SURAT GEMBALA Surat Gembala
Keberanian untuk Berbeda
12 January 2020

Saudaraku,

Sejatinya, kesucian hidup tidak kita peroleh nanti setelah kita mati; sebab kesucian itu bukan anugerah, melainkan buah dari perjuangan mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Jadi, tidak ada sesuatu yang najis yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Karena itu, kesucian harus diperjuangkan. Suci itu bukan hanya tidak berbuat dosa, melainkan tidak bisa berbuat dosa lagi. Kita sudah tidak bisa membalas kejahatan dengan kejahatan; ketika kita memiliki kesempatan mencuri, kita tidak akan mencuri; ketika kita punya kesempatan untuk dipuji, kita pun tidak merasa bangga.

Gaya hidup kita menunjukkan kualitas kesucian kita. Namun, masalah yang kita hadapi sekarang adalah warna hidup atau gaya hidup sekitar kita sudah sedemikian rusak, sehingga kita sering terpengaruh. Padahal, standar gaya hidup kita yang seharusnya adalah Tuhan Yesus. Bagaimana menjadi seperti Yesus? Itu rumit, karena:

Pertama, sekarang ini, kita hampir tidak menemukan orang seperti Yesus. Tidak ada teladan. Pendeta saja sering tidak menjadi teladan. Aktivis, pimpinan gereja, pimpinan komisi, mereka semua tidak menjadi teladan. Jika di gereja tidak ditemukan teladan, apalagi di luar sana; sudah tidak ada sama sekali.
Kedua, untuk bisa memiliki kehidupan seperti Yesus, seseorang harus bertemu dengan Tuhan secara pribadi. Hanya Dia yang bisa mengubah diri kita menjadi seperti diri-Nya. Padahal, rata-rata Saudara tidak memiliki perjumpaan dengan Tuhan. Rata-rata Saudara telah dibodohi oleh pendeta, seakan-akan hanya pendeta yang bisa berdoa, dekat dengan Tuhan, lalu Saudara hanya menjadi orang yang minta didoakan. Saudara sendiri tidak menjumpai Tuhan, tidak mengalami Tuhan.

Ketiga, untuk bisa memiliki kehidupan seperti Yesus, kita harus mengubah cara berpikir kita. Mengubah cara berpikir itu memerlukan waktu. Selain juga memerlukan sarana, yaitu Firman, mengubah cara berpikir juga memerlukan ketekunan sampai benar-benar mengalami perubahan.

Keempat, kita sudah memiliki selera hidup yang sudah sesat, yang tidak sesuai dengan Tuhan. Jadi, sering ada konflik antara pengertian kita mengenai kebenaran dan keadaan keberadaan kita atau kodrat dosa kita.

Saudaraku,

Di sini, dibutuhkan suatu sikap yang ekstrem, yaitu berani berbeda, di mana kita memiliki satu warna yang berbeda dengan siapa pun, dan hanya satu warna dengan Yesus, teladan kita. Dosa itu memiliki banyak warna, tetapi kebenaran hanya memiliki satu warna. Saudara semua memiliki keberadaan yang berbeda, dengan warna yang berbeda-beda. Namun, kebenaran itu hanya memiliki satu warna, yaitu Tuhan Yesus. Inti Injil adalah pengubah hidup untuk menjadi manusia Allah, menjadi seperti Yesus (mengenakan kodrat ilahi), mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Kalau suatu hari kita mati, lalu warna kita berbeda dengan Tuhan, kita tidak bisa mengubah warna lagi. Dunia ini adalah persiapannya. Kalau kita sudah mati, kita sudah tidak lagi memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri. Setelah kita menjadi Kristen, sebenarnya fokus kita hanya untuk mengurusi bagaimana kita sempurna seperti Yesus atau serupa dengan Yesus.

Dalam Roma 12:2, Firman Tuhan mengatakan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Untuk itu, kita harus berani memiliki komitmen untuk berubah, untuk mau menjadi seperti Yesus. Jangan banyak urusan lain hingga Saudara lupa mengubah diri. Saya mengerti kalau ini merupakan proses, tetapi proses itu harus berjalan dari sekarang. Karena itu, kalau seseorang masih menikmati dunia, senang dengan dunia, bangga dengan barang yang dimiliki, dia akan terkubur di situ. Ketika Saudara ada di ujung maut, Saudara baru sadar betapa berharganya mendengar firman itu.

Kalau ikut Tuhan, kita harus berani hidup tidak wajar, berani berbeda dengan orang lain. Kita harus berani berbeda dalam cara berpikir dan gaya hidup kita. Walaupun faktanya kita belum terlalu berbeda, perjuangan untuk berbeda harus dilakukan terus, sampai kita nanti mengalami pertumbuhan-pertumbuhan sampai menjadi orang yang sewarna dengan Tuhan. Kesucian itu kita rajut sejak dari sekarang. Masalah yang terjadi dalam hidup kita diizinkan Tuhan terjadi untuk menggarap kita masing-masing. Melalui itu semua, kita memiliki perjumpaan dengan Tuhan. Dahulu, saya menganggap masalah itu bencana sehingga pada akhirnya, kekecewaanlah yang tercipta dalam batin. Namun setelah sadar dan mengerti, ternyata Tuhan mengubah hidup saya melalui semua itu. Itulah cara Tuhan membela kita. Sekarang, apa pun keadaanmu, jangan menyesalinya sebab melalui semua itu Tuhan mengajarkan jalan-jalan-Nya untuk kita. Jangan mencari yang lain! Hari-hari hidup kita hanyalah untuk mencari Tuhan, titik. Tuhan itu tahu apa yang kita butuhkan.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono