SURAT GEMBALA Surat Gembala
KARUNIA BUKANLAH UKURAN
21 October 2018

Saudaraku,
Bahaya yang dihadapi jemaat Tuhan hari ini adalah serangan Iblis melalui saluran alam roh atau dunia supranatural. Iblis adalah makhluk supranatural, sehingga mudah sekali memperdaya hamba Tuhan yang tidak dilengkapi dengan kebenaran Alkitab. Demikian juga terhadap jemaat Tuhan yang memang tidak dapat diperdaya oleh keinginan daging atau pelanggaran moral berat, tetapi yang membuka diri terhadap fenomena alam roh dengan kerinduan yang tulus untuk menjadi lebih rohani dan berkenan kepada Tuhan. Ketulusan hati yang tidak disertai ketekunan belajar Firman yang murni tidak memiliki arti banyak. Faktanya, banyak orang yang hatinya tulus tetapi bisa disesatkan. Kalau belum terlalu lama disesatkan oleh pemikiran yang salah, mereka masih memiliki peluang untuk diselamatkan. Orang-orang tulus akan lebih cepat menangkap kebenaran, selama nuraninya belum terlalu rusak oleh ajaran palsu.

Iblis memang tidak mendorong penyesat-penyesat dalam gereja untuk membunuh, berzina atau melakukan perbuatan-perbuatan amoral lain yang nyata-nyata dianggap salah secara moral umum, tetapi Iblis mengecoh mereka dengan “pemalsuan” alam supranatural tersebut. Mereka menyangka bahwa mereka memperolehnya dari Tuhan, padahal mereka telah tertipu oleh Iblis. Mereka sudah merasa diri kudus dan pantas menjadi hamba-hamba Tuhan yang istimewa, tidak perlu lagi memfokuskan diri pada proses keselamatan, yaitu dikembalikan kepada rancangan semula. Mereka bisa menjadi orang-orang yang nampaknya seperti berprestasi dalam pelayanan tetapi hidup pribadi mereka tidak bisa dinikmati oleh Tuhan. Suatu hari kelak Tuhan akan berkata, bahwa Tuhan tidak mengenal mereka (Mat. 7:21-23). Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa orang yang kelihatan berkelakuan baik atau bermoral baik belum tentu tidak sesat. Banyak orang tertipu oleh kelakuan yang kelihatannya baik dari seorang hamba Tuhan, tetapi ternyata ia tidak membawa jemaat kepada kebenaran yang menyelamatkan. Perlu dicatat di sini bahwa kelakuan baik seseorang tidak menyelamatkan orang lain. Kelakuan baik yang dikehendaki oleh Allah Bapa adalah kesempurnaan pribadi Kristus. Orang-orang seperti ini akan menuntun orang lain kepada kebenaran dan tidak akan melukai orang lain.

Saudaraku,
Salah satu ciri dari hamba-hamba Tuhan yang menyesatkan jemaat adalah biasanya dalam pengajaran sangat menekankan hal-hal supranatural (karunia-karunia roh), tetapi mengabaikan pengajaran Alkitab yang menghasilkan buah roh (Gal. 5:22-23). Mereka menjadikan pengalaman dunia supranatural atau alam roh sebagai ukuran kesempurnaan. Tentu mereka juga memberi kesan kepada jemaat bahwa mereka adalah “orang-orang istimewanya Tuhan”. Hal ini dimaksudkan agar mereka mendapat legitimasi dari jemaat untuk dipercayai sebagai hamba Tuhan yang benar dan pantas diikuti. Jika ukuran yang digunakan mereka untuk menunjukkan kedewasaan dan kesempurnaan adalah karunia roh atau alam supranatural, maka hal ini sangat bertentangan dengan Alkitab. Ukuran kedewasaan dan kesempurnaan adalah “seperti Yesus”. Dan untuk membedakan apakah seseorang adalah nabi palsu atau bukan terlihat dari buah rohnya. Buah roh di sini adalah pribadi seperti Kristus.

Iblis memang sangat cerdik, oleh karenanya Paulus menyatakan bahwa mereka dapat menyamar sebagai malaikat terang (2Kor. 11:13-15). Di sini kita membutuhkan kepekaan roh yang tinggi serta nalar yang sehat atau pikiran yang sehat untuk “membedakan roh”. Membedakan roh di sini maksudnya dapat membedakan apakah suatu gejala-gejala pekerjaan yang berkaitan dengan alam roh tersebut berasal dari Allah atau dari Iblis. Kita harus kembali kepada apa yang merupakan prinsip dalam Alkitab, yaitu kebenaran Firman yang dapat menghasilkan buah roh. Bagaimanapun, Iblis sukar menyembunyikan “hakikat” karakternya yang jahat. Karunia bisa dipalsu, tetapi buah roh tidak bisa.

Kalau kita berbicara mengenai pemalsuan karunia-karunia Roh di dalam gereja, hal ini hendaknya tidak memicu kita untuk menghakimi dan menuduh hamba Tuhan yang berbahasa roh, bernubuat, menyaksikan penglihatan, mengadakan mukjizat dan berbagai demonstrasi karunia Roh sebagai nabi palsu. Maksud penjelasan ini dikemukakan adalah agar kita menjadi waspada terhadap fenomena tersebut bila terjadi di dalam gereja dan selalu memperhitungkan adanya penyesatan melalui orang-orang yang mengaku hamba Tuhan.

Salam dan doa,

Erastus Sabdono