SURAT GEMBALA Surat Gembala
HIDUP DALAM TERANG
09 December 2018

Saudaraku,
Di dalam Alkitab kita sering menemukan kata terang. Tentu terang dalam ayat ini hanyalah sebuah gambaran atau lambang, bukan bermaksud berbicara mengenai cahaya secara hurufiah yang dapat ditangkap oleh mata. Kalau Alkitab berbicara mengenai terang sebagai lambang, maka berarti selalu menunjuk kepada dua hal:

Pertama, terang merupakan lambang atau menunjuk kebenaran dan kesempurnaan kelakuan sesuai dengan kehendak Tuhan. Kalau untuk bangsa Israel berarti kelakuan yang sesuai dengan hukum Taurat. Melakukan hukum Taurat itulah kehendak Tuhan yang harus dipenuhi oleh bangsa Israel. Tetapi bagi orang Kristen kelakuan yang sesuai dengan kehendak Tuhan adalah melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Itulah yang sama dengan melakukan kehendak Bapa (Mat. 7:21-23). Bagi orang Israel Taurat adalah hukumnya, tetapi bagi orang Kristen, Tuhanlah hukumnya.

Untuk dapat melakukan segala sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan, maka seorang anak Tuhan harus mengenal Tuhan dengan benar. Itulah sebabnya terang juga mengandung pengertian pengenalan yang benar akan Allah (2Kor. 4:6). Dengan mengenal Tuhan secara benar, maka seseorang mengenal kehendak-Nya. Dalam hal ini pengenalan akan Allah menentukan kesucian hidup, sebab dengan mengenal Allah secara benar seseorang dapat mengenakan kodrat Ilahi (2Ptr. 1:3-4).

Kedua, terang adalah lambang atau menunjuk sukacita dan kegembiraan (Mzm. 27:1). Kalau seseorang menjadikan Tuhan terangnya artinya Tuhan menjadi kebahagiaannya atau sukacita hidupnya. Tuhan adalah Pribadi yang riil atau nyata. Seperti kita dapat menjadikan seseorang sebagai kebahagiaan kita (pasangan hidup, anak, orang tua dan lain sebagainya), maka kita juga dapat menjadikan Tuhan kebahagiaan hidup kita, lebih dari mereka semua.

Saudaraku,
Kalau Tuhan menjadi kebahagiaannya, maka kebahagiaan atau sukacita hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaan atau harta dunia ini. Dengan demikian hidupnya tidaklah terikat dengan dunia ini. Orang yang memiliki sukacita di dalam Tuhan inilah yang dikatakan hidup dalam terang. Itulah sebabnya orang yang hidup tanpa sukacita dikatakan sebagai hidup dalam gelap. Kalau sukacita seseorang dialaskan atau didasarkan pada harta dunia atau sesuatu yang bukan dari, Tuhan berarti ia hidup dalam gelap.

Manusia yang kebahagiaannya tergantung kepada dunia berarti sama dengan menyembah Iblis. Padahal manusia harus hanya menyembah kepada Allah saja dan berbakti kepada-Nya (Luk. 4:8). Kalau keadaan Ini tidak berubah, manusia terikat dengan dunia artinya manusia menyembah Iblis maka manusia akan terhilang selamanya sebab menjadi bersekutu dengan Iblis.

Kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini memberi terang. Dua hal yang telah hilang dari kehidupan manusia, karena manusia jatuh dalam dosa, dapat ditemukan kembali.

Kedatangan Tuhan Yesus mengubah dunia. Dunia yang telah kehilangan terang dapat memperoleh terang yang hilang tersebut. Terang dari Tuhan itulah yang mengubah dunia. Tetapi masalahnya kemudian adalah bagaimana perubahan itu bisa terjadi atau berlangsung dalam hidup manusia?

Saudaraku,
Perubahan ini tidak bisa terjadi atau berlangsung secara otomatis, tetapi harus melalui proses perubahan yang bertahap secara terus menerus sepanjang hidup orang percaya. Proses perubahan itu tidak bisa terjadi atau berlangsung dengan mudah. Perubahan ini bisa terjadi melalui proses menjadi murid. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: Jadikanlah semua bangsa murid-Ku (Mat. 28:18-20). Perubahan itu menuntut perjuangan yang melibatkan segenap hidup kita. Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang yang mau menjadi murid Tuhan Yesus harus meninggalkan segala sesuatu (Luk. 14:33). Meninggalkan segala sesuatu berarti berani berprinsip bahwa tujuan hidup ini hanya untuk mengalami perubahan seperti yang diinginkan oleh Tuhan. Mengapa harus meninggalkan segala sesuatu? Karena memang masuk Kerajaan Surga itu sukar. Banyak orang berusaha tetapi sedikit yang bisa masuk (Luk. 13:23-24).

Kedatangan Tuhan Yesus hendak mengajarkan kehidupan yang mutunya lebih baik. Hidup yang meningkat kualitasnya inilah yang disebut sebagai hidup baru. Menjadi orang percaya adalah pembelajaran mengenakan hidup yang baru. Itulah sebabnya menjadi orang percaya berarti menjadi murid (Mat. 28:18-20). Kepada orang-orang yang datang kepada Tuhan Yesus, Ia berkata: Belajarlah pada-Ku (Mat. 11:28-29). Kehidupan yang diajarkan adalah bagaimana memiliki dua elemen yang hilang tersebut yaitu kembali memiliki karakter yang baik dan hidup dalam damai sejahtera Tuhan. Itulkah sebabnya Firman Tuhan mengatakan bahwa Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Rm. 14:17).

Salam dan doa,
Erastus Sabdono