SURAT GEMBALA Surat Gembala
Bagi Allah, Tidak Ada Yang Mustahil
04 August 2019

Saudara-saudaraku,
Semakin kita menemukan kebenaran Injil, semakin kita menemukan betapa mahal harga pengiringan kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Bahkan tidak berlebihan kalau dikatakan mustahil bagi manusia. Standar yang dikenakan untuk orang-orang yang disebut sebagai umat pilihan adalah seperti Yesus atau serupa dengan Yesus. Standar yang tidak bisa dikurangi, tidak bisa direduksi. Dan ini mustahil.
Seperti percakapan orang muda kaya -yang menurut para penafsir adalah pemimpin rumah ibadah- “Tuhan apa yang harus kulakukan supaya aku beroleh hidup yang kekal (=hidup yang lebih berkualitas dari hidup keberagamaan)?” Tuhan Yesus tidak memberikan standar muluk-muluk. Sesuai dengan pengertian orang tersebut, Tuhan menunjukkan standar orang beragama. Lakukan hukum. Hormati orang tuamu, jangan berzina, jangan membunuh dan seterusnya. Orang ini berkata: “Semua sudah kulakukan sejak masa mudaku.” Jadi bisa dimengerti yang kalau ditinjau dari Taurat, ia tidak terverifikasi melakukan pelanggaran.

Kalau standar keberagamaan, Saudaraku, dimungkinkan manusia tanpa Roh Kudus mencapainya. Jadi jangan Saudara berpikir hanya orang yang beragama yang bisa bermoral baik. Orang tidak beragama pun bisa bermoral baik. Menghormati orang tua, tidak berzina, tidak membunuh, tidak mencuri. Sesuai dengan standar etika yang mereka miliki. Dan sesuai dengan Alkitab bahwa memang Tuhan menulis Taurat-Nya di dalam hati manusia, hukum-Nya di hati manusia.
Tapi kalau kamu ingin yang lebih dari itu, itu mustahil. “Jual segala milikmu, bagikan kepada orang miskin, datang kemari, ikutlah Aku.” Ini tidak bisa dilakukan dengan mudah. Jual segala milikmu, bagikan kepada orang miskin, masih bisa. Jangan saudara pikir gak bisa. Ada orang yang meninggalkan kesenangan dunia, lalu hidup membiara, mereka bisa menjual segala milik dan membagikannya kepada orang lain.

Tapi “mengikut Aku” ini masalah. Mengikut Aku berarti menguikut jejak-Ku. Hidup seperti Aku hidup. Itulah sebabnya kemudian Tuhan berkata: “Lebih mudah seekor unta masuk ke Lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam surga.” Dan murid-murid-Nya menjadi gempar dan berkata satu dengan yang lain: “Jika demikian, siapa yang bisa diselamatkan?” Ini bicara soal keselamatan. Keselamatan itu adalah hidup yang berkualitas tinggi. Lalu Tuhan berkata: “Bagi manusia mustahil, bagi Allah tidak ada yang mustahil.”

Saudaraku,
Kenapa tidak ada yang mustahil bagi Allah? Karena Allah melengkapi manusia dengan kuasa. Seperti yang dikatakan dalam Yohanes 1:11-12. Kuasa supaya menjadi anak-anak Allah. Jadi ini anugerah yang luar biasa. Potensi yang tidak diberikan kepada semua orang. Potensi yang hanya disediakan bagi umat pilihan. Jadi bisa dimengerti kalau mau masuk wilayah ini, kita harus melepaskan segala sesuatu. Kita harus meninggalkan segala sesuatu, supaya yang mustahil ini, menjadi tidak mustahil.

Potensi itu luar biasa. Tapi potensi itu bisa bekerja powerful atas orang-orang yang mengosongkan hatinya dari percintaan dunia. Kita tidak bisa menawar, mengurangi, atau mereduksi. Dan kalau kita jujur melihat hidup kita hari ini, kita belum seperti Yesus. Dan saya mengajak kita memiliki perasaan krisis, kita belum menjadi seperti yang Allah kehendaki atau Bapa kehendaki. Inilah Kekristenan. “Seperti Kristus”. Dan kita tidak bisa menghindari.

Ketika Tuhan Yesus menebus kita, kita tidak berhak atas hidup kita karena hidup kita sudah ditebus. Orang yang memberi diri ditebus adalah orang yang berani mengatakan “everything I have belongs to God”, semua yang aku miliki adalah milik Tuhan. Jika kita mengaitkan dengan mekanisme penebusan seorang budak pada zaman itu, budak yang ditebus itu budak yang telah dibeli semua harkat, martabat, dan seluruh kepemilikannya.

Saudaraku,
Jadi tidak heran kalau dalam 1 Korintus 6:19-20 firman Tuhan mengatakan “kamu bukan milik kamu sendiri.” Kamu telah kehilangan seluruh hakmu, kamu tidak punya hak lagi sebab Majikan yang telah membeli kamu telah mengambil alih seluruh hakmu. Atau kamu tidak mau ditebus? Lalu, kamu punya hak mengatur dirimu sendiri dari hal kecil sampai hal besar, bebas berbicara atau melakukan apa pun, silakan. Berarti kamu ditolak untuk ditebus.

Kalau kamu ditebus, kamu tidak memiliki hak sama sekali atas dirimu. Tuhan yang memiliki hak sepenuhnya atas kita, dan kalau Tuhan yang memiliki hak sepenuhnya atas kita, implikasi/ konsekuensi/ akibatnya adalah Ia mengambil alih hidup kita. Makanya cara berpikir kita yang lebih dulu diubah, supaya tubuh kita ini benar-benar menjadi peraga Tuhan.

Maka “hidup untuk Allah” itu berarti setiap langkah, segala hal, setiap detik tidak boleh ada yang meleset. Mustahil, bukan? Mustahil. Tapi Roh Kudus akan memampukan kita untuk itu. Dan proses untuk bisa mencapai tingkat hidup seperti itu kita harus konsentrasi, fokus melepaskan sesuatu. Yang mustahil menjadi tidak mustahil, karena Tuhan memberikan kita kelengkapan untuk itu. Tapi bagaimana kelengkapan itu bisa berlangsung mekanismenya dengan baik? Yaitu kalau kita mau melepaskan segala ikatan percintaan dunia.

Teriring salam dan doa,
Erastus Sabdono