SURAT GEMBALA Surat Gembala
KEHILANGAN KESEMPATAN (1)
21 June 2020

Saudaraku,

Kekristenan akan sangat kita hargai dan syukuri, kalau kita mengerti bahwa di dalam kekristenan itu ada kuasa dimana kita dapat menjadi anak-anak Allah. Bukan hanya status yang kita akui dan yakini, tapi keberadaan yang benar-benar kita hayati, rasakan. Sehingga, kepastian kita masuk surga juga bukan sekadar keyakinan, melainkan sebuah penghayatan dari perjalanan hidup kita sebagai anak-anak Allah dan yang mengenakan, memperagakan kehidupan anak Allah tersebut.

Allah sejak semula memang merancang manusia menjadi anak-anak-Nya. Menjadi anak-anak-Nya dan berkeberadaan seperti Bapanya. Itulah sebabnya manusia diciptakan menurut “gambar dan rupa.” “Gambar” artinya manusia memiliki komponen-komponen yang ada pada Allah, juga ada pada manusia, yaitu pikiran dan perasaan. Dari pikiran dan perasaan inilah bisa dihasilkan, diciptakan, dibuat kehendak. Kalau pikiran dan perasaannya benar, kehendaknya pasti juga benar. Kalau pikiran dan perasaannya tidak berkualitas, pasti kehendaknya juga tidak berkualitas.

Kejatuhan manusia dalam dosa yang dikatakan dalam Roma 3:23 menunjukkan manusia telah gagal mencapai apa yang Allah kehendaki, sehingga manusia kehilangan atau kurang kemuliaan Allah. Manusia tidak bisa menjadi anak-anak Allah karena keberadaannya tidak sesuai dengan standar anak Allah. Itulah sebabnya keselamatan yang diberikan di dalam dan melalui Tuhan Yesus agar kita dikembalikan ke rancangan semula, agar kita juga bisa memiliki pikiran dan perasaan Kristus.

Dan itu sebenarnya target yang kita harus capai. Tidak muluk-muluk, itu saja sudah sukar sekali. Tetapi kalau kita bisa mencapainya, hidup kita seperti orkestra yang indah. Seperti bunga yang selalu harum di hadapan Allah. Itulah sebabnya kita ke gereja untuk mendengar Firman, bukan sekadar berliturgi. Supaya Firman itu memperbaharui pikiran kita. Kita dimotivasi, diinspirasi. Dan tentu kita di rumah juga tidak boleh berhenti mencari kebenaran di tengah-tengah kesibukan hidup kita.

Banyak orang tidak mengerti hal ini. Banyak orang menganggap murahan kekristenan. Sebab, bicara mengenai Allah hanya mengenai kuasa-Nya. Orang hanya sibuk untuk mengalami realitas kuasa Allah, tapi tidak mengalami realitas sifat/karakter Allah yang hendak dicurahkan atas kita. Bangsa Israel mengalami pencurahan kuasa Allah yang tidak terbatas. Laut saja dibelah, tembok yang bisa dilewati dua kereta dirobohkan, Manna bisa diturunkan setiap hari. Itu kuasa Allah yang tidak terbatas. Tetapi di Perjanjian Baru, karakter, sifat Allah yang disediakan tanpa batas untuk bisa kita asup/terima sejauh kita mau. Jangan sampai kita disibukkan dengan perkara-perkara dunia sehingga kita kehilangan kesempatan untuk mengubah kodrat.

 

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono