SURAT GEMBALA Surat Gembala
Jangan Berhenti Berubah
20 November 2020

Saudaraku,

Semua kita pasti pernah bermimpi. Mimpi itu bagian dari hidup kita. Bisa karena gejala atau aktivitas jiwa di bawah sadar pada waktu kita sedang terlelap tidur, tapi mimpi juga bisa menjadi sarana Tuhan berbicara kepada kita. Sejujurnya, setiap kita punya “sesuatu” yang kita impi-impikan. Dan biasanya, sesuatu itu akan terus membayangi kita sebelum kita mendapatkannya. Apa yang menjadi mimpi Saudara saat ini? Seberapa kita konsisten berusaha mendapatkan apa yang kita impikan tersebut? Seberapa serius kita mengejar mimpi kita tersebut?

Ini sama dengan kehidupan rohani kita. Kita tidak boleh berhenti berusaha. Dalam hal ini, kita tidak boleh berhenti untuk berubah. Tapi semua ini harus didorong oleh hati yang mengasihi Tuhan. Jangan berhenti berubah, karena Allah pun tidak berhenti mengubah kita. Dia adalah Pejuang yang hebat, dan kita harus mengikuti irama Pejuang yang hebat. Tuhan mengatakan, “Aku tahu rencana apa yang ada pada-Ku mengenai kamu.” Setiap kita diciptakan dengan keadaan yang sangat khas, yang tidak mungkin sama dengan siapa pun. Di dalam kemahatahuan Allah dan cerdasnya Arsitek Agung ini, Dia merancang kita untuk bisa menjadi bejana yang indah sesuai dengan apa yang Dia kehendaki.

Tuhan melihat jalan hidup kita. Di setiap jalan ada belokan, dalam kehendak bebasnya, manusia bisa memilih ke mana. Ini kalau peta perjalanan. Mungkin kita salah jalan. Keputusan-keputusan yang salah, yang pasti juga bertalian dengan pembentukan karakter. Kalau belok ke arah tertentu, nanti ujungnya ke mana. Beda arah, lain lagi. Setiap keputusan yang kita ambil dan belokan yang kita jalani, terkait dengan pembentukan karakter atau watak kita.

Kita tidak mahatahu; bagaimana peta hidup kita ke depan, kita tidak tahu, karena kita tidak mahatahu. Tapi jika kita memperkarakan hal ini dengan Tuhan, Tuhan pasti menunjukkan kepada kita. Tuhan pasti tidak diam. Ibarat bejana, sudah terbentuk seperti apa kita hari ini, dan bentuk bagaimana yang Tuhan mau. Tuhan pasti kasih tahu.

Dalam keadaan kita yang carut-marut, compang-camping, kita harus memiliki niat, tekad yang kuat, untuk selalu berubah—karena Dia bersedia mengubah. Ketika kita benar-benar berkerinduan untuk hidup tidak bercela, percayalah kita akan makin haus dan lapar akan kebenaran, dan kita akan dipuaskan. Kita akan semakin peka untuk mendengar suara Roh Kudus yang memimpin kita. Tetapi kalau kita tidak berniat untuk hidup tidak bercela, kita puas dengan apa yang kita lakukan, malah kita mencari hal-hal yang memuaskan diri, kita tidak akan mendengar Dia berbicara.

Kalau orang hanya mau menjadi baik menurut hukum, santun menurut hukum, logika agama cukup membuat kita tidak melanggar hukum. Paulus berkata, “Ditinjau dari Hukum Taurat, aku tidak bercela,” jadi tidak perlu menggunakan kekuatan apa pun, cukup logika beragama. Tetapi kalau untuk dalam segala hal yang kita lakukan sesuai dengan pikiran, perasaan Allah, kita butuh dengar-dengaran.

Standar kita bukan di logika agama, melainkan segala sesuatu yang sesuai pikiran, perasaan Allah. Dan kalau kita serius memperkarakannya, maka kita melanggar hal itu, damai sejahtera kita pasti terganggu. Tuhan mengingatkan, menegur kita. Jadi, nurani kita bisa menghukum diri kita atas tindakan yang tidak sesuai dengan kesucian Allah. Ayo, kita belajar. Maka, tidak ada satu hari di mana kita tidak mendengar kebenaran Firman.

Kita harus mengalami pembaruan pikiran (Rm. 12:1-2). Kita tahu kita ini jelek, salah, tapi jangan berhenti berubah. Jangan berhenti berjuang guna sebuah perubahan. Targetnya harus hidup tidak bercacat, tidak bercela (kudus), baru Roh Kudus berbicara kepada kita.

Allah memiliki kedaulatan, di dalam kedaulatan-Nya, Allah memberi kehendak bebas. Itulah sebabnya ada pikiran dan perasaan, lalu lahirlah kehendak. Yang dibaharui, pikiran. Kalau pikiran dibaharui, kehendak tidak mungkin meleset. Kalau Allah mengambil alih pikiran manusia, manusia jadi robot. Masing-masing individu baru memutuskan, apakah dia memilih Allah atau tidak. Hidup suci atau tidak. Baru memutuskan. Masalahnya adalah bagaimana keputusan kita benar-benar bernilai tinggi atau berkualitas tinggi? Itu juga perlu proses. Jadi, orang tidak bisa mendadak jadi suci dan mendadak jadi berkenan di hadapan Allah. Memang di dunia kita, orang lebih mudah rusak daripada baik. Tapi dari kehendak bebas kita, diakumulasi sampai tidak ada tempat lagi untuk filosofi dunia. Baru kehendak kita pasti sesuai dengan Tuhan.

Saudaraku, sudah berapa tahun jadi Kristen? Apakah Saudara sudah berubah? Apakah keluarga bisa merasakan perubahan tersebut? Seiring dengan tekad kita untuk hidup sempurna, kita masih jatuh bangun, tapi kita tidak boleh berhenti berusaha untuk berhenti berubah. Jangan menyerah! Kita memang belum sempurna, tapi kita tetap bisa mengasihi Tuhan.

Pada akhirnya, Saudara sendiri yang harus mengembangkan itu dari waktu ke waktu, menit ke menit setiap hari. Itu adalah tanggung jawab Saudara. Jangan sampai di ujung hidup, kita menyesal karena waktu dan kesempatannya sudah lewat. Mumpung masih ada kesempatan, mari kita berubah. Maka Paulus menasihati kita dalam Kolose 3:2, “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Sebab, semakin kita memikirkan perkara yang di atas,semakin kita takut untuk hidup sembarangan.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono