SURAT GEMBALA Surat Gembala
Dua Titik Balik
13 October 2019

Saudaraku,

Sebenarnya ada dua jenis titik tidak balik dalam perjalanan hidup orang percaya; pertama, ketika seseorang mencapai kesucian. Inilah sebenarnya kesucian yang sesungguhnya. Suci itu bukan berarti tidak berbuat dosa, melainkan tidak bisa berbuat dosa. Kesucian itu harus permanen. Kedua, orang yang mengalami titik tidak balik ketika ia melekat dengan dunia. Ini bukan hanya terjadi kepada mereka yang ada di luar gereja, tapi tidak sedikit orang Kristen yang masih ke gereja, aktivis gereja yang membantu pelayanan dan jangan-jangan pendeta juga begitu. Sekarang Saudara ada di titik tidak balik ketika merapat ke Tuhan atau di titik tidak balik ketika merapat ke dunia? Kita harus serius memperkarakan hal ini. Kalau saya mulai mengingini sesuatu dan itu bukan Tuhan, dimana saya berharap dengan sesuatu itu saya merasa lengkap, utuh, bahagia, terjamin, aman, berarti saya berkhianat kepada Tuhan.

Hidup ini tragis. Dan kalau jujur dari sekian banyak orang, apakah ada yang semua berjalan tanpa hambatan? Baik dalam bidang ekonomi, kesehatan, anak, keluarga, dlsb. Tidak, pasti ada cacatnya. Dan Tuhan itu luar biasa baiknya membuat situasi seperti itu. Karena Allah yang benar tidak akan membahagiakan kita dengan berkat jasmani. Allah yang benar membahagiakan kita dengan diri-Nya. Jadi kalau kita sering melihat orang-orang Kristen yang bersyukur karena semua berjalan tanpa hambatan, Tuhan seakan-akan diam. Tapi saya mau beritahu, mestinya Saudara tidak bahagia walaupun Saudara punya keadaan baik, karena kebahagiaan kita harus hanya dalam Tuhan dan Kerajaan-Nya.

Saudaraku,

Masalahnya, kita telah memahami realitas secara keliru, yaitu segala sesuatu yang bisa kita lihat, kita sentuh, rasakan, penilaian orang terhadap kita, sanjungan orang. Dan semua ini menyangkut 3 hal, yaitu: keinginan daging, keinginan mata, keangkuhan hidup. Keinginan daging itu kuliner dan seks; keinginan mata itu benda-benda, barang-barang; keangkuhan hidup itu nilai diri, harga diri, sanjungan, pujian. Dan kita dari kecil memang biasa membangun diri dengan pola seperti itu. Itulah yang kita pandang sebagai realitas. Dan banyak orang mengisi hari hidupnya hanya untuk mengejar itu.

Sejatinya, hanya satu realitas, yaitu Tuhan dan Kerajaan-Nya. Jangan merasa gagal kalau Saudara bukan orang kaya secara materi, tidak berpendidikan tinggi, mungkin juga gagal berumah tangga. Kegagalan yang sesungguhnya adalah kalau kita tidak menjadi kekasih Tuhan. Kita harus haus kepada Tuhan. Orang yang sungguh-sungguh haus akan Tuhan hidupnya pasti tidak bercacat tidak bercela, dunia tidak lagi menarik di matanya.

Sejujurnya, untuk menyelenggarakan hidup kita membutuhkan fasilitas, maka kita harus bekerja keras, maksimalkan potensi, tapi hati kita tidak terikat. Agar kita bisa merawat orang tua kita, mandiri, tidak menjadi beban bagi orang lain, bisa menolong keluarga besar, menjadi berkat bagi masyarakat, dan turut serta untuk memikul beban pekerjaan Tuhan. Kita memang harus sibuk; studi, karir, tidak bisa tidak sibuk. Orang yang malas itu hampir bisa dipastikan masuk neraka, karena orang malas pasti tidak bertanggung jawab. Orang yang tidak bertanggung jawab tidak mungkin hidupnya benar. Harus kerja keras, harus sibuk. Tapi kita harus sadar bahwa di tengah-tengah kesibukan dalam segala hal yang kita kerjakan dan alami, Allah mendidik kita. Dia memperhatikan Saudara.

Saudara berharga di mata Tuhan. Kalau sampai Allah Bapa memberikan Putra Tunggal kesayangan-Nya, Saudara semua itu istimewa. Jangan merasa Saudara warga kelas dua. Anda warga kelas satu, istimewa. Setiap Saudara itu dibidik Tuhan untuk menjadi luar biasa di mata Allah. Setiap Saudara memiliki kurikulum; Allah mendesain peristiwa-peristiwa yang dapat mengubah kita. Tapi kalau hati kita tertarik dengan dunia, tidak bisa.

Semua kita harus berprestasi, karena itu wujud pengabdian kita kepada Tuhan. Pengabdian kepada Tuhan bukan hanya di gereja, justru di karir, pekerjaan, di situlah Saudara mengabdi kepada-Nya. Pengusaha-pengusaha, itulah tempat pelayananmu. Praktisi hukum, itu orang-orang yang melayani Tuhan. Politisi, Tuhan taruh di situ. Di situlah pelayanan. Tidak kurang rohani dari pendeta. Yang penting adalah motivasi terdalam melakukan pekerjaan itu. Ibu-ibu rumah tangga mengurus anak-anak, karena anak-anak akan jadi orang-orang besar, itu pelayanan. Di situlah kita memerankan panggilan kita.

Saudaraku,

Di dalam kesibukan, di tengah-tengah panggilan hidup kita, tangkaplah lawatan Tuhan yang mengubah Saudara. Sering di gereja saja kita merasa ada lawatan Tuhan. Kemenangan bukan hanya di gereja. Kemenangan itu adalah ketika Saudara punya kesempatan untuk mencuri, tapi tidak mencuri. Kesempatan untuk menyakiti orang, tapi tidak menyakiti orang. Ketika Saudara dilukai, tidak membalas. Itu kemenangan.

Kalau Saudara masih mencintai dunia, Saudara tidak bisa berjalan dengan Tuhan. Tapi perubahan tidak bisa terjadi kalau kita terikat dengan dunia. Ini masalahnya: merubah cita rasa jiwa tidak mudah. Lidah ini kita ubah, “aku memilih untuk taat. Aku memilih hidup suci. Aku mau tinggalkan kesenangan dunia”. Kita jadi seperti orang ‘sakau’, mau balik tapi tidak boleh menoleh ke belakang. Kita pasti punya keinginan, tapi keinginan tersebut harus diperkarakan dengan Tuhan. Ini baik atau tidak untuk kita. Yang belum menikah, boleh perkarakan; kapan dan dengan siapa. Bukan tidak boleh menikah. Boleh, kalau memang Tuhan suruh menikah. Ini kebenaran. Memang tidak bisa dilakukan dalam satu hari atau satu bulan, bahkan tahun. Tapi yang penting Saudara punya komitmen, punya tekad dulu. Saya ingin kita semua nanti pulang ke surga bersama. Mari kita berubah. Tuhan tidak akan permalukan kita.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono