SURAT GEMBALA Surat Gembala
Hidup Tanpa Khawatir
26 February 2021

Saudaraku,

Penyerahan dan percaya kepada Tuhan itu tidak bisa dipisahkan. Hal itu akan ditandai dengan perasaan khawatir, perasaan cemas. Jika percayanya benar, maka penyerahannya pasti benar; dan kalau penyerahannya benar, maka ia tidak akan memiliki kekhawatiran dalam hidup ini. Sebab tidak ada kata “celaka,” tidak ada kata “sial” dalam kamus hidup orang percaya. Hari-hari ini, dengan merebaknya COVID-19 membuat banyak orang tersugesti, “jangan-jangan aku terpapar oleh COVID-19.” Apalagi sudah sampai sesak nafas, lemas, penciuman hilang. Dan saya kira hampir semua kita memiliki sugesti seperti itu dan itu bisa menyiksa. Bagi orang-orang tertentu, itu benar-benar bisa menakutkan, apalagi kalau mendengar dan menyaksikan sendiri korban COVID yang meninggal. Orang bisa menjadi paranoid.

Tetapi sejatinya, bahaya hidup ini bukan hanya pandemi COVID-19. Banyak bahaya yang bisa kita alami, Saudaraku. Dan tahukah Saudara bahwa bahaya yang paling besar adalah ketika seseorang terpisah dari hadirat Allah. Itu bahaya paling mengerikan, tidak ada yang lebih mengerikan dari hal ini. Kalau kita percaya tidak ada kata “celaka” dalam kamus hidup orang percaya, maka kita baru bisa mewujudkan apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan, “Bersukacitalah senantiasa.” Tetapi ternyata ini bukan hal yang mudah.

Bagaimana kita bisa memiliki percaya yang benar agar kita bisa memiliki penyerahan yang benar? Dan dari penyerahan yang benar, kita bebas dari khawatir, bebas dari cemas, bebas dari ketakutan. Dan orang yang bebas dari khawatir, orang yang bebas dari kecemasan adalah orang yang menghormati Tuhan dengan benar. Orang yang mengakui Dia bukan saja hidup, tapi Dia juga Allah yang setia dan menggenapi janji-Nya. Tetapi banyak orang takut, seakan-akan Allah tidak ada, seakan-akan Allah tidak menggenapi janji-Nya.

Orang yang takut terhadap sesuatu itu, tidak mungkin takut secara patut kepada Allah. Tidak mungkin. Orang yang memiliki kekhawatiran atau kecemasan, tidak mungkin dia memuliakan Allah dengan benar; tidak mungkin dia menghormati Tuhan dengan benar. Orang-orang yang takut terhadap berbagai bencana ancaman dalam hidup ini—yang terkait dengan masalah pemenuhan kebutuhan jasmani atau masalah jasmaniah—tidak mungkin dia takut akan Allah secara benar.

Saudaraku,

Percaya yang benar membuat kita menyerah dengan benar. Orang yang memiliki penyerahan diri yang benar pasti ia tidak memiliki kekhawatiran, tidak memiliki kecemasan. Memang hal ini tidak mudah untuk dikenakan, tetapi justru itulah saya mendesak kita semua untuk belajar; bagaimana kita bisa memiliki kehidupan yang bebas dari takut, dari khawatir, dari kecemasan. Oleh sebab itu, kita harus memeriksa dahulu kualitas percaya kita. Kita percaya Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, itu mudah apalagi bagi Saudara yang terlahir sebagai orang Kristen. Tetapi memercayai bahwa Dia hidup, Dia hadir itu hal yang tidak mudah. Karena Allah itu tidak kelihatan dan seakan-akan tidak ada bahkan seakan-akan tidak peduli terhadap persoalan hidup kita.

Tetapi sejatinya, Dia adalah Allah yang layak dipercayai, walaupun Dia sepertinya tidak ada. Bahkan tidak jarang, ketika kita dalam satu pergumulan hidup, kita berdoa, kita minta Tuhan menolong kita, tetapi keadaan yang kita alami bertentangan dengan doa kita; seakan-akan memang Tuhan tidak ada, namun di situ kita tetap harus percaya kepada-Nya. Melatih percaya itu tidak mudah. Oleh sebab itu, kita harus belajar mencari wajah Tuhan. Dalam tiap doa kita, setiap hari minimal tiga puluh menit, satu jam. Yang jika itu terus dengan setia kita lakukan, akan terkristal menjadi doa 24 jam. Jadi terus tersambung dengan-Nya, dan itu yang mestinya menjadi tujuan kita.

Bekal kita memasuki tahun yang makin sulit ke depan, hanya Tuhan. Tetapi bagaimana kita bisa memiliki Tuhan kalau kita tidak hidup di dalam kehidupan yang benar? Dan bagaimana kita bisa hidup dalam perlindungan Tuhan kalau kita tidak melindungi sesama? Kita hanya melindungi keluarga kita sendiri atau orang-orang yang menurut kita pantas kita lindungi. Kita membuat ukuran sesama kita. Filosofi hidup kita tampak dari setiap perilaku kita yang mana akan menunjukan seberapa jauh kita telah mengalami Tuhan. Bukan dari ucapan, bukan dari tulisan, tapi dari sikap hidup. Alami Tuhan, Saudara, sehingga kematian itu tidak menakutkan sama sekali. Nanti akhirnya becana apa pun tidak kita takuti. Kenapa? Karena semua dikendalikan, dikontrol oleh Allah, dan pasti baik untuk kita. Namun, tidak semua orang patut mendapat kebaikan Tuhan. Hanya orang yang menghormati Tuhan. Tidak semua orang layak menerima perlindungan Tuhan, sebab orang yang layak menerima perlindungan Tuhan adalah mereka yang hidup tidak bercela dan menjadikan Tuhan satu-satunya kebahagiaannya.

 

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono