SURAT GEMBALA Surat Gembala
Karakter Penuai
20 January 2019

Saudaraku,
Seorang penuai harus memiliki kualitas karakter yang memenuhi standar seorang penuai, yaitu berkarakter Kristus. Ini bukan hal yang mudah. Membangun karakter menuntut kesungguhan dalam pengiringan kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Ini sama dengan rela kehilangan nyawa. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah komitmen yang kuat, permanen dan murni. Ini berarti setiap hari dalam kehidupan ini harus berkerinduan kuat untuk bertumbuh dengan memindahkan hati ke Kerajaan Bapa di surga, sebab di mana ada hartamu, di situ hatimu berada (Mat. 6:21).

Kita harus memahami apa yang diajarkan Tuhan Yesus dan meneladani gaya hidup-Nya, sehingga seorang penuai berpusat pada Kristus. Berpusat kepada Kristus artinya memiliki pikiran dan perasaan-Nya. Di dalam diri kita ada Roh-Nya yang memampukan kita menggelar hidup sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan (Flp. 2:5-7). Hal ini dimaksudkan agar setiap pelayan jemaat dapat menjadi teladan (1Kor 11:1). Ini suatu kemutlakkan yang tidak boleh digantikan dengan apa pun. Seorang yang berkarakter Kristus pasti mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Dengan mengerti kehendak Bapa, maka seorang penuai dapat menjadi sekutu Allah. Dengan demikian seorang penuai melayani perasaan Allah, memuaskan atau menyenangkan hati-Nya.

Saudaraku,
Kalau seorang penuai tidak semakin berkarakter seperti Kristus, apa arti pelayanannya? Tidak ada artinya sama sekali. Motif dan tujuan pelayanannya pasti salah, tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Berkenaan dengan hal ini, kita mengerti mengapa kepada pelayan-pelayan Tuhan yang sudah memiliki prestasi pelayanan yang luar biasa, bernubuat, mengusir setan dan mengadakan banyak mukjizat demi nama Tuhan, ditolak oleh Tuhan dan tidak dikenal-Nya. Sebab mereka tidak melakukan kehendak Bapa atau tidak berkarakter Kristus (Mat. 7:21-23). Biasanya pelayanan gereja-gereja yang tidak berfokus pada pemulihan gambar diri untuk berkarakter Kristus, isi pelayanannya tertuju pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Salah satau gejalanya adalah Teologi Kemakmuran yang salah. Pengajaran ini melumpuhkan sendi-sendi iman untuk bertumbuh agar dapar berkarakter Kristus.

Maka, setiap penuai harus mamahami apa kehendak Bapa, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Inilah prinsip kehidupan Tuhan Yesus: Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Semua tindakan yang dilakukan selalu seirama dengan kehendak Bapa.

Saudaraku,
Seorang penuai yang berkarakter Kristus bisa dipastikan seorang yang rajin bekerja, bertanggung jawab dalam tugas, giat mengembangkan diri, cakap dalam mengelola waktu dan keuangan pribadi, jujur, cerdas, bijaksana, peka terhadap suara Bapa, peka terhadap penderitaan orang lain dan memiliki integritas dalan keseluruhan hidupnya. Oleh sebab itu kita tidak boleh memisahkan secara mutlak keunggulan dan berkarakter Kristus. Berkarakter Kristus harus termasuk keahlian yang harus dikuasai. Tentu keahlian di sini bukan hanya keahlian dalam pekerjaan gerejani, tetapi juga segala hal yang mendukung terselenggaranya Amanat Agung Tuhan Yesus.

Untuk berkarakter Kristus seseorang harus memasuki sekolah kehidupan sampai menutup mata. Oleh sebab itu, hendaknya seorang penuai tidak boleh puas dengan gelar yang telah disandangnya. Seorang penuai harus terus menerus belajar mengenakan pikiran dan perasaan Kristus, sampai bisa berkata “hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku”.

Saudaraku,
Akhirnya, seorang penuai yang berkarakter Kristus juga ditandai dengan sifat-sifat tertentu antara lain:
Pertama, semata-mata bekerja bagi Tuannya. Tuan di sini adalah Tuhan sendiri. Ini adalah sebuah kehidupan yang dihargai Allah, dan sungguh-sungguh berharga. Kehidupan sebagai milisi Kerajaan Surga semacam inilah yang jarang kita temukan dalam kehidupan orang percaya. Tetapi inilah pola hidup yang seharusnya kita miliki. Orang-orang seperti ini pasti tidak menghamba kepada mamon. Seorang yang hendak melayani Tuhan tidak boleh memikirkan hari depannya dengan kacamata dunia (2Tim. 2:3-4).

Kedua, hidup dalam pengaturan Allah. Kita harus menerima kenyataan bahwa di luar pengaturan Tuhan adalah kehidupan yang tidak tertib, rusak dan kebinasaan. Menjadi hamba Tuhan adalah menjadi seorang yang tunduk kepada pengaturan-Nya. Segala sesuatu yang kita lakukan harus diperuntukkan bagi Tuhan (1Kor. 10:31). Pribadi-pribadi seperti ini adalah pribadi yang mencari perkenanan Tuhan, bukan perkenanan manusia (Gal. 1:10), seseorang yang senantiasa bergumul untuk didapati Tuhan tidak bercacat tidak bercela.

Ketiga, tidak menuntut upah. Seorang yang memiliki hati seorang hamba bagi Tuhan akan bekerja bagi Tuhan tanpa menuntut upah, bahkan sebuah ucapan terima kasih (1Kor. 9:18). Kita bukan pelayan organisasi atau gereja secara organisasi, tetapi pelayan Tuhan yang dipilih melaksanakan pekerjaan-Nya. Pelayanan harus dilakukan dengan hati murni tanpa motif upah. Demi kepentingan tuannya, bersedia berbuat apa saja. Dalam hal ini dituntut kerendahan hati dan kesediaan berkorban dan mengabdi kepada Tuhan. Seorang penuai yang benar, bekerja memandang Tuhan dan tidak mengharapkan imbalan; ia menenpatkan diri sebagai doulos yang melayani tanpa mengharap upah dunia dari pihak manapun.