SURAT GEMBALA Surat Gembala
Berdiam Diri
27 November 2020

Saudaraku,

Pada umumnya kita memiliki sikap spontan terhadap suatu keadaan yang kita alami. Apakah itu pada waktu kita senang, atau sebaliknya pada waktu kita diperlakukan tidak adil, waktu kita ditindas, pada waktu kita dirugikan, waktu kita disakiti, difitnah, di-bully, waktu mendapat perlakuan menyakitkan—otomatis ada reaksi dari kita dalam bentuk tindakan dan ucapan. Kalaupun tidak dalam bentuk sikap dan ucapan yang kelihatan, tetapi tetap ada reaksi, dan reaksi itu sering dari diri kita sendiri yang memiliki kecerdikan atau kelicikan dalam menghadapi suatu masalah atau keadaan; yaitu sikap batin.

Hal ini sudah biasa menjadi irama hidup atau kebiasaan yang otomatis muncul pada waktu kita harus bersikap terhadap suatu keadaan. Hari ini kita mau belajar yang namanya “berdiam diri.” Ini bukan sedang bicara berdiam diri di hadapan Tuhan, melainkan berdiam diri terhadap suatu keadaan atau masalah. Berdiam diri artinya tidak melakukan reaksi apa pun selain yang ditunjukkan atau diajarkan Tuhan kepada kita untuk kita lakukan. Jadi, berdiam diri di sini bukan berarti tidak bereaksi sama sekali (pasif), tetapi kita bereaksi bukan dari hikmat atau kecerdasan kita, melainkan reaksi apa pun yang kita lakukan itu adalah reaksi yang Allah tunjukkan atau Tuhan ajarkan kepada kita untuk kita lakukan (aktif).

Mengapa orang sering tidak bisa diam? Karena dia ingin mendapatkan jalan keluar atau penyelesaian sesuai dengan skenarionya. Bagaimana kita dapat “berdiam diri” sementara kita diperlakukan tidak adil dan kita punyakesempatan untuk membalasnya? Ini yang harus kita lakukan:

Pertama, kita harus menyadari bahwa hidup kita adalah milik Tuhan dan kita tidak berhak bereaksi atas kebijakan, pikiran, maupun mau kita sendiri. Sikap dan ucapan kita sering merupakan usaha kita untuk membalas kejahatan dengan kejahatan; yang kalau kita jujur, ini adalah usaha untuk membela harga diri, atau menyelamatkan keadaan kita. Namun firman Tuhan dalam Roma 12:19 mengingatkan kita: Jangan mengambil hak Tuhan. Hidup kita milik Tuhan, harus benar-benar minta petunjuk Tuhan dalam melakukan suatu reaksi terhadap aksi.

Masalahnya, kita terbiasa merasa memiliki diri sendiri, dia merasa bukan milik siapa-siapa, bahkan Tuhan pun rasanya tidak berhak atas dirinya; maka pada waktu kita mendapatkan suatu perlakuan atau menghadapi suatu keadaan, langsung kita bereaksi sesuai dengan apa yang kita pandang baik, menyenangkan, atau menguntungkan. Bereaksi dengan suatu pemahaman bahwa kita memiliki hak untuk bertindak demikian.

Kedua, kita percaya bahwa Allah bekerja dalam segala hal, sehingga tidak ada satu pun kejadian yang di dalamnya Allah tidak turut bekerja (Rm 8:28-29). Hal ini berarti dalam segala perkara pasti ada berkat Tuhan. Tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Memang, yang bikin kita marah dan tidak sabar adalah karena masalahnya atau situasinya begitu-begitu saja, seakan-akan memang tidak akan pernah bisa berubah. Lalu kita mulai melakukan aksi dan reaksi dari diri sendiri. Jangan kita melakukan kesalahan itu.

Ketiga, menyadari bahwa Allah ada di mana-mana. Jadi Saudara yang sedang diperlakukan tidak adil, yang sekarang sedang mendapat tekanan dari orang-orang tertentu, ingat satu hal: Tuhan tidak diam. Jika Saudara sungguh mengakui dan percaya ada Allah yang hidup, mari kita memberi ruangan kepada Allah untuk bertindak; yaitu dengan cara melepaskan hak kita untuk membalas kejahatan dengan kejahatan.

Sejatinya, lewat keadaan yang sulit, kita memang dibuat Tuhan tidak berdaya karena Tuhan mau mengajar kita untuk memiliki kesabaran. Lalu belajar untuk mengandalkan Tuhan supaya kita bisa mengalami Tuhan, yang semua itu pasti akan menghasilkan wajah baru, kecantikan rohani.

Orang yang tidak belajar berdiam diri, biasanya menjadi ceroboh dan cenderung melukai orang. Sebab, ketika dia bereaksi, dia tidak peduli apa akibat reaksinya. Yang penting hatinya puas, harga dirinya tidak jatuh, dia tidak terlukai atau memindahkan lukanya kepada orang lain. Tentu saja orang-orang seperti ini tidak bisa bertumbuh seperti Yesus. Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini sesungguhnya memuat berkat kekal yang dapat kita petik untuk kehidupan kekal nanti.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono