SURAT GEMBALA Surat Gembala
Berdamai Dengan Diri Sendiri
01 September 2019

Saudaraku,

Kita harus merenungkan bahwa di jagat raya ini tidak ada dua orang yang sama, apalagi tiga, apalagi empat. Setiap individu memiliki keberadaan yang benar-benar unik dan sangat istimewa, karena tidak ada duanya. Kalau hal ini kita mengerti dan kita benar-benar menghayatinya, maka akan membangkitkan kekaguman kita terhadap tangan Sang Khalik yang hebat. Jadi tidak mungkin tidak ada Tuhan. Di dalam kebijaksanaan-Nya dan kemampuan-Nya membuat variasi dari keberadaan masing-masing individu, menunjukkan kecerdasan dan kebijaksanaan-Nya. Masing-masing kita ini benar-benar unik, istimewa, dan tidak ada duanya. Dengan mengerti hal ini, maka kita tidak akan membandingkan diri kita dengan orang lain. Sebab setiap kita tidak ada bandingannya. Siapa pun orang lain itu, kita tidak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain, apalagi kemudian meniru orang lain.

Orang yang berusaha membandingkan dirinya dengan orang lain adalah orang yang tidak mengerti dan tidak menerima kebesaran serta keagungan Allah yang menciptakan setiap kita dengan keunikan dan keistimewaan masing-masing. Perhatikan bagaimana orang berusaha untuk selalu memakai barang yang up to date, yang dasarnya adalah ingin menjadi seseorang, someone yang lebih dari orang lain dan dia bisa membanggakan diri. Padahal tanpa baju, barang branded, tanpa sesuatu yang bersifat materi, keadaanya sendiri sudah unik. Baik keadaan jasmani lahiriah maupun batinnya sudah unik. Dan di situ dia memuat rancangan Allah yang harus dipenuhi. Jadi bukan hanya mereka yang memiliki kelebihan yang harus memikirkan hal ini, tapi siapa pun kita dengan keadaan unik dan istimewa itu harus menyadari bahwa kita memikul, menanggung tanggung jawab yang harus kita penuhi.

Saudaraku,

Jadi kalau kita mengerti bahwa masing-masing kita ini istimewa, unik, kita tidak akan membandingkan diri kita dengan orang lain untuk menjadi sombong atau merendahkan atau menghina orang lain, sebab Tuhan memberikan kepada kita masing-masing porsi yang benar-benar sempurna menurut pertimbangan dan kebijaksanaan-Nya. Sebaliknya, Saudara yang di mata manusia tidak memiliki nilai lebih karena dunia memiliki ukuran bahwa yang cantik itu begini, yang menarik itu begitu– kalaupun Anda tidak memiliki seperti yang distandarkan oleh manusia atau standarisasi yang dibuat manusia, Anda tidak menjadi minder dan rendah diri. Rendah hati harus, rendah diri tidak boleh. Karena rendah diri ini bentuk kesombongan dengan cara lain.

Karena ukuran atau standarisasi yang dikenakan oleh manusia pada umumnya salah, maka banyak orang (di satu pihak) menjadi sombong dan merendahkan orang lain, (di pihak lain) ada orang-orang yang minder dan rendah diri, mencoba untuk menggeliat berusaha untuk mencapai apa yang orang lain capai.

Karena masing-masing kita memiliki keadaan yang unik, maka kita harus membawa keadaan diri kita kepada Tuhan untuk memperkarakan: dengan manusia model ini apa yang Kau kehendaki harus kulakukan, Tuhan? Dengan keadaan seperti ini, sebenarnya apa rancangan-Mu dalam hidupku? Mungkin kita pernah mengambil keputusan yang salah. Banyak dosa yang telah kita lakukan, banyak tindakan yang benar-benar keliru telah kita ambil, tapi dengan keadaan sekarang seperti ini, Sang Penjunan bisa mengubah kita. Dia masih bisa memberi kesempatan tanah liat yang hancur, remuk ini bisa menjadi bejana yang indah. Oleh sebab itu kita tidak memiliki pilihan lain. Kita harus menjadikan Tuhan dan Kerajaan-Nya sebagai satu-satunya tujuan hidup kita.

Saudaraku,

Kita menggumuli hal ini saja masih terseok-seok. Bagaimana kita mau melihat orang lain dan meniru orang lain secara keliru? Jangan berkata “mengapa aku dilahirkan dari keluarga miskin? Mengapa aku punya orang tua begitu galak dan memaksa aku menikah dengan pria itu?” dst. Hari ini, kalau kita berkeadaan seperti ini, maka: Pertama, kita menerima seluruh rangkaian yang ditetapkan Tuhan, yang itu merupakan hak prerogatif Tuhan (hak bebas Tuhan). Kedua, terima dulu keadaan kita, walaupun ini adalah tuaian dari keputusan kita yang salah di masa lalu.

Jangan sombong, siapa pun kita, sehebat apa pun kita, bahkan dalam lingkungan pelayanan (apabila kita seorang pendeta yang dikenal mengadakan mukjizat, terhormat, atau siapa pun) itu tidak memberi nilai di hadapan Tuhan. Yang memberi nilai adalah ketika kita mati dalam keadaan orisinal, sesuai rancangan Allah semula, yaitu berkepribadian seperti Yesus. Kita telah meleset jauh. Jadi kalau kita masih berkesempatan balik, berkesempatan pulang, mari kita pulang. Mari kita mengisi hari hidup kita untuk diubah Tuhan.

Kita harus berdamai dengan diri sendiri, artinya kita tidak menuntut apa yang bukan bagian kita. Kita bersyukur jadi orang Ambon, orang Tionghoa, orang Jawa, bersyukur dengan hidung mancung, hidung pesek, kita bersyukur dengan badan tinggi, pendek. Kita berterima kasih dengan seluruh keberadaan kita ini. Bahkan mungkin Saudara sudah melewati tahapan-tahapan perubahan yang tidak menguntungkan atau yang rusak, tetapi keadaan ini juga kita syukuri, karena Allah bisa merubah. Ia adalah Arsitek Agung, luar biasa. Serusak apa pun kita, Tuhan sanggup rubah kita.

Tetapi portal pertama harus dihadapi: berdamailah dengan dirimu. Jangan meratapi dan menyesali apa yang sudah terjadi, tapi syukuri walaupun keadaan itu kita lihat buruk. Selagi kita masih bisa memiliki jantung yang berdetak, nadi yang berdenyut, dan menginjakkan kaki di bumi ini, ini kesempatan kita untuk bisa berdamai dengan Allah, berdamai dengan Bapa di surga. Kesempatan untuk diubahkan.

 

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono