagi. Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan, “Selagi ada yang disebut hari ini, jangan keraskan hatimu, dengarkan suara-Nya.” Hari ini, bukan next time, juga bukan besok atau kapan pun. Salah satu yang membuat kita terkendala mengalami pertumbuhan, pendewasan dan kehidupan Kekristenan yang baik, kita berpikir kita mau berubah, tetapi tidak harus hari ini, masih ada kesempatan nanti. Kita menunda, kita berpikir ada hari esok, ada kesempatan ke depan, apalagi jelas kita tidak bermaksud mengkhianati Tuhan.

Kita harus menyadari fakta ini, kalau seseorang punya uang banyak, lalu uangnya makin hari makin habis, maka dia akan makin hemat – ia bisa berhemat. Berbeda dengan waktu, kalau seseorang sudah biasa memboroskan waktu -ia tidak menggunakan waktu hidupnya untuk mempersiapkan diri, bertumbuh dalam kebenaran dan kesucian- maka walaupun waktunya tinggal singkat, tetap dia tidak mau sungguh-sungguh mencari Tuhan, sampai tingkat sudah tidak mampu lagi. Dia tidak membiasakan diri memiliki irama yang benar mencari Tuhan.

Saudaraku,
Jadi kita harus punya keberanian mengatakan bahwa esok tidak ada kesempatan lagi. Memang kita tidak bermaksud mau berkhianat kepada Tuhan, tetapi kalau kita menunda pertobatan, menunda hidup suci, menunda mencari Tuhan, maka kita memulai pengkhianatan itu. Maka sekarang ini kita harus mulai berkata: “Aku mengakhiri jalan hidupku, aku mau memulai hidup tidak bercacat tidak bercela, aku tidak punya kepentingan apa pun kecuali melayani Tuhan.” Kita tidak boleh menunggu “waktu baik,” sebab waktu yang baik kita yang menciptakan dan Tuhan sudah menyediakan. Jangan menunggu lawatan Tuhan, setiap saat Tuhan menyediakan lawatan-Nya. Lawatan-Nya di depan mata, tidak usah kita tunggu, kita yang meraih lawatan itu.

Jadi seperti yang Paulus katakan: “kami membawa kematian Yesus setiap hari.” Kematian itu kita buat setiap hari, bukan sekali-sekali. Kalau kita sungguh-sungguh setiap hari mau menyembelih kedagingan kita dan kita sungguh-sungguh punya komitmen untuk diubah Tuhan, maka Tuhan akan mengajar kita hidup seperti hidup yang Dia miliki, lalu kita bisa mengerti gambar/ peta dari wajah Tuhan yang begitu agung yang harus kita kenakan. Kita harus berani berkata: “Aku sudah selesai, hidupku berhenti sampai di sini.” Jangan menunggu menjadi benar baru mencari Tuhan, karena selamanya kita tidak akan benar tanpa mencari Tuhan.

Kedua, jangan menantikan apa pun selain Tuhan. Banyak hal yang pada umumnya orang nantikan, misalnya: mengharapkan sejumlah uang yang lebih besar, rumah yang lebih baik, fasilitas yang lebih baik, keuntungan yang lebih besar, dan lain sebagainya. Padahal Tuhan telah membeli seantero hidup kita dan harganya telah lunas dibayar. Maka tidak ada orang Kristen yang bisa berdiri di tengah, tidak ada tempat yang disebut mediokritas, kita harus memilih Dia dengan sungguh-sungguh atau tidak usah sama sekali. Dan Tuhan juga berkata: Kamu tidak bisa mengabdi kepada dua tuan.

Saudaraku,
Tapi hari ini kita menghadapi keadaan yang sulit, karena dunia terbuka. Kita menikmati dunia, kita hidup wajar, seakan-akan Tuhan pun itu tidak terganggu, seakan-akan Tuhan membiarkan. Lalu kita tetap hidup di dalam kewajaran jauh dari standar kehidupan yang Tuhan Yesus Kristus kenakan. Semestinya, kalau kita mau punya uang banyak dan sukses, dasarnya bukan karena sukses itulah kita hidup; sebab yang menggerakkan kita hidup adalah karena kita melayani dan mempersiapkan diri bertemu dengan Maha Rajaku dan suatu saat Dia menyatakan aku berkenan – tidak ada yang lain.

Banyak orang bersemangat hidup hanya karena mau cari uang. Lalu dengan uang itu dia bisa jalan-jalan lebih jauh, punya barang lebih bagus, punya rumah mewah, punya harga diri, menjadi lebih berharga di mata manusia. Memang hal ini tidak melanggar hukum dan etika umum, tapi ini salah!

Dalam Kekristenan, beriman kepada Yesus berarti sepikiran dan seperasaan dengan Dia. Dan Roh Kudus menjadi fasilitator dalam diri kita untuk menuntun kita guna melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Yang akhirnya akan mengubah diri kita menjadi seperti Dia. Karena kita tidak mungkin memiliki Kristus dan dimiliki Kristus tanpa memiliki karakter-Nya. Jadi tidak ada masalah yang perlu kita risaukan kecuali mengenakan karakter-Nya. Tapi kita tidak mungkin mengenakan karakter-Nya selama kita tidak melepaskan karakter lama kita.

Kalau sampai kita tidak menantikan apa pun kecuali Tuhan, kita baru mengerti apa artinya merdeka. Jadi kalau Saudara dibawa kepada keadaan yang tidak nyaman, itu isyarat bagaimana Tuhan mau menuntun Saudara untuk tidak mengingini dunia ini Tapi kalau sekarang Saudara sukses, limpah dengan harta, kehormatan dan lain-lain, jangan tenggelam! Saudara diberi Tuhan pundak yang kuat untuk menopang orang lain. Jangan merasa menjadi “seseorang”, sebaliknya, kita harus berkata: “Aku bukan siapa-siapa, aku nggak punya apa-apa.” Ketika kita berkata begitu berarti kita punya segala sesuatu, karena kita punya Tuhan dan Tuhan memiliki segala kekayaan.