SURAT GEMBALA Surat Gembala
KEJUTAN HIDUP
01 January 2021

Saudaraku,

Tuhan berbicara melalui sejarah. Peristiwa-peristiwa hidup yang dialami manusia tidak ada yang terjadi secara kebetulan, semua di dalam kontrol monitor Allah. Dan semua itu pasti untuk penggenapan rencana Allah bagi kemuliaan-Nya. Untuk hal-hal yang besar—seperti perang dunia, bencana alam, dan musibah-musibah yang menelan banyak korban, atau kejadian-kejadian yang dinilai besar—pasti juga memiliki rencana besar di dalamnya. Termasuk COVID-19 ini. Apa pun kausalitas atau penyebab dari wabah ini, kalau bukan Tuhan yang mengizinkan, tidak akan pernah mewabah di dunia. Kita harus mengerti bahwa pasti ada pesan dan nasihat yang Tuhan mau berikan kepada kita melalui keadaan yang sulit ini.

Paling tidak, keadaan-keadaan sulit yang diizinkan Allah terjadi dalam hidup kita merupakan cara Allah untuk mengingatkan dan menyadarkan kita betapa rentannya manusia itu. Agar manusia tidak bisa menjadi sombong, agar manusia merendahkan diri di hadapan Allah. Sebab, Allah menentang orang congkak (Yak. 4:6). Jadi dengan keadaan sulit yang dihadapi oleh manusia, manusia mestinya menyadari betapa terbatasnya manusia itu, betapa rentannya manusia itu. Sehingga manusia digiring untuk merasa membutuhkan Allah. Tentu saja kalau manusia membutuhkan Allah, bukan sekadar bisa lolos dari persoalan hidup yang bersifat temporal, sebab pada akhirnya persoalan terbesar yang dihadapi manusia adalah kematian kedua, yaitu terpisahnya manusia dari hadirat Allah.

Ketika manusia menghadapi keadaan sulit, apa pun bentuknya, manusia disadarkan mengenai realitas. Dan faktanya, memang kalau tidak dikejutkan oleh pergumulan-pergumulan hidup yang menyakitkan, mencekam, menakutkan, orang tidak melihat realitas tersebut. Manusia bisa terlena, terbuai oleh keadaan nyaman. Padahal manusia menjalani kehidupan yang riil, bukan mimpi. Manusia harus menghadapi realitas, dan realitas yang paling dahsyat adalah ketika manusia menghadap takhta pengadilan Allah. Apakah diperkenan masuk ke dalam Rumah Bapa, menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, atau ditolak (Mat. 7:21-23).

Saudaraku,

Kita harus bisa menangkap, menghayati dan mengalami bahwa Allah yang tidak kelihatan itu riil. Ironisnya, orang lebih percaya ada setan lalu takut di tempat gelap, daripada realitas adanya Allah yang memiliki mata seperti candid camera yang selalu mengawasi kita. Manusia yang hanyut di dalam kesenangan, terbuai oleh dunia ini, tidak akan sungguh-sungguh menghayati realitas Allah yang hidup. Allah itu lebih dari realitas; realitas di atas realitas. Orang yang bersentuhan dengan Allah pasti akan terimpartasi, tertular oleh kekudusan-Nya. Itu realitas yang akan membawa seseorang layak masuk Kerajaan Surga, dimana tidak ada yang najis ada di situ. Jika kita sungguh-sungguh bersentuhan dengan Allah, maka tidak bisa tidak, hidupnya akan berubah.

Maka kejutan-kejutan hidup yang kita alami itu bisa merupakan peringatan, agar mata kita tengadah. Tetapi, ironis, ada orang-orang yang tetap keras kepala. Kalau Tuhan sudah memberi kejutan lalu Saudara tidak mau sadar, ini masalah. Tuhan bisa tidak memberi kejutan lagi, dibiarkan. Makanya kita dapati, ada orang yang sampai pada umur tua tidak mampu hidup suci. Sebaliknya, kalau seseorang menghayati keberadaan Allah, maka ia akan takut dan gentar yang sepatutnya, yang membuat seseorang tidak akan hidup sembrono.

Hidup itu sangat tragis. Tidak ada yang dapat kita harapkan di bumi ini. Dan dengan berprinsip demikian, kita jadi berani menghadapi apa pun, termasuk kematian, sebab tidak ada ikatan. Dengan kejutan, keadaan sulit yang Tuhan izinkan kita alami, kita diajar untuk memandang ke atas. Tapi banyak orang sudah tidak sanggup, karena usianya sudah panjang dan memang tidak pernah bergaul dengan Allah. Mau dipaksa juga susah. Kalau Saudara tidak sungguh-sungguh dengan Tuhan, Saudara mau apa? Apa yang diandalkan? Apa yang Saudara mau andalkan? Seandainya Anda kaya, seberapa lama Anda kaya? Ayo, kita sadar dan bertobat.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono