SURAT GEMBALA Surat Gembala
Jangan Gelisah Hatimu
25 December 2020

Saudaraku,

Menghadapi hari-hari akhir di tahun 2020, banyak pertanyaan tercuat dari benak kita. Apa yang akan terjadi di tahun 2021 nanti? Apakah keadaan akan membaik atau malah semakin buruk? Bagaimana keadaan saya dan keluarga saya? Jawaban Tuhan terdapat dalam Yohanes 14:1-3, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.”

Kata “gelisah,” di dalam teks ini adalah talaso. Yang artinya terganggu, tidak tenang, cemas dan tertekan. Setiap hari pasti ada kecemasannya dan Tuhan mengerti itu, maka Tuhan mengatakan: “Jangan gelisah.” Banyak hal yang dapat membuat kita gelisah; dari hal kecil sampai hal besar, dari hal yang beresiko kecil sampai hal yang beresiko besar. Banyak kegelisahan hidup yang dapat menenggelamkan kita, mencuri perhatian kita, lalu tanpa kita sadari membangun selera jiwa. Iblis mau membuat kita gelisah untuk banyak hal yang tidak perlu kita gelisah, sehingga fokus kita menjadi bias (tidak tertuju ke Langit Baru Bumi Baru).

Kalimat “Janganlah gelisah hatimu. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal” berarti: kita harus merasa tenang untuk hal-hal kehidupan di bumi, tapi soal kepastian kita diterima di kemah abadi, kita harus benar-benar serius mempersoalkan atau mempercakapkannya. Nah, di sini kita bicara soal prioritas. Kalau Saudara (misalnya), didiagnosis sakit kanker stadium 4. Walau Saudara punya banyak masalah, tetapi masalah yang satu ini pasti akan menyita perhatian Saudara, bukan? Ada yang berhenti bekerja, ada yang menyerahkan perusahaan kepada keluarga, lalu mulai membuat jadwal pergi ke rumah sakit di luar negeri, merubah pola makan, rajin olahraga demi kesembuhan dari kanker stadium akhir itu. Itu prioritas namanya. Banyak hal yang bisa menggelisahkan kita, sehingga prioritas kita tidak kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya, tapi kepada yang lain.

Seharusnya, walaupun banyak masalah yang menjadi sumber kecemasan, jangan tenggelam dengan kecemasan-kecemasan itu, tapi biarlah hati kita hanya dicemaskan oleh realitas kekekalan. Yang oleh karenanya, kita berusaha untuk mengalami kepastian diterima Tuhan di kemah abadi. Ironis, banyak orang bisa begitu tenang mengahdapi masalah kekekalannya. Tentu saja jawaban yang paling bisa saya kemukakan adalah karena pengajaran yang salah. Percaya Yesus, pasti selamat. Padahal, percaya itu artinya apa? Percaya itu artinya menyerahkan diri kepada Objek yang dipercaya. Kita tidak bisa menyerahkan diri kepada Objek yang dipercaya, kalau kita tidak mengasihi Dia. Kalau kita tidak mengasihi Tuhan, kita pasti tidak menghormati Tuhan. Kalau kita tidak menghormati Tuhan, kita tidak taat. Maka kata percaya yang dimiliki oleh banyak orang itu, hanya sekitar keyakinan pikiran. Percaya dalam pikiran tidak ada harga yang harus mereka bayar. Sebaliknya, percaya yang benar itu ada harganya: Menyerahkan diri kepada Objek yang dipercaya dan untuk menyerahkan diri dengan benar kepada Objek yang kita percaya, kita harus mengasihi Tuhan dan untuk mengasihi Tuhan, itu kembali kepada masing-masing individu.

Kalau sampai Saudara tidak diterima di kemah abadi, penyesalan Saudara itu lebih besar dari sakit Saudara. Karena banyak orang menganggap hal kekekalan ini gampang atau murahan, maka kecemasan mereka dipindahkan kepada banyak hal. Konsep “Kalau untuk Tuhan mah gampang sudah, Dia pasti terima aku” Atau “Dia pasti tidak menolak,” sangat menyesatkan dan membuat Saudara menganggap hal kekekalan murahan dan gampang. Ironis, banyak orang lebih takut miskin, lebih takut tidak terhormat daripada ditolak Allah. Dan biasanya orang seperti itu akan hidup sembarangan. Itulah sebabnya, Yesus berkata di Lukas 12:32 “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu.” Ada banyak ayat yang senada dengan itu (Mat. 10:28; Luk. 12:4)

Sejatinya, orang harus lebih takut kepada kematian kedua daripada kematian ekonomi, kematian karier, kematian bisnis, bahkan kematian rumah tangga. Kalau terlanjur punya pasangan seperti itu, ya sudah jalani saja tapi jangan sampai nanti jiwa kita mati. Ini kematian kedua, yaitu terpisahnya manusia dari Allah. Maka justru keadaan sulit, penderitaan-penderitaan yang kita alami, itu lebih menggiring kita untuk memedulikan keselamatan abadi atau keselamatan kekal jiwa kita.

Jadi, Saudaraku, jadilah tenang. Dengan kita bisa mengerti ini, tahu bahwa kita adalah anak-anak Allah, maka hal-hal lain tidak akan membuat kita cemas. Di sini barulah kita bisa mengalami kemerdekaan yang sejati di dalam Tuhan. Dengan kita takut ditolak oleh Allah—sehingga kita berusaha berkenan kepada Tuhan—kita baru bisa sungguh-sungguh menghormati Tuhan dengan benar. Maka, “jadilah tenang dalam ketidaktenangan.”

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono