SURAT GEMBALA Surat Gembala
Eksekusi Diri
28 April 2019

Saudaraku,
Ada empat hal yang saya harap semua kita bisa selalu mengingat kapan kita dapat mengeksekusi hidup kita atau Tuhan mengeksekusi hidup kita yang mana menunjukkan bahwa kita benar-benar mau menyenangkan hati-Nya, atau mau berkenan di hadapan-Nya. Yaitu:
Pertama, pada waktu kita memiliki kesempatan berbuat dosa, apa pun bentuknya. Itulah kesempatan kita mengeksekusi diri kita; bahwa kita mengasihi Tuhan, kita menghormati Tuhan dengan cara kita tidak melakukan dosa itu. Tuhan pasti mengizinkan adanya sarana-sarana atau kesempatan bagaimana kita bisa berbuat kesalahan, tapi kita eksekusi diri kita dengan mengatakan bahwa kita tidak mau melakukan kesalahan supaya kita menyenangkan hati DIA.

Kedua, pada waktu kita tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Misalnya pada saat kita diperlakukan tidak adil, orang melukai kita, orang menghina kita, kita dimusuhi, pada waktu itulah Tuhan menghendaki kita melakukan seperti yang Tuhan Yesus lakukan, yaitu mengasihi orang-orang yang memusuhi-Nya.
Ketiga, pada waktu kita dalam keadaan kritis dan pada waktu itu kita belajar menaruh percaya pada Tuhan. Jadi kalau Tuhan mengizinkan kita dalam kondisi-kondisi seperti itu, itu adalah kesempatan bagi kita mengeksekusi diri kita untuk menaruh percaya kepada DIA yang tidak kelihatan. Allah yang Mahaagung, Mahamulia, Mahabesar, sejatinya pantas mendapat kepercayaan dari kita walau DIA tidak kelihatan, walau kadang-kadang Dia seperti tidak ada, walau kadang-kadang DIA seperti bersembunyi.
Keempat, pada waktu Tuhan memerintahkan kita melakukan sesuatu yang sangat sulit, sesuatu yang berat, yaitu melepaskan segala sesuatu. Di sini kita mendapat contoh pada sosok pria yang mengagumkan yang bernama Abraham. Ia disebut bapa orang percaya, artinya bahwa kehidupan Abraham menjadi contoh, menjadi pola, menjadi inspirasi bagi semua orang percaya. Kalau orang percaya tidak memiliki kehidupan iman seperti yang telah dijalani oleh Abraham, maka ia belum bisa dikatakan percaya.

Saudaraku,
Percaya atau iman Abraham adalah tindakan dalam mematuhi, menuruti, memenuhi segala sesuatu yang dikehendaki Allah untuk dilakukan. Apakah kita mengasihi Tuhan Yesus? Kalau kita mengasihi Tuhan Yesus, maka kita harus melakukan kehendak-Nya dan mengerjakan apa yang Tuhan Yesus kerjakan. Ketaatan itu bukan sesuatu yang mudah Saudara; ketaatan total, ketaatan yang benar pasti pada mulanya menyakitkan dan melukai. Saya bisa mengerti mengapa banyak orang tidak all out, karena mereka tidak mencium keharuman Injil, maka mereka tidak berani menyerahkan segala sesuatu. Saya tahu sakitnya meninggalkan keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup.

Meninggalkan segala sesuatu dimulai dari keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup, hal itu cukup menyakitkan. Kita melepaskan dan tidak menyentuh lagi yang sama dengan tidak menoleh ke belakang. Jadi keselamatan yang Tuhan sediakan tidak akan atau belum terwujud sempurna tanpa kehilangan segala sesuatu, harus ada yang merasa kehilangan. Dari rasa kehilangan segala sesuatu itu, maka barulah dapat menciptakan perasaan pengembara di bumi.

Saudaraku,
Meninjau sejarah hidup Abraham, akhirnya bagi Abraham hal menjadi musafir itu menjadi irama hidupnya, sampai dia tidak bisa dipisahkan dari dunianya, dia tidak pernah mau kembali ke Ur-Kasdim walaupun menghadapi kelaparan hebat, dia memenuhi sosok sebagai bapa orang percaya. Hal ini juga harus terjadi dalam hidup kita, harus meninggalkan dunia ini, sampai maksud Allah menjadikan kita orang percaya yang benar terpenuhi. Sebab percaya itu berarti: Pertama, melakukan apa pun yang dikehendaki oleh Allah. Dan jika itu kita lakukan, kita tidak bisa menoleh ke belakang. Kedua, menghayati kemusafiran.

Puncak dari ujian Abraham adalah ketika ia harus mempersembahkan anaknya Ishak, Abraham dapat melakukannya dengan baik pula. Ternyata Abraham dapat menjadi gambaran dari Elohim Yahwe sendiri. Elohim Yahwe, Bapa mempersembahkan Putra Tunggal-Nya. Dari kisah tersebut kita menemukan, bukan hanya Abraham yang hebat, Ishak pun juga hebat. Demikian juga dengan fakta Bapa mengutus Putra Tunggal-Nya, bukan hanya Bapa yang luar biasa, Putra Tunggal-Nya pun luar biasa. Mulai sekarang kiranya doa kita berbunyi: “Tuhan tolonglah agar aku bisa memberikan Ishak dalam hidupku; apa yang Engkau inginkan, apa yang Engkau kehendaki kuserahkan kepada-Mu”.

Teriring salam dan doa,
Erastus Sabdono