SURAT GEMBALA Surat Gembala
Cita Rasa Rohani
16 June 2019

Saudaraku,
Dari apa yang ditulis oleh Yohanes dalam suratnya di 1 Yohanes 2:15-17, kita dapat menemukan satu kebenaran bahwa di dalam hidup kita ini ada tiga area yang kita harus mengerti dan di dalam tiga area tersebut kita menemukan cita rasa-Nya. Namun kebenaran Firman Tuhan itu tidak akan dapat dimengerti secara lengkap atau utuh oleh orang-orang yang masih memberi bagian hatinya bagi dunia. Dan sebaliknya, kebenaran Firman Tuhan hanya bisa dimengerti secara utuh dan lengkap oleh mereka yang rela kehilangan nyawa. Nyawa di sini maksudnya segala kesenangan hidup di bumi ini.

Tetapi ketika kita rela kehilangan kesenangan dunia ini, ayat ini menjadi begitu hidup dan
begitu ekslusif untuk kita. Jadi Saudara harus memilih: memiliki kasih akan Bapa atau tidak.
Dan seperti yang kita tahu bahwa terang tidak bisa bercampur dengan gelap. Kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Sebab semua yang ada dalam dunia ini, yaitu keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.
Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya. Tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

Adapun 3 wilayah cita rasa di dalam hidup kita adalah:
Pertama, fisik. Fisik ini menyangkut keinginan daging, makan, minum, seks.
Kedua, jiwa. Ini keinginan mata. Keinginan untuk memiliki fasilitas yang dapat menyenangkan atau menggembirakan hati, seperti mobil, rumah, perhiasan, barang branded, baju modis dan lain sebagainya. Secara ukuran dunia, ini hal yang normal, tetapi Alkitab mengatakan itu keinginan mata.
Ketiga, keangkuhan hidup. Hal ini tidak mudah dimiliki sebab hanya orang yang memiliki kekuatan -baik finansial, pangkat, kedudukan dan lain sebagainya- yang memiliki peluang untuk meraih kehormatan atau mengembangkan keangkuhan hidupnya. Tetapi pada dasarnya, semua orang berkehendak menjadi terhormat.
Hanya ada orang yang tidak memiliki kesempatan lalu ditindas, ditekan oleh keadaan. Sehingga tidak memiliki gairah keangkuhan. Namun demikian, di levelnya dia juga pasti akan mencari kehormatan. Levelnya satpam, levelnya kolonel, levelnya jenderal. itu beda. Hasrat untuk menjadi terhormat ini adalah hasrat Lusifer yang membuat dirinya diposisikan diri sebagai pemberontak.

Saudaraku,
Pada umumnya semua manusia telah jatuh dalam keadaan kecanduan di ketiga area tersebut. Itu akan jadi ikatan. Kalau sampai pada tingkat “aku adalah tuhan bagi diriku dan tuhan bagi orang lain,” itu sudah sulit untuk diperbaiki. Sulit, tapi bukan tidak mungkin. Masalahnya adalah banyak orang terbelenggu sampai pada taraf tidak dapat melepaskan diri lagi. Maka kalau orang tidak mulai sejak dini menemukan Tuhan, ia akan semakin terbelenggu dengan ikatan tersebut dan tidak pernah bisa lepas lagi. Jadi ketika pembaharuan atau pemulihan kita alami, kebenaran membongkar keadaan batiniah kita. Dan ini kita mulai dari hal yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Jaga mulut kita, jaga mata kita, jaga pikiran dan hati kita.

Perlu kita pahami bahwa ketika kita mematikan keinginan daging, tujuannya bukan sekadar nafsu itu dimatikan, namun nafsu diarahkan. Makan minum seks itu tidak salah, asal ditempatkan pada proporsinya. Keinginan itu tidak salah, asal keinginan kita itu menjadi bejana dimana Tuhan menaruh keinginan-Nya. Mari kita jujur bahwa masih ada candu kita di situ. Maka kita butuh perlindungan Tuhan. Kalau aku dilukai oleh orang kuat, itu lebih mudah untuk berkata: “Lindungi aku ya Tuhan dari orang kuat ini.” Tapi kalau kita dimusuhi orang-orang yang bisa kita bunuh, bisa kita balas dendam itu lebih berat. Karenanya kita harus berdoa mohon perlindungan dari diri kita sendiri. Tuhan Yesus mati di kayu salib bukan hanya membebaskan kita dari Iblis, tapi Tuhan juga mendidik kita supaya kita dapat bebas dari diri kita sendiri.

Saudaraku,
Banyak orang menganggap remeh hal ini, banyak orang merasa hidup dalam kewajaran. Saya ingatkan, kalau Anda tidak jujur dengan diri Anda sendiri dan tidak bergulat berubah, maka sampai Anda mati, Anda tidak akan pernah berubah. Jangan main-main. Kalau orang Israel tidak punya beban begini. Jiwanya harus dikendalikan dengan dekalog. Kita tidak punya dekalog, tapi kita punya Tuhan, sebab The Lord is my law.

Kita yang menerima keselamatan -yang dirancang untuk dikembalikan ke rancangan semula- kita tidak boleh menyamakan diri dengan bangsa Israel itu, kita berbeda. Kalau dalam runtutan sejarah, mereka memang yang memulai sejarah Kerajaan Allah itu, tetapi klimaksnya adalah kita, keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus. Ironi, jika dalam praktik kehidupan kita mengambil standar Israel jasmani. Ini sebuah peyesatan. Dan penyesatan pada dasarnya akan menutup semua peluang untuk memasuki proses menjadi manusia Allah atau dikembalikannya manusia ke rancangan semula. Tidak ada cara yang efektif bagi kuasa dunia untuk membatalkan proyek agung Tuhan selain membelenggu manusia dengan ikatan percintaan dunia di dalam cita rasanya. Jadi setelah kita menjadi Kristen, kita mesti merubah cita rasa. Kalau Tuhan berkata: “Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya,” bagaimana kita sebagai pengikut Tuhan Yesus memiliki cita rasa seperti itu? Kita masih punya nafsu-nafsu daging yang harus dimatikan. Sampai kita bukan tidak berbuat salah lagi, tapi kita tidak bisa berbuat salah lagi.

Teriring salam dan doa,
Erastus Sabdono