SURAT GEMBALA Surat Gembala
Jangan Berhenti Berjuang
13 November 2020

Saudaraku,

Kita tidak boleh berhenti berjuang. Akhirnya kita akan sampai pada level di mana kita menerima bahwa di dalam hidup ini kita tidak memiliki kepentingan apa pun, kecuali melayani Bapa di surga, seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Karena levelnya harus seperti Yesus: melakukan kehendak Bapa, dalam kesucian, dan menderita untuk kepentingan Bapa di surga. Ini level yang tidak akan diturunkan oleh Tuhan Yesus.

Kita tidak boleh berhenti melayani Tuhan, apa pun yang kita alami. Tidak bisa dalam waktu yang singkat kita bisa mengerti kehendak Allah, hidup dalam kesucian dan kekudusan-Nya, lalu berkorban sampai tingkat menderita bagi Tuhan. Namun kita bisa mencapai tingkat seperti yang Tuhan Yesus juga miliki. Di dalam Roma 8:17 dikatakan, “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.”

Fakta ini terdapat dalam Alkitab, bahwa yang dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus tidak banyak. Kalau kita jujur meneliti orang-orang Kristen di sekitar kita, pada umumnya mereka hidup wajar-wajar saja; memang mereka tidak sampai berbuat dosa, itu jelas salah dan jahat. Tetapi sejatinya, itu pun juga tidak mencapai standar yang Allah kehendaki. Standar yang Allah kehendaki adalah seperti Tuhan Yesus. Maka, tidak bisa tidak, apa yang dialami Tuhan Yesus juga harus kita alami. Tidak bisa jalan mudah.

Saya tidak tahu bagaimana orang-orang Kristen hari ini tidak mengerti bahwa ikut Yesus itu memang sukar dan berat. Pada mulanya enak; sakit disembuhkan, ada masalah ditolong. Tapi itu untuk Kristen kanak-kanak. Kalau dulu Tuhan membuat aniaya untuk ‘mendongkrak’ orang-orang Kristen mencapai tingkat kesucian dan penderitaan bersama Tuhan, karena gerejanya masih baby. Sekarang tidak ada dongkrak seperti itu lagi. Kita mestinya sudah tahu, begitulah mengiring Yesus itu. Tetapi sangat sedikit orang yang benar-benar melewati pergumulan ini. Pada umumnya, kita hidup wajar-wajar seperti manusia lain.

Kita harus memilih untuk melihat Tuhan dan Kerajaan-Nya. Kita harus mencapai kesucian Allah, dan seiring dengan pertumbuhan kesucian, kita menjadi anggur yang tercurah, roti yang terpecah. Sakitnya memikul salib. Salib itu penderitaan yang kita alami untuk kepentingan Kerajaan Surga. Salib itu bisa dipikul kalau seseorang sudah mencapai kedewasaan tingkat tertentu. Karena salib yang dipikul seseorang itu pasti bertalian dengan rencana Allah dalam hidupnya. Bagaimana orang yang dewasa rohani bisa menemukan rencana Allah dalam hidupnya pribadi, di mana itu menjadi bagian dari tugas yang harus dipenuhi? Dan untuk tugas itu, dia harus menaruh semua hidupnya, meneteskan sampai darah dan tetes keringatnya yang terakhir.

Kalau Saudara terus-menerus hidup wajar, begitu Saudara tutup mata, lalu di hadapan pengadilan Tuhan ternyata keadaan hidup Saudara jauh dari yang Allah kehendaki, Saudara akan sangat menyesal; mengapa Saudara menyia-nyiakan kesempatan berharga yang Allah beri. Ikut Yesus itu pertaruhannya adalah segenap hidup. Maka kalau Saudara tidak mau berubah, Saudara akan sangat menyesal. Mesin anugerah yang Tuhan berikan melalui Roh Kudus yang mendidik kita, tidak pernah Saudara gunakan.

Jadi, dalam kehidupan sebagai pengikut Kristus, kita tidak bisa tidak melihat kenyataan beratnya mengikut Tuhan. Bahkan kadang-kadang kita bukan hanya menghadapi kesulitan, melainkan juga kebingungan, “kenapa begini, kenapa begitu?” Di sini Tuhan mengajak kita untuk belajar duduk diam di kaki Tuhan, bertanya langsung kepada-Nya. Temui Tuhan semesta alam.

Saya percaya banyak Saudara punya pertanyaan yang belum terjawab. Setia, bertekunlah. Dalam kebingungan, kita tetap percaya kepada-Nya. Fokus kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Mungkin dari sikap dan perbuatan orang di sekitar Saudara, mereka seakan-akan berkata “Allah tidak ada, kita tidak perlu Allah.” Tapi kita membutuhkan Dia, hanya Dia. Bukankah Abraham juga begitu? Meninggalkan Ur-Kasdim ke negeri yang tidak tahu di mana letaknya. Sampai mati, dia tidak pernah menemukan negeri itu, tapi dia tidak pernah kembali ke Ur-Kasdim.

Kalau hari ini kita tidak mengalami penderitaan seperti orang Kristen abad mula-mula, kita masih bisa memikul penderitaan di tempat kita, kita harus membayar harga pendewasaan kita lewat proses yang serius. Jangan hidup wajar seperti manusia lain. Semua harus menjadi sarana kita menjalankan roda hidup untuk mencari Tuhan. Sediakan waktu bertemu Tuhan. Pokoknya, agenda kita itu menemukan Allah dalam hidup kita. Fokus kita adalah Tuhan dan Kerajaan-Nya.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono