SURAT GEMBALA Surat Gembala
Kebaikan Tuhan
17 November 2019

Saudaraku,

Kita sudah terbiasa mendengar dan mengucapkan bahwa Allah itu baik. Kita sudah sering mendengar dan bahkan kita sendiri yang mengucapkan bahwa Allah itu baik. Namun, bagaimana kita bisa memahami dengan benar isi dan pengertin “baik” di situ? Kalau kita tidak bertumbuh dewasa, kita akan gagal memahami apa yang “baik.” Ketika kita belum dewasa rohani, kita memahami kebaikan Tuhan dengan ukuran tubuh sehat, lulus sekolah, mendapat gelar sarjana, mendapat pekerjaan dengan gaji cukup, mendapat jodoh, memiliki anak, sembuh dari sakit, lolos dari masalah (masalah yang terkait dengan kebutuhan jasmani). Padahal, hal-hal ini juga bisa dimiliki orang-orang yang tidak mengenal Tuhan Yesus; orang-orang beragama lain, bahkan orang yang tidak beragama.

Ironisnya, bahkan orang-orang fasik yang tidak takut Tuhan dan tidak peduli hukum-Nya, limpah dengan apa yang dipandang oleh orang-orang Kristen yang tidak dewasa sebagai isi atau bentuk kebaikan Tuhan. Betapa miskinnya pengertian “kebaikan” di sini. Itulah sebabnya, di Injil Yohanes 6, Yesus berkata kepada orang-orang yang kelihatannya begitu antusias, bersemangat mencari Tuhan. Tuhan berkata, “Kamu mencari aku bukan karena melihat tanda-tanda itu, melainkan karena kamu makan roti sehingga kenyang.” Artinya, mestinya kamu melihat tanda (Yun. semeion) atau “petunjuk arah.” Mestinya kamu sudah mengerti apa maksud kedatangan-Ku ke dunia, apa isi keselamatan, apa isi daripada buah kurban kematian Yesus di kayu salib. Lalu Tuhan berkata, “Bekerjalah untuk roti yang tidak dapat binasa. Jangan bekerja untuk roti yang dapat binasa.”

Saudaraku,

Kita ini makhluk kekal, dan harus selalu diingatkan bahwa kita ini makhluk kekal. Sebenarnya Allah merancang manusia tidak perlu meninggal dunia, tetapi manusia harus mati karena bumi ini juga akan menjadi lautan api dan tidak bisa menjadi hunian yang ideal. Maka Tuhan mempersiapkan langit baru bumi baru. Dan orang percaya mendapatkan tempat itu. Itu lebih dari semua keberhasilan dan sukses yang bisa kita capai.

Tetapi jangan kita tidak tahu berkat inti dari keselamatan. Jangan kita menjadi bodoh, meleset, menyimpang, tidak mengerti tujuan kasih yang Allah berikan kepada kita. Dan banyak orang Kristen yang ‘gagal paham’ di sini. Kasih Tuhan diukur dengan kehidupan di bumi yang nyaman, bisa dijalani smooth, running well. Padahal faktanya, hidup kita susah, tapi di gereja berkata “Tuhan baik, memberkati.” Coba jujur, seberapa berkat yang kita miliki? Seberapa nyaman hidup kita? Jarang orang yang hidupnya nyaman tanpa masalah.

Jika kita mengerti karya salib Tuhan yang luar biasa, fokus kita bukan pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Karena salib Tuhan Yesus memperdamaikan kita dengan satu-satunya Allah yang benar, yang bisa memberikan kita Roh Kudus. Dan Roh Kudus menuntun kita kepada seluruh kebenaran yang dapat membuat kita menjadi anak-anak Allah; bukan hanya berstatus sebagai anak Allah, melainkan berkeberadaan sebagai anak Allah dengan kodrat ilahi yang kita miliki. Dan berkat itu disediakan Tuhan setiap hari. “Kasih Tuhan tak berkesudahan, selalu baru setiap hari,” apa itu? Pembentukan Tuhan untuk menjadikan kita orang-orang yang sempurna. Maka Allah bisa bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan.

Tapi kalau fokus kita adalah pemenuhan kebutuhan jasmani, maka kita akan meleset. Karena ketika Allah membidik karakter kita yang buruk melalui kejadian-kejadian yang Tuhan izinkan kita alami, kita gagal menangkap lawatan Tuhan. Karena kita menganggap hal itu sebagai kesulitan, persoalan, musibah. Apalagi kalau kita berdoa lalu Tuhan tidak menjawab, kita pikir itu malapetaka. Padahal, melalui kejadian-kejadian itu Tuhan mau bentuk, memroses kita; ada berkat rohani. Perubahan ini tidak bisa mendadak cepat, tidak bisa instan atau spontan cepat, tetapi lewat proses.

Saudaraku,

Mestinya kita bisa melihat kebaikan Tuhan, bahkan kehadiran-Nya dalam langkah hidup kita setiap hari, yaitu ketika kita menyadari bagaimana Allah yang baik mendidik kita dengan membidik kelemahan, kekurangan kita. Dan ketika kita menyadari perubahan itu lewat proses perubahan melalui persoalan-persoalan hidup yang kita jalani, kita membuktikan Allah itu hidup.

Allah itu hidup bukan hanya dibuktikan lewat keadaan sakit lalu menjadi sembuh; bisa saja itu, tapi setan juga bisa buat. Kehadiran Allah dan kasih-Nya bukan hanya dibuktikan dengan persoalan-persoalan hidup yang bisa kita lewati-sebab ternyata orang-orang di luar Kristen pun bisa melewati persoalan-persoalan tersebut-tetapi kehidupan yang diubah dari manusia yang berkodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi, tidak bisa dikerjakan oleh siapa pun, karena itu mustahil bagi manusia, tapi tidak mustahil bagi Allah.

Raihlah kesempatan tak ternilai ini. Memang ketika Saudara masih baru menjadi orang Kristen, begitu mudah doa dijawab, mukjizat terjadi, persoalan terurai, karena kita dipandang belum akil baligh. Tetapi ketika kita dipandang sudah dewasa, Tuhan tidak mudah menjawab doa kita. Masalahnya, permintaanmu apa? Kalau permintaan itu tidak sesuai dengan kehendak Allah, Allah tidak akan memberi. Oleh sebab itu, kita harus bertumbuh dewasa lewat kebenaran firman yang kita pelajari ini. Kita harus berani untuk menjadi sesuci-sucinya, sekudus-kudusnya, sebersih-bersihnya, karena itu adalah berkat.

Kalau Saudara tidak mau mendengar peringatan Tuhan ini, Saudara masih hidup dalam kehidupan yang kotor, Saudara akan menyesal. Ketika Saudara melihat keagungan Tuhan, Saudara akan tahu betapa nista dan hinanya dirimu di hadapan kesucian Allah. Lebih baik kita lihat nestapa dan kenajisan kita sekarang, supaya kita membenahi diri dengan serius. Dan Allah akan memberikan kepada kita bukan saja kemampuan, melainkan juga sarana dan prasarana yang Tuhan izinkan berlangsung dalam hidup kita, agar kita mengalami perubahan. Jangan berkompetisi di dalam hal-hal duniawi, tetapi berkompetisilah di dalam kekudusan.

Teriring salam dan doa,
Erastus Sabdono