SURAT GEMBALA Surat Gembala
Jangan Berhenti Mencari Tuhan
23 May 2020

Saudaraku,

Kita harus berani mencari Tuhan tiada henti, jangan membatasi pencarian Saudara dengan hanya mendengar CD khotbah, Youtube, atau datang ke gereja; jangan membatasi pencarian Saudara hanya dengan belajar teologi. Kita harus sungguh-sungguh mencari Tuhan, mengalami Allah semesta alam yang menciptakan langit dan bumi. Saudara akan membuktikan bagaimana secara bertahap Allah akan menyatakan diri-Nya kepada Saudara dengan cara yang benar-benar khusus, unik, spesifik yang tidak mungkin sama dengan orang lain dan memang tidak bisa dibandingkan. Dan bisa dipastikan kalau kita memiliki kerinduan untuk mengenal Dia, kita pasti mengalami-Nya. Karena Allah berjanji, “Siapa yang mencari Aku akan menemukan.”

Dalam segala hal yang kita lakukan, dalam setiap pengalaman yang kita alami, kita hanya mau menemukan Dia secara bertahap. Yang saya pahami, pengalaman menemukan Allah dalam perjalanan hidup itu akan ditandai jelas ketika kita mulai tidak tertarik dengan yang lain.

Kalau kita mencari Dia, tapi seakan-akan Dia tidak ada, jangan Saudara putus asa. Lalu Saudara berpikir memang Allah itu sukar ditemui, dan hanya orang berkarunia khusus yang bisa. Semua itu bertahap. Dan Saudara tidak bisa mengatakan kepada orang lain, tidak bisa menyamakan karena memang tidak bisa dijelaskan. Tapi satu ciri utamanya: dunia tidak lagi menarik bagi kita. Jadi, kalau ada orang yang masih terikat dengan dunia, masih tertarik dengan keindahan dunia, dia belum menemukan Tuhan.

Kemudian, orang yang mengalami Tuhan akan makin memuliakan Dia. Sebab dia tidak menghargai apa pun, kecuali Tuhan. Tidak bisa dibagikan dengan kata-kata. Tapi ketika Saudara makin menemukan Allah secara bertahap, Saudara bisa melihat seperti matahari yang bergerak makin jelas, Saudara akan merasa hal itu hebat sekali. Berapa beruntungnya kita mengenal Dia. Baru kita bisa merasakan bahwa Dia adalah harta kita. Kita tidak merasa miskin lagi walaupun secara materi kita miskin. Tidak perlu rendah diri, minder karena tidak terhormat di mata manusia. Ada sesuatu yang dahsyat di dalam jiwa kita: memiliki Allah yang hidup.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono