SURAT GEMBALA Surat Gembala
Integritas Tuhan
06 November 2020

Saudaraku,

Tuhan memiliki standar dan dalam integritas-Nya yang sempurna, Ia menghendaki setiap orang percaya mencapai standar yang Dia kehendaki. Apa pun dan bagaimana pun keadaan situasi dunia maupun individu, Tuhan tidak mengurangi standar-Nya. Dan Allah berhak untuk bertindak demikian. Jadi, kita harus mengerti bahwa yang kita hadapi adalah Allah yang berintegritas sempurna; Allah yang menuntun kita untuk mencapai standar yang Ia kehendaki. Dalam kesabaran, Allah menuntun setiap individu untuk bertumbuh terus mencapai standar itu, sesuai dengan umur rohani masing-masing.

Tetapi ketika seseorang menolak didikan Tuhan, sampai pada stadium atau pada level tertentu, Allah akan membiarkan. Dan inilah yang mestinya menakutkan atau menggentarkan kita. Seperti ketika Saul tidak bisa lagi diperbaiki, Allah menurunkan dia dari takhtanya. Ketika Yudas tidak bisa lagi diperbaiki, Yesus berkata, “Lakukan apa yang hendak kamu lakukan.” Ini mengerikan. Tuhan dengan kesabaran-Nya menuntun setiap kita untuk bertumbuh mencapai standar yang Ia kehendaki. Di sini dibutuhkan ketekunan, selain fokus.

Jangan sampai pada titik tertentu, seseorang tidak peduli lagi dengan nilai-nilai kerohanian, tidak lagi fokus kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya, sehingga tidak bisa lagi diubah, dan Allah membiarkan dia. Tidak akan bisa bertumbuh lagi untuk selamanya. Seperti yang dikatakan Tuhan Yesus ketika Dia mengutuk pohon ara, “kamu tidak usah berbuah lagi untuk selamanya.” Mestinya ini menggentarkan kita. Apa yang saya kemukakan bukan saja berdasarkan ayat Alkitab dan contoh-contoh kehidupan tokoh-tokoh iman, melainkan juga saya perhatikan dalam kehidupan orang-orang, pendeta, hamba Tuhan di sekitar saya.

Ketika kita mulai bertumbuh, memulai kekristenan kita, jalan hidup kita masih mudah. Tetapi kemudian kita akan menghadapi pencobaan, ujian, tantangan, godaan. Kalau kita tidak tekun dan tidak fokus, kita bisa kandas di jalan. Tuhan mengondisikan orang Kristen abad mula-mula untuk mencapai standar kesucian yang Allah kehendaki. Dan Alkitab mengatakan dalam 1 Petrus 4:1, “aniaya membuat orang percaya berhenti berbuat dosa.” Allah dengan integritas-Nya tidak mengalah atau menurunkan standar. Kondisinya yang diubah. Jadi, kalau ada orang Kristen pada waktu itu, pasti sungguh-sungguh. Tidak mungkin Kristen setengah-setengah walau resikonya, tidak banyak orang mau menjadi Kristen.

Bagaimana dengan kita hari ini? Kita sudah punya Alkitab yang lengkap—Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru—kita juga bisa melihat sejarah. Tuhan tidak ‘mendongkrak’ kita dengan situasi yang memaksa kita menjadi rohani, memaksa kita hidup kudus. Tuhan membiarkan. Kitanya yang harus menggerakkan diri kita. Kita yang harus bertekun dan tetap fokus kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Kalau tidak, kandas. Dan Alkitab mengatakan bahwa di akhir zaman akan terjadi kemurtadan. Makin sedikit orang yang bertekun sampai akhir.

Dalam 1 Petrus 4:13, firman Tuhan mengatakan, “Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.” Untuk dimuliakan bersama Yesus, seseorang harus menderita bersama-sama dengan Dia. Untuk bisa menderita bersama-sama dengan Tuhan, tentu harus mencapai kedewasaan rohani. Jadi, tidak murahan. Ada standar yang harus dicapai.

Oleh sebab itu, kita harus mengerti kalau seseorang mengikut Yesus, ia akan merasa perjalanan hidupnya menjadi berat bahkan susah. Anak-anak Allah yang benar justru akan mengalami tahapan perjalanan hidup yang berat. Tetapi yang berat ini akhirnya juga tidak menjadi berat, ketika dia makin mengerti kebenaran dan dibukakan rahasia-rahasia kehidupan di dalam hidupnya. Ini semua bertahap, simultan.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono