SURAT GEMBALA Surat Gembala
Indera Kebahagiaan
19 March 2021

Saudaraku,

Berbicara mengenai realitas, pada umumnya diartikan sebagai fakta yang dapat dirasakan atau dialami oleh indera manusia. Dan segala sesuatu yang dirasa oleh indera dan dinikmati jiwa sebagai kebahagiaan, itulah yang dikejar oleh manusia. Sehingga biasanya hidup manusia difokuskan kepada hal ini. Ini yang kemudian membuat manusia tidak melihat realitas yang lain. Paulus mengatakan, “Kami tidak memerhatikan apa yang keliatan, tetapi yang tidak kelihatan. Sebab yang kelihatan itu sementara, sedangkan yang tidak kelihatan itu kekal.” Kalau kita tidak belajar dengan benar apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, kita akan terus terjebak dengan pola berpikir duniawi yang orientasinya adalah hal-hal yang kelihatan, yang dirasakan indera tubuh kita dan jiwa sebagai kebahagiaan. Kita tidak melihat dimensi lain dalam hidup, yang justru untuk itulah kita ada sementara di bumi ini. Paulus mengatakan dalam Kolose 3:1-4, “pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.”

Karena hal-hal seperti ini tidak digali dengan baik dan tidak diimpartasikan kepada jemaat, maka banyak jemaat yang pola berpikirnya masih duniawi. Dimana Tuhan diharapkan memberkati, menyediakan semua berkat, dan membahagiakannya dengan berkat-berkat jasmani. Padahal yang Tuhan kehendaki adalah hati kita dipindahkan di Kerajaan Surga. Mestinya kita tidak usah menghadapi keadaan tragis dahulu baru kita menghayati kebenaran ini. Mestinya kita percaya saja apa yang dikatakan oleh Arsitek Agung, yaitu Tuhan kita, “Di mana ada hartamu, di situ hatimu berada.” Tuhan mau kita memindahkan hati kita di Kerajaan Surga. Itulah realitas, sebab realitas yang mestinya kita hayati dan rasakan mulai sekarang adalah Tuhan dan Kerajaan-Nya. Sebab kalau seseorang telah memindahkan hatinya ke Kerajaan Allah, buah hidupnya pasti akan memancar, yaitu:

Hidup tidak bercacat, tidak bercela. Mungkin ia bisa salah, tapi ia tidak hidup di dalam kesalahan; ia bisa jatuh dalam dosa, tapi ia tidak hidup dalam dosa.
Tidak akan terikat dengan dunia; sebanyak apa pun yang dimiliki, setinggi apa pun kekuasaan/gelar/pangkat yang dicapai, ia tidak menambatkan hatinya di sana.
Hidup dalam alam kemerdekaan. Salah satu cirinya adalah ia tidak takut menghadapi bencana atau apa pun, bahkan kematian pun sudah dia taklukkan.
Membela pekerjaan Tuhan tanpa batas. Sebab prinsip hidupnya adalah: “Makananku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”
Sadarlah, realitas itu bukan hanya apa yang kita dapat lihat hari ini dan yang dapat kita rasakan. Justru kita harus merasakan apa yang sekarang ini tidak dirasakan oleh hampir semua orang, yaitu Kerajaan Allah. Dan memang untuk itu kita dipanggil. Jadi, kalaupun Dia memberkati kita berlimpah-limpah, itu bukan karena kita mau menikmatinya, tapi karena kita mau memanfaatkannya untuk pekerjaan-Nya. Kebenaran-kebenaran sejati akan membuat Saudara bisa memahami realitas yang sesungguhnya. Syukur kalau Saudara kena bencana atau masalah dan bisa menyadari betapa fananya dunia ini, lalu bertobat. Yang celaka adalah kalau seseorang merasa semua berjalan dengan lancer, lalu begitu ia ada di ujung maut ia baru menyadari bahwa dirinya miskin, tidak punya apa-apa seperti orang kaya di Lukas 12.

Saudaraku,

Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dari kebahagiaan seseorang yang bisa membuat Tuhan tersenyum. Kapan itu terjadi? Pertama, waktu kita punya kesempatan berbuat dosa, namun kesempatan itu tidak kita gunakan untuk berbuat dosa. Kedua, waktu kita dibenci, disakiti, dilukai, tapi kita tidak membalas. Kalau dibalas, kita jadi tidak bermartabat. Ketiga, waktu kita dalam keadaan terjepit, kita mengandalkan Tuhan, walaupun Dia tidak kelihatan dan seakan-akan tidak ada. Ketika kita punya masalah dan kita mengandalkan pertolongan kepada orang, berarti kita sedang menghina Tuhan dan melecehkan diri sendiri. Atau ketika kita khawatir, takut menghadapi masalah yang seakan tidak berujung, di saat itulah kita melecehkan Tuhan Yang Mahabesar. Percuma kita menyembah, memuji, memuliakan nama-Nya, sebab faktanya kita tidak menghormati Dia dengan sikap hati yang benar. Tuhan akan bawa kita kepada keadaan-keadaan seperti itu. Sejatinya kita harus berkata: “Tuhan, kalaupun aku harus mati, aku mati di tangan-Mu.” Keempat, ini paling sukar, ketika Tuhan menuntut “Ishak-Ishak” hidup kita Seperti Abraham harus mempersembahkan Ishak, harta miliknya yang terbaik, yang tersayang. Namun kalau kita bisa melepaskan, berarti kita menghargai Dia lebih dari apa pun dan siapa pun.

Maka, sebelum dunia merenggut hatimu, membuat engkau mencintai dunia sampai tidak bisa kau tarik lagi cinta itu, kau terjebak dalam percintaan dunia, ayo! keluarlah dari percintaan dunia, alihkan hatimu ke Tuhan. Hal ini tidak bisa terjadi atas hidup orang-orang yang memang masih berniat untuk mencintai dunia. Kalau kita merasa bisa menikmati dunia dan bisa bahagia dengan dunia ini, sementara kita tidak memiliki hubungan yang harmoni dengan Tuhan, itu pengkhianatan. Sebab, tidak mungkin kita bisa membahagiakan Tuhan kalau kita tidak menjadikan Dia satu-satunya kebahagiaan kita.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono