SURAT GEMBALA Surat Gembala
Kehilangan Kesempatan (Bag.2)
28 June 2020

Saudaraku,

Pertobatan dalam kekristenan adalah perubahan seluruh gaya hidup yang digerakkan oleh kodrat baru, bukan oleh pendidikan moral semata-mata. Dimana kita akan selalu memancarkan kehidupan Kristus. Tidak ada kebencian terhadap orang, walaupun orang menjahati dan membully kita, kita tidak akan membalas. Kita tetap teduh. Kalau kita melihat penderitaan orang, hati kita mudah pecah. Kita tidak perlu didorong-dorong untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Kita yang harus bertanya kepada-Nya apa yang harus kita lakukan. Supaya sebelum akhir hidup kita, kita sudah menyelesaikan bagian kita.

Saudara masih punya kesempatan, kalau mau. Untuk menembus batas, melewati batas-batas hidup keberagamaan, lalu memiliki pengalaman baru mengenakan kodrat ilahi. Dan ini yang sebenarnya dimaksud dengan kelahiran baru atau hidup baru di dalam Tuhan. Bukan sekadar jadi orang baik, lalu memiliki tekad untuk menjadi pendeta. Tidak cukup.

Jangan punya target hidup yang rendah. Hanya melewati hari—studi, berkarir, menikah, punya anak, punya fasilitas, jika mungkin jadi orang kaya—padahal itu semua akan berlalu, sia-sia. Bukan tidak boleh memiliki semua itu, tetapi lebih dari semua berkat jasmani, Allah ingin kita menerima yang terbaik yang Ia sediakan. Dan itu tidak bisa terjadi secara otomatis atau instan, melainkan lewat perjalanan panjang yang bertahap. Kalau hanya dewasa mental, belajar hukum tidak perlu sampai tahunan, 3 bulan juga bisa menguasai hukum apa yang baik dan jahat, halal dan haram. Tapi untuk mengubah kodrat itu perlu kebenaran dan Roh Kudus yang menuntun dan segala peristiwa yang terjadi yang Allah izinkan untuk merubah kodrat. Takes time!

Saudara punya ketertarikan hidup di mana? Kalau Anda tidak tertarik dengan hal ini, tidak bisa. Sebab kalau untuk bisa masuk wilayah ini orang harus berani meninggalkan percintaan dunia. Yang ini sulit sekali ditawarkan kepada orang-orang modern yang hatinya sudah terpikat, sudah terlanjur “nikah” dengan dunia, atau paling tidak sudah “bercinta, menyatu” dengan dunia.

Anugerah Allah yang begitu besar yang disediakan, disia-siakan. Maka Alkitab berkata “kamu jangan seperti Kain yang menukar hak kesulungan dengan semangkuk makanan.” Roma 8 mengatakan bahwa kita memiliki karunia sulung roh, artinya potensi untuk menjadi anak-anak Allah. Tetapi kalau kita tidak memiliki respons yang benar, kita tidak akan pernah mengalami berkat keselamatan itu. Jangan sampai kita kehilangan kesempatan berharga itu!

 

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono