SURAT GEMBALA Surat Gembala
Jangan Takut
16 August 2020

Saudaraku,

Dari berita yang tersiar, kita dapat melihat dan mendengar kecemasan dan ketakutan banyak orang dalam menghadapi COVID-19. Ada orang yang menjadi sakit bukan karena virus, melainkan karena stres atau depresi. Mereka mengalami ketegangan yang tinggi, sampai benar-benar mengalami gangguan jiwa atau semacam psikosomatik, paranoid, dan sejenisnya. Memang tidak bisa dibantah kenyataan bahwa begitu rentannya manusia terinfeksi virus ini atau ketika menyaksikan banyak korban yang berjatuhan, membuat seseorang menjadi cemas.

Namun di satu sisi kita mendengar orang berkata: “jangan takut,” khususnya di lingkungan para rohaniwan. Tetapi, kalau jujur, ternyata nasihat itu tidak membuat hati orang menjadi kuat atau pun kalau berdampak, tidak banyak orang yang mengalami atau menerima dampak yang positif dari nasihat itu. Mungkin sesaat hatinya menjadi terhibur dan kuat, tetapi ketika kembali dalam kesibukan hidup di tengah-tengah masyarakat, kembali juga perasaan takut dan cemas itu menguasai pikiran dan jiwanya.

Jadi nasihat dan penguatan tidak memiliki dampak yang signifikan. Mengapa? Karena banyak orang tidak memiliki landasan yang cukup untuk tidak takut, landasan untuk tidak khawatir. Kalau kita menasihati orang “jangan khawatir,” atau “jangan takut,” dasarnya apa? Pada umumnya, yang menjadi landasannya adalah “Tuhan beserta, Tuhan melindungi.” Kalau dipersoalkan lebih lanjut, “apa dasarnya Tuhan melindungi?” “apa dasarnya Tuhan menjaga?” Pasti kemudian akan dijawab, “karena Allah itu baik.” Kalau dipersoalkan lagi, “apakah Allah yang baik secara sembarangan memberikan perlindungan dan penjagaan kepada orang yang tidak baik atau yang tidak mau baik?”

Saudaraku,

Banyak orang bersikap licik terhadap Tuhan. Dimana pada waktu tidak ada bahaya, tidak ada masalah, dia tidak sungguh-sungguh berurusan dengan Tuhan. Hidupnya melukai hati Tuhan. Sikap hidupnya tidak menyenangkan hati Allah. Tetapi ketika berada dalam ancaman dan bahaya, baru ia datang kepada Tuhan dan meminta perlindungan-Nya. Saya tidak mengatakan Tuhan tidak akan melindungi, bisa saja Tuhan melindungi, khususnya untuk mereka yang belum dewasa rohani. Yaitu orang-orang Kristen yang baru yang memang belum bisa dituntut untuk hidup berkenan di hadapan Allah, belum bisa memberi diri untuk mengabdi dan melayani Tuhan

Tapi kalau kita sudah puluhan tahun mengikut Tuhan Yesus, dan kita masih berperilaku seperti kanak-kanak rohani, berarti kita manipulatif terhadap Tuhan. Mari kita bertanya pada diri kita sendiri: “apakah saya layak dilindungi oleh Dia?” Apa dasarnya? Jika kita beralasan karena Allah itu baik, apakah kita baik? Jika Saudara berkata: “Allah itu setia,” apakah kita juga setia kepada-Nya? Atau jika Saudara berkata: “Tuhan menyertai saya,” apakah kita menyertai Tuhan? Apakah kita menyertai pekerjaan-Nya?

Ironis, ketika kita senang, kita tidak pernah menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaan. Sukacita kita adalah uang, hiburan, tontonan, dan segala fasilitas dunia. Tetapi ketika dalam keadaan terancam, kita baru mencari Tuhan. Betapa liciknya kita. Dan ini yang dilakukan oleh banyak orang. Tetapi Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk berubah. Kalau kita mau berubah, Tuhan pasti menolong dan memampukan kita.

 

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono