SURAT GEMBALA Surat Gembala
Keputusan Yang Ekstrem
25 September 2020

Saudaraku,

Setiap saat semua orang bisa menghadapi kepahitan hidup yang membuat mata hatinya menyadari bahwa realitas hidup ini memang pahit. Dan semua orang pasti mengalaminya. Tapi mestinya kita tidak menunggu sampai kita menghadapi masalah besar dulu baru mengerti realitas ini. Dari semua realitas yang kita hadapi dalam hidup ini, realitas yang paling berat kita hadapi adalah kekekalan.

Bahkan, sebelum menghadapi kekekalan, seseorang sudah menghadapi bayang-bayang maut ketika dia di ujung maut. Itu keadaan yang sangat mengerikan. Bagaimana mengatasi keadaan itu? Satu caranya, mengalami Tuhan. Tuhan itu realitas; realitas yang tidak cukup hanya dipelajari dengan mendengarkan khotbah, membaca buku, menyusun doktrin dan sistematika teologi. Harus dialami, karena Dia Allah yang hidup, Dia Allah yang hadir, Dia Allah yang nyata, harus dialami.

Mengalami Allah itu membutuhkan keputusan, bukan lagi “asal mau, berdoa; kalau tidak mau, tidak berdoa. Lagi senang belajar kebenaran, belajar. Lagi tidak senang, tidak belajar.” Bukan begitu. Ambil keputusan untuk mengalami Tuhan. Untuk dapat mengalami Tuhan, maka:

Pertama, duduk diam di kaki Tuhan. Bukan tidak mungkin, setelah sekian lama kita berdoa, seakan-akan Tuhan tidak ada, seakan-akan Tuhan tidak nyata, tetapi kita harus tetap terus diam di kaki Tuhan, mencari wajah-Nya.

Kedua, memerhatikan setiap peristiwa kehidupan yang kita alami. Ternyata itu mengandung atau memuat manuver Tuhan, memuat kehadiran-Nya. Sangat tipis, sangat halus, tapi orang yang haus akan Allah, didasarkan oleh kerinduan hatinya untuk menyenangkan Dia, untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela, akan membuat dia bisa menangkap gerakan Allah melalui peristiwa-peristiwa kehidupannya. Tentu kita juga harus belajar Alkitab.

Ketiga, meninggalkan dunia. Meninggalkan dunia menyangkut 2 hal, yaitu: berani hidup tidak bercacat tidak bercela—segala bentuk kesalahan tidak kita lakukan baik dalam pikiran, perasaan, perkataan atau apalagi perbuatan—dan berani meninggalkan kesenangan apa pun di dunia ini. Kita tidak bisa menemukan Allah, sementara kita masih menganggap ada sesuatu yang menyenangkan.

Bukan berarti kita tidak boleh punya kesenangan. Boleh, asalkan kesenangan-kesenangan tersebut bisa kita nikmati bersama Tuhan. Kesenangan-kesenangan yang tidak bisa kita nikmati bersama Tuhan, jangan kita nikmati. Tetapi kalau sesuatu itu kita nikmati dimana Tuhan tidak ikut menikmatinya, berarti kita memisahkan diri dari Allah. Itu yang Tuhan tidak kehendaki. Apalagi kalau kita sampai terjebak dalam keinginan dan ambisi yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Kita tidak bisa menemukan Dia.

Kita harus memaksa diri untuk menemukan Allah. Kalau tidak memaksa diri, tidak bisa karena kita mempunyai daging yang menuntut untuk dipuaskan. Dan itu komitmen yang harus terus di-update. Dan ini yang bisa membuat kita melepaskan diri atau meninggalkan dunia ini.

Allah itu sabar sekali. Dia menuntun kita walaupun kita belum serius berurusan dengan Dia. Maka, dalam berurusan dengan Allah kita tidak boleh ekstrem, tetapi kita harus sangat ekstrem. Sebab kita berurusan dengan Allah semesta alam yang menciptakan langit dan bumi, Allah yang dahsyat, Allah yang besar.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono