SURAT GEMBALA Surat Gembala
Kebersamaan Dengan Yesus
11 September 2020

Saudaraku,

Tuhan itu lebih besar dari segala hal yang kita hadapi dan akan kita alami. Maka yang penting adalah kita berada dalam kebersamaan dengan Tuhan. Di sini justru kita diajar oleh Tuhan untuk hidup dalam ketergantungan dengan Dia. Kita tidak tahu hari esok dan memang tidak perlu tahu, selama kita masih ada bersama dengan Tuhan. Sebab, apa pun yang kita hadapi, Tuhan lebih besar daripada segala hal. Dalam hidup, memang selalu ada kesulitan. Firman Tuhan berkata, “jangan engkau kuatir, sebab hari esok ada kesusahannya sendiri, kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Dunia ini memang tidak dirancang untuk dihuni dengan nyaman, sebab dunia sudah dihukum, terkutuk. Jadi, kalau kita mengharapkan dunia menjadi Firdaus, kita berkhianat kepada Tuhan. Justru, keadaan hari ini membuat kita sadar bahwa dunia ini bukan rumah kita. Keadaan ini harus membuat keadaan kita terdorong, terpicu untuk hidup dalam persekutuan dengan Dia.

Kita percaya bahwa tiada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Tidak ada sesuatu yang terjadi di luar kontrol Allah, semua tetap dalam kendali Allah, Allah mengizinkan. Kalau Allah mengizinkan, berarti ada sesuatu yang Tuhan mau kerjakan. Kita tidak boleh mengganggu maksud Allah dalam kehidupan manusia di bumi secara global, dan secara pribadi masing-masing.

Di suatu kesempatan, Yesus mengajak murid-murid-Nya menyeberang danau Galilea. Saat itu perahu dihembus gelombang besar, dan Yesus tertidur. Dalam ketakutan, murid-murid membangunkan Dia dan berkata, “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Tuhan menjawab, “Mengapa kamu takut?” Apa yang Tuhan kehendaki di balik jawaban-Nya adalah agar mereka tidak takut dan tetap percaya, sebab di dalam perahu itu ada Tuhan Yesus. Maka yang penting adalah kebersamaan dengan Tuhan. Kenyataan yang kita hadapi, masalah yang kita hadapi seringkali masih membuat kita takut. Lalu bagaimana agar kita tidak merasa takut dan khawatir?

Pertama, hadapi dengan tidak takut; kita tidak tahu apa yang akan terjadi hari esok ke depan, dan kita tidak perlu tahu. Jangan merasa bangga bila mendapat penglihatan untuk tahu apa yang terjadi. Kelompok orang tertentu itu senang hal seperti itu. Tapi kalau Kristen dewasa, tidak perlu mempersoalkannya. Alkitab mengatakan bahwa kondisi dunia akan bertambah buruk. Tetapi bagaimana buruknya, kita tidak tahu dan tidak perlu tahu. Yang penting, kita berjalan dengan Tuhan. Sebab kalau kita berjalan dengan Tuhan—apa pun yang terjadi, Dia Bersama—kita tidak akan tenggelam. Justru di situ letak percaya yang benar. Jangan paksakan kehendak kita, semua ada dalam kendali Tuhan. Dan kita tidak memiliki hak untuk mengatur Tuhan.

Kedua, miliki pengertian bahwa penyertaan Tuhan tidak menjamin kita tidak memiliki masalah. Kalau Saudara melihat perjalanan orang Kristen mula-mula dari tahun 30 sampai tahun 300 lebih, mereka terus teraniaya. Di mana Tuhan? Mereka bisa dibunuh, disalib, dibakar hidup-hidup, dipancung, seakan-akan Yesus kalah oleh Dewa Zeuz. Seakan-akan Yesus tunduk terhadap Dewa Hermes karena orang Kristen tidak berdaya. Sejatinya, itu dirancang Tuhan supaya gereja zaman itu menjadi murni. Demikian juga dengan suasana dunia hari ini yang semakin bertambah jahat.

Ketiga, benahi diri. Yang utama bukan bagaimana menyelesaikan masalah, tapi temukan apa yang masih salah dalam hidup kita. Dan Tuhan pasti akan memberitahukan jika kita sungguh-sungguh memperkarakannya di hadapan Tuhan. Jadi, yang kita persoalkan itu bukan masalah di luar sana, melainkan di dalam. Kenapa kita tidak percaya, kenapa kita takut? Jangan kita berkata, “Tuhan, selesaikan masalah ini. Aku percaya oleh pertolongan-Mu.” Biarpun Tuhan tidak menolong, aku percaya. Sekalipun hatiku dan dagingku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku, tetaplah Allah selamanya.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono