SURAT GEMBALA Surat Gembala
Hidup Yang Gagal
07 April 2019

Saudaraku,
Kita harus menyadari betapa hebatnya hidup ini. Hidup ini adalah kesempatan yang luar biasa. Kesempatan untuk mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan Yang Mahamulia. Oleh sebab itu dunia ini dengan segala keindahan dan kebahagiaannya tidak boleh menjadi tujuan. Kuasa jahat yang hendak menarik manusia menjadi sekutunya, telah menyesatkan banyak orang supaya dunia menjadi tujuan. Inilah yang juga ditawarkan Iblis terhadap Tuhan Yesus pada awal pelayanan-Nya. Iblis membujuk Tuhan Yesus untuk menyembahnya dengan memberi imbalan keindahan dunia. Jadi kalau seseorang mengagumi dunia dan terpikat olehnya berarti ia telah menyembah Iblis.

Kita patut merenungkan, seandainya tidak ada manusia (Saudara dan saya), maka tidak ada perjumpaan antara manusia dan Allah. Dan jika tidak ada perjumpaan, itu memang tidak ada kerugian atau juga tidak ada keuntungan. Tetapi kalau Sang Pencipta sudah menciptakan kita, maka terdapat suatu fakta adanya kerugian atau keuntungan. Kata lainnya: kehinaan atau kemuliaan, neraka kekal atau surga kekal. Inilah yang kemudian menjadikan kita sebagai makhluk yang beresiko tinggi. Hal ini harus disadari oleh manusia. Hidup ini bukan sekadar sebuah perjalanan sederhana yang singkat, setelah itu berlalu tanpa dampak atau akibat. Bila seseorang tidak memiliki pemahaman yang benar mengenai hidup, maka ia telah sekelas tidak jauh berbeda dengan hewan.

Sekarang kesempatan itu telah diberikan oleh Sang Pencipta untuk manusia dapat kembali bersekutu dengan Dia. Masalahnya, apakah kesempatan ini kita mau raih atau tidak? Apa artinya sejuta tahun kalau akhirnya tidak ada kebahagiaan lagi di ujungnya? Karena kebodohan dan kedegilan hati manusia banyak orang menolak menjadi kekasih Tuhan. Mereka lebih tertarik menikmati dunia hari ini.

Saudaraku,
Menjadi kehendak Allah agar akhirnya setiap kita memiliki hubungan pribadi dengan Allah, masing-masing kita dapat berperkara dengan Tuhan. Gereja, hamba-hamba Tuhan dan seluruh fasilitas pelayanan ini hanyalah alat agar jemaat mengenal Allah yang benar, kemudian masing-masing berhubungan pribadi dengan Tuhan. Hal itu tidak boleh menjadi tujuan. Kita tidak boleh berlabuh di situ. Pelabuhan hidup setiap kita hanyalah Tuhan. Kita tidak boleh mempertimbangkan adanya pelabuhan lain selain Tuhan. Dalam hal ini kita tidak boleh melirik dunia atau menoleh ke belakang. Namun kenyataan yang kita lihat masih terdapat orang yang menjadikan hamba dunia.

Tuhan adalah satu-satunya pelabuhan, tujuan dan bukan alat. Kita memiliki hak yang sama untuk menikmati Allah. Kehadiran-Nya, tuntunan-Nya, hikmat-Nya, kuasa-Nya dan segala fasilitas Bapa surgawi. Jangan berpikir bahwa ada manusia-manusia tertentu yang memiliki hak khusus di hadapan Allah untuk memperoleh berkat-berkat-Nya. Semua anak Tuhan adalah pribadi-pribadi yang memiliki hak khusus untuk menikmati apa yang Bapa sediakan bagi kita. Perantara kita bukanlah pendeta (yang sering dianggap memiliki hak khusus), tetapi Tuhan Yesus sendiri. Tidak ada oknum manapun yang dapat menjadi perantara antara Allah dan manusia selain Tuhan Yesus Kristus.

Alkitab tidak pernah mengajarkan manusia dapat menjadi perantara antara Allah Bapa dan manusia, masing-masing kita dapat menghampiri Allah Bapa oleh korban Tuhan Yesus. Jadi jangan menganggap bahwa seorang yang sedemikian suci atau karena jabatan tertentu di dalam gereja dapat menjadi perantara antara Allah dan manusia. Sering kita jumpai jemaat yang merasa bahwa doa pendeta lebih mujarab, karena jabatan pendeta tersebut. Yang membuat seseorang sedemikian lekat dengan Tuhan dan doa-doanya dijawab adalah kesalehannya, bukan karena jabatan (Ibr. 5:7; Yes. 59:1-2).

Saudaraku,
Kehidupan ini menjadi hebat karena merupakan sebuah petualangan sementara di mana kita diperkenan untuk kembali membangun hubungan dengan Sang Pencipta sebagai suatu persiapan untuk memasuki kehidupan kekal bersama Dia dalam Kerajaan-Nya. Orang percaya yang tidak mencapai standar hidup seperti yang dikehendaki oleh Allah adalah manusia yang dinilai gagal. Gagal di sini bukan berarti manusia menjadi biadab seperti hewan, tetapi manusia berkeadaan tidak menjadi persis seperti yang Allah Bapa kehendaki. Tentu saja orang Kristen seperti ini tidak dapat dipertunangkan dengan Tuhan Yesus, sebab mereka yang dipertunangkan dengan Tuhan Yesus adalah orang Kristen yang tidak bercacat dan tidak bernoda. Untuk mencapai hal ini seseorang harus melewati tahapan-tahapan proses perjalanan waktu yang ketat dan disiplin. Di dalam durasi waktu terdapat urut-urutan kejadian yang disebut momentum-momentum atau kesempatan yang merupakan bagian dari proses pembentukan Allah yang sempurna. Dalam hal ini betapa berharganya waktu yang Tuhan berikan.

Pada umumnya karena merasa masih memiliki waktu yang berlimpah, maka mereka memboroskannya dengan ceroboh tanpa menyadari bahwa waktu yang diboroskan tersebut tidak pernah dapat kembali lagi atau tidak dapat diambil kembali. Mereka seperti seseorang yang membawa air dengan bejana yang bocor. Kesempatan-kesempatan bernilai yang Tuhan berikan sia-sia terlewatkan karena tidak menggunakan waktu dengan bijaksana. Waktu yang seharusnya dipakai berurusan dengan Tuhan digunakan untuk hal lain yang dianggap lebih bernilai (bisa uang atau hal lain demi meraih suatu kehormatan di mata manusia). Oleh sebab itu kekayaan dunia tidak boleh mengambil tempat dalam nilai-nilai spiritual dalam kehidupan kita. Cara kita memandang dunia ini harus berubah. Keselamatan yang dinyatakan dalam perubahan gaya hidup ini merupakan anugerah yang tidak bisa diberikan oleh siapa pun.

Teriring salam dan doa,
Erastus Sabdono