SURAT GEMBALA Surat Gembala
Integritas Tuhan
11 December 2020

Saudaraku,

Tuhan memiliki standar dan dalam integritas-Nya yang sempurna, menghendaki setiap orang percaya mencapai standar yang Dia kehendaki. Apa pun dan bagaimana pun keadaan situasi dunia maupun individu, Tuhan tidak mengurangi standar-Nya. Dan Allah berhak untuk bertindak demikian. Jadi, kita harus mengerti bahwa yang kita hadapi adalah Allah yang berintegritas sempurna; Allah yang menuntun kita untuk mencapai standar yang Ia kehendaki. Dalam kesabaran, Allah menuntun setiap individu untuk bertumbuh terus mencapai standar itu, sesuai dengan umur rohani masing-masing.

Tetapi ketika seseorang menolak didikan Tuhan, sampai pada stadium atau pada level tertentu, Allah akan membiarkan. Dan inilah yang mestinya menakutkan atau menggentarkan kita. Seperti ketika Saul tidak bisa lagi diperbaiki, Allah menurunkan dia dari takhtanya. Ketika Yudas tidak bisa lagi diperbaiki, Yesus berkata, “Lakukan apa yang hendak kamu lakukan.” Ini mengerikan. Tuhan dengan kesabaran-Nya menuntun setiap kita untuk bertumbuh mencapai standar yang Ia kehendaki. Di sini dibutuhkan ketekunan, selain fokus. Jangan sampai pada titik tertentu, seseorang tidak peduli lagi dengan nilai-nilai kerohanian, tidak lagi fokus kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya, sehingga tidak bisa lagi diubah, dan Allah membiarkan dia. Tidak akan bisa bertumbuh lagi untuk selamanya.

Ketika kita mulai bertumbuh, memulai kekristenan kita, jalan hidup kita masih mudah. Tetapi kemudian kita akan menghadapi pencobaan, ujian, tantangan, godaan. Kalau kita tidak tekun dan tidak fokus, kita bisa kandas di jalan. Saya kira banyak orang kandas.

Tuhan mengondisikan orang Kristen abad mula-mula untuk mencapai standar kesucian yang Allah kehendaki. Dan Alkitab mengatakan dalam 1 Petrus 4:1, “aniaya membuat orang percaya berhenti berbuat dosa.” Allah dengan integritas-Nya tidak menurunkan standar. Kondisinya yang diubah. Jadi, kalau ada orang Kristen pada waktu itu, pasti sungguh-sungguh. Tidak mungkin Kristen setengah-setengah. Risikonya, tidak banyak orang Kristen.

Bagaimana dengan kita hari ini? Kita sudah punya Alkitab Perjanjian Baru, kita bisa melihat sejarah. Tuhan tidak mengekskalasi, tidak ‘mendongkrak’ kita dengan situasi yang memaksa kita menjadi rohani, memaksa kita hidup kudus. Tuhan membiarkan. Maka berarti kita sendiri yang harus menggerakkan diri kita. Kita yang harus bertekun dan tetap fokus kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Kalau tidak, kandas. Dan Alkitab mengatakan bahwa di akhir zaman akan terjadi kemurtadan. Makin sedikit orang yang bertekun sampai akhir.

Oleh sebab itu, kita harus mengerti kalau seseorang mengikut Yesus, akan merasa perjalanan hidupnya menjadi berat bahkan susah. Anak-anak Allah yang benar justru akan mengalami tahapan perjalanan hidup yang berat. Tetapi yang berat ini akhirnya juga tidak menjadi berat, ketika dia makin mengerti kebenaran dan dibukakan rahasia-rahasia kehidupan di dalam hidupnya. Ini semua bertahap, simultan.

Pada akhirnya, yang tadinya terasa berat akan terasa ringan, dan kesusahan tidak lagi menjadi sesuatu yang menyakitkan. Kita tidak boleh berhenti berjuang. Kalau kita berhenti berjuang, celaka. Akhirnya kita akan sampai pada level di mana kita menerima bahwa di dalam hidup ini kita tidak memiliki kepentingan apa pun, kecuali melayani Bapa di surga, seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Karena levelnya harus seperti Yesus: melakukan kehendak Bapa, dalam kesucian, dan menderita untuk kepentingan Bapa di surga. Ini level yang tidak akan diturunkan oleh Tuhan Yesus.

Tidak bisa dalam waktu yang singkat kita bisa mengerti kehendak Allah, hidup dalam kesucian dan kekudusan-Nya, lalu berkorban sampai tingkat menderita bagi Tuhan; kita bisa menjadi anggur yang tercurah, roti yang terpecah. Namun kalau kita jujur meneliti orang-orang Kristen di sekitar kita, pada umumnya mereka hidup wajar-wajar saja. Mereka tidak melakukan pelanggaran moral umum yang jelas salah dan jahat. Tetapi itu pun juga tidak mencapai standar yang Allah kehendaki. Standar yang Allah kehendaki, adalah seperti Tuhan Yesus. Maka, tidak bisa tidak, apa yang dialami Tuhan Yesus juga harus kita alami. Tidak bisa jalan mudah.

Kita harus memilih untuk melihat Tuhan dan Kerajaan-Nya. Kita harus mencapai kesucian Allah, dan seiring dengan pertumbuhan kesucian kita, menjadi anggur yang tercurah, roti yang terpecah. Merasakan sakitnya memikul salib. Salib yang dipikul seseorang itu pasti bertalian dengan rencana Allah dalam hidup individu. Bagaimana orang yang dewasa rohani bisa menemukan rencana Allah dalam hidupnya pribadi, di mana itu menjadi bagian dari tugas yang harus dipenuhi. Dan untuk tugas itu, dia harus menaruh semua hidupnya, meneteskan sampai darah yang terakhir, tetes keringatnya yang terakhir.

Kalau Saudara terus-menerus hidup wajar dan tidak mau berubah, maka pada saat Saudara tutup mata dan berdiri di hadapan pengadilan Tuhan, terkuak bahwa standar hidup Saudara jauh dari yang Allah kehendaki. Saudara pasti akan sangat menyesal mengapa Saudara menyia-nyiakan kesempatan berharga yang Allah beri. Ikut Yesus itu pertaruhannya adalah segenap hidup. Karena setiap orang yang menjadi Kristen, ikut Yesus, harus seperti Yesus. Harus sempurna seperti Dia, hidup tidak bercacat dan tidak bercela seperti Dia. Harus menderita bersama dengan Dia. Dan Allah tidak menurunkan standar ini.

Saya percaya banyak Saudara punya pertanyaan yang belum terjawab, kenapa harus mengalami hal ini dan itu. Setialah, tekunlah, Saudara. Seperti orang-orang Kristen abad mula-mula terniaya hebat, Allah seperti tidak ada, Allah tidak menolong. Tetapi mereka tetap setia. Allah seakan-akan membisu. Pada waktu mereka dikejar-kejar mau ditangkap, mereka mungkin berdoa, tapi tertangkap juga. Mereka bingung, namun mereka tetap percaya. Dan Allah yang Mahaagung, Mahabesar, Allah yang layak dipercayai seperti itu. Dalam kebingungan, kita tetap percaya kepada-Nya. Fokus kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono